Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Ilmuwan dalam Pusaran Dakwah : Menjadikan Dakwah sebagai Poros Kehidupan.

    Mei 21 2025136 Dilihat

    Ilmuwan dalam Pusaran Dakwah: Menjadikan Dakwah sebagai Poros Kehidupan.

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
    (QS. Fathir: 28)

    Pendahuluan: Ketika Ilmu Menyatu dengan Wahyu

    Ilmu dan dakwah, dalam khazanah Islam, bukan dua dunia yang terpisah. Sejak awal peradaban Islam, kita menyaksikan para ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, dan Al-Ghazali bukan hanya pakar di bidangnya, tetapi juga pendakwah nilai-nilai kebenaran. Ilmu mereka tidak berhenti pada teori atau laboratorium; ia mengalir menjadi energi perubahan sosial, spiritual, dan peradaban.

    Namun, dalam dunia modern, terjadi pemisahan antara keilmuan dan spiritualitas. Ilmu menjadi steril dari nilai, dan dakwah seringkali terkurung dalam simbolisme sempit. Di sinilah ilmuwan memiliki nilai strategis dalam pusaran dakwah — membawa keilmuan yang mencerahkan, menyatu dengan misi ilahiyah.

    Ilmuwan: Pewaris Para Nabi di Era Teknologi

    Ilmuwan sejati bukan hanya pencari data, tetapi pencari makna. Dalam Islam, ulama disebut sebagai waratsatul anbiya — pewaris para nabi. Ini berarti mereka memikul misi profetik: membebaskan manusia dari kejahilan, menyelamatkan dari kerusakan, dan menuntun pada cahaya kebenaran.

    Namun di era disrupsi digital, ilmuwan menghadapi tantangan baru: banjir informasi palsu, manipulasi data, teknologi yang disalahgunakan, hingga ideologi sekuler yang mengebiri makna hidup. Dalam pusaran inilah, peran dakwah menjadi penting: mengarahkan ilmu untuk kemaslahatan, bukan sekadar keuntungan dunia.

    Menjadikan Dakwah sebagai Poros Kehidupan Ilmuwan

    Apa jadinya jika seorang ilmuwan menjadikan dakwah sebagai pusat orbit hidupnya?

    1. Penelitian menjadi ibadah. Ia meneliti bukan untuk prestise atau dana hibah, tapi untuk menjawab kebutuhan umat.
    2. Publikasi menjadi syiar. Tulisan dan temuannya diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai Islam dan keadilan.
    3. Pengajaran menjadi pembinaan. Kelas bukan hanya ruang transfer ilmu, tapi juga medan penanaman akhlak dan tauhid.
    4. Kehidupan pribadi menjadi keteladanan. Ilmuwan dakwah menjaga integritas moral di tengah badai materialisme.

    Ilmuwan seperti ini tidak terjebak dalam dualisme akademik vs. agama. Ia hidup dalam satu visi: hidup adalah dakwah, dan dakwah adalah jalan hidup.

    Ilmuwan sebagai Agen Transformasi Umat
    Mengapa umat membutuhkan ilmuwan yang berdakwah?

    Karena dakwah hari ini tidak cukup dengan retorika. Umat butuh narasi yang terstruktur, data yang valid, solusi yang ilmiah, dan kejujuran intelektual. Di sinilah ilmuwan memiliki senjata yang tak tergantikan:

    Peran Strategis Dampaknya dalam Dakwah
    Pemikir Analitis Mendeteksi masalah sosial secara sistematis dan menawarkan solusi
    Pengembang Teknologi Membuat platform dakwah digital berbasis AI dan data science
    Peneliti Sosial Membangun strategi pemberdayaan umat yang berbasis data
    Pendidik Menanamkan nilai Islam secara ilmiah dan menyentuh logika anak muda
    Komunikator Publik Menjadi influencer intelektual yang menghadirkan narasi kebaikan

    Tantangan yang Harus Dihadapi Ilmuwan-Da’i

    Perjuangan ilmuwan dakwah tidak mudah. Mereka akan menghadapi tantangan, antara lain:

    • Sistem akademik sekuler yang memisahkan nilai dari riset
    • Stigma masyarakat yang menganggap dakwah bukan bagian dari ilmiah
    • Godaan dunia seperti jabatan, kekuasaan, dan ketenaran
    • Tekanan global seperti ideologi liberal, hedonisme, dan relativisme moral
    Namun seperti yang dikatakan Sayyid Qutb:
    “Perjuangan itu lebih mulia daripada kemenangan.”

    Ilmuwan dakwah adalah mereka yang tetap berdiri, berpikir, dan bergerak — meski di tengah badai.

    Inspirasi dari Sejarah: Ketika Ulama dan Ilmuwan Menyatu.

    Lihatlah Imam Al-Ghazali. Ia adalah filsuf, teolog, dan ahli tasawuf. Tapi lebih dari itu, ia adalah juru dakwah peradaban. Karya-karyanya seperti Ihya Ulumuddin mengubah wajah keilmuan Islam, menyatukan rasionalitas dan spiritualitas.
    Atau Ibnu Khaldun, sosiolog pertama dunia. Ilmunya bukan sekadar akademik, tapi dakwah untuk membangun peradaban Islam yang adil dan maju.
    Hari ini, dunia menanti ilmuwan seperti mereka.

    Penutup: Dakwah adalah Nafas Ilmuwan Sejati.

    Ilmuwan yang menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan tidak akan pernah kering ide, tidak akan kehilangan arah, dan tidak akan tenggelam dalam dunia yang penuh tipuan. Ia hidup dalam kebermaknaan. Setiap goresan penanya, ketukan keyboardnya, dan detak jantungnya, semua berdenyut dalam irama dakwah.

    Maka, wahai para ilmuwan, jadilah obor yang menerangi zaman.
    Gunakan ilmumu untuk menuntun umat, bukan membingungkan.
    Jadikan dakwah sebagai arah, bukan selingan.
    Dan biarlah sejarah mencatat, bahwa di masa kelam umat, engkau adalah cahaya.

    Kutipan Penutup

    “Hidup bukan tentang berapa banyak gelar yang engkau sandang, tapi seberapa dalam ilmumu menjadikanmu bermanfaat bagi umat dan diridhai oleh-Nya.”

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    • Fiftina berkata:

      Ilmuwan seharusnya menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan, menjadikan ilmu sebagai jalan membangun umat, bukan sekadar untuk prestise atau kepentingan duniawi.

    • Tasya Aida Hafizah berkata:

      Artikel yg luar biasa

    • Fadillah nurul ikhsani berkata:

      artikel yang sangat bermanfaat pak

    • azka chusnayaina berkata:

      Artikel ini sangat menginspirasi karena menunjukkan bahwa menjadi ilmuwan tidak menghalangi seseorang untuk tetap aktif berdakwah. Justru, ilmu yang dimiliki menjadi sarana kuat untuk menyampaikan kebenaran dengan hikmah. Menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan artinya menempatkan semua aktivitas, termasuk akademik dan profesional, dalam bingkai pengabdian kepada Allah. Ini adalah pengingat bahwa dakwah bukan hanya tugas ustaz, tapi juga tanggung jawab setiap muslim yang berilmu dan berkesadaran.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top