Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Ilmu yang Barokah: Jalan Terang Menuju Dunia yang Bermakna dan Akhirat yang Mulia.

    Jun 02 2025144 Dilihat

    Ilmu yang Barokah: Jalan Terang Menuju Dunia yang Bermakna dan Akhirat yang Mulia.

    Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.

     

    Mukadimah

    Di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi, manusia semakin mudah mengakses ilmu pengetahuan. Namun pertanyaannya, apakah semua ilmu yang dipelajari hari ini mengandung keberkahan? Apakah ilmunya mendekatkan kepada Allah atau justru menjauhkan dari jalan-Nya? Apakah ilmunya menyuburkan amal atau sekadar mempertebal ego dan kesombongan?

     

    Islam sejak awal memuliakan ilmu. Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah SAW bukan tentang syariat ibadah, tapi perintah untuk membaca: “Iqra’!” (QS. Al-‘Alaq: 1). Ini adalah simbol bahwa ilmu adalah fondasi segala kebaikan. Tapi Islam juga menekankan bahwa tidak semua ilmu membawa manfaat, dan tidak semua ilmu itu barokah.

     

    Makna Ilmu yang Barokah.

    Secara bahasa, barakah berarti “bertambah dan terus menerus dalam kebaikan.” Dalam konteks ilmu, maka ilmu yang barokah adalah ilmu yang membawa kebaikan yang berkelanjutan, bukan hanya untuk pemiliknya, tapi juga bagi lingkungan dan masyarakat luas, bahkan sampai setelah ia meninggal dunia.

    Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi hujjah atas kehancuran pemiliknya di akhirat. Sebaliknya, ilmu yang diiringi dengan amal dan ketakwaan akan menjadi cahaya yang menuntun di dunia dan akhirat.

     

    Tanda-tanda Ilmu yang Barokah

    Berikut adalah tanda-tanda ilmu yang mengandung keberkahan:

     

    1. Mendekatkan Pemiliknya kepada Allah SWT

    Ilmu yang barokah tidak hanya memperluas wawasan, tapi juga memperdalam rasa takut dan cinta kepada Allah. Hatinya tunduk, lisannya dzikir, pikirannya jernih, dan langkahnya penuh kehati-hatian. Ia sadar bahwa semakin tahu, semakin besar tanggung jawabnya di hadapan Allah.

     

    1. Mendorong kepada Amal Saleh

    Ilmu yang sejati melahirkan tindakan nyata. Semakin dalam ilmunya, semakin banyak amalnya. Ia tidak menunda-nunda kebaikan. Ia tidak berhenti pada teori, tapi bergerak menebar manfaat. Ia tahu bahwa ilmu tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah.

     

    1. Membawa Ketenangan Batin

    Ilmu yang barokah menumbuhkan ketenangan, bukan kegelisahan. Ia menjauhkan pemiliknya dari syahwat dunia yang menipu, dan membimbing menuju kehidupan yang sederhana tapi bermakna. Sebab ia tahu bahwa hakikat kebahagiaan bukanlah pada banyaknya harta atau jabatan, melainkan pada kelapangan hati.

     

    1. Membuat Pemiliknya Rendah Hati

    Semakin berilmu, semakin merasa kecil di hadapan Allah dan di hadapan ilmu itu sendiri. Ia tidak merasa cukup, apalagi merasa lebih hebat dari orang lain. Ia berkata seperti ucapan para salaf:

    “Setiap kali aku membuka lembaran ilmu, aku sadar betapa sedikitnya yang aku ketahui.”

     

    1. Memberi Manfaat kepada Orang Lain

    Ilmu yang barokah tidak hanya berhenti pada diri sendiri. Ia dibagikan, disampaikan, diajarkan, dan diteladankan. Ia menjadi cahaya bagi sekitar. Seperti pelita yang membakar dirinya untuk menerangi yang lain.

     

    Bahaya Ilmu Tanpa Keberkahan

     

    Ilmu yang tidak disertai dengan keberkahan adalah ilmu yang menjadi bumerang. Ia bisa membutakan hati, melahirkan kesombongan, dan bahkan menjauhkan dari Allah. Rasulullah SAW pernah berdoa:

    > “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan.”

    (HR. Muslim)

     

    Ilmu seperti ini bisa saja menimbulkan kerusakan: dari debat kusir, merasa paling benar, sampai menggunakan pengetahuan untuk menipu dan memanipulasi orang lain. Inilah ilmu yang tidak barokah.

    Refleksi Diri: Sudahkah Ilmu Kita Barokah?

    Setiap muslim, apapun profesinya, harus bertanya pada diri sendiri:

    Ilmu yang aku miliki saat ini, apakah mendekatkan atau menjauhkan aku dari Allah? Apakah membuatku lebih bermanfaat atau malah menjerumuskan?

     

    Ilmu barokah bukan monopoli ulama atau akademisi. Seorang petani yang tahu bagaimana cara bertani halal, tidak menipu timbangan, dan meniatkan hasilnya untuk menafkahi keluarga dalam rangka taat kepada Allah — maka itu adalah ilmu yang barokah. Sebaliknya, seorang profesor yang ilmunya digunakan untuk membenarkan kebatilan, maka ilmunya hanya akan menambah siksa di akhirat kelak.

     

    Menjadi Pewaris Ilmu Para Nabi

     

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham. Mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat besar.”

    (HR. Abu Dawud)

     

    Warisan ini bukan sekadar pengetahuan. Tapi warisan nilai, akhlak, kebijaksanaan, dan visi hidup yang benar. Mari kita menjadi bagian dari pewaris itu — dengan niat yang ikhlas, amal yang nyata, dan keinginan tulus untuk memberi manfaat kepada umat.

     

    Penutup: Doa dan Harapan

     

    Di tengah krisis moral dan kebingungan arah hidup, umat sangat membutuhkan ilmu yang barokah. Ilmu yang menyejukkan, membangkitkan semangat ibadah, dan membentuk peradaban yang berakhlak.

     

    Mari kita berdoa:

    > “Allahumma infa’naa bimaa ‘allamtanaa, wa ‘allimnaa maa yanfa’unaa, wa zidnaa ‘ilmaa. Waj’al ‘ilmanaa haadiyan ilaa ridhaka ya Rabbal ‘alamin.”

     

    (Ya Allah, berilah manfaat atas ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami, ajarkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan tambahkanlah kami ilmu. Jadikanlah ilmu kami sebagai petunjuk menuju ridha-Mu, wahai Tuhan semesta alam.)

     

    Semoga setiap huruf yang kita pelajari, setiap ilmu yang kita gali, menjadi cahaya yang menuntun langkah kita menuju surga-Nya.

     

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

     

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top