Ustadzfaqih • Jul 01 2025 • 82 Dilihat

Hiduplah Bersama Al-Qur’an, Beramallah dengan Ikhlas: Pesan Abadi dari Sayyid Abdul Qadir al-Jailani
“Imanilah Al-Qur’an, amalkanlah Al-Qur’an, dan ikhlaslah dalam amal-amal kalian. Janganlah kalian mencari pujian dan mengharap ganti dari makhluk atas amal-amal kalian.”
– Sayyid Abdul Qadir al-Jailani, Fathur Rabbani
Dalam zaman yang semakin riuh oleh pencitraan, kompetisi sosial, dan haus pengakuan, nasehat ini terdengar seperti panggilan lembut dari langit. Ia menembus kebisingan, menyentuh dasar hati, dan mengajak kita kembali kepada kemurnian iman. Nasehat ini menuntun kita menuju jalan yang lurus: mengimani Al-Qur’an, mengamalkannya, dan menjernihkan hati dalam keikhlasan.
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan indah. Ia adalah petunjuk hidup yang agung, kalamullah yang diturunkan bukan hanya untuk dilantunkan, tetapi untuk diyakini sepenuhnya. Iman kepada Al-Qur’an berarti:
“Tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
Iman kepada Al-Qur’an adalah fondasi. Tanpa iman, bacaan hanyalah suara. Tapi dengan iman, setiap ayat menjadi cahaya.
Refleksi: Apakah aku membaca Al-Qur’an hanya sebagai rutinitas, atau aku benar-benar mengimaninya sebagai panduan hidup?
Berapa banyak orang hafal Al-Qur’an namun tidak mencerminkan akhlaknya?
Berapa banyak yang mampu melantunkan surah panjang, tapi belum mampu menegakkan satu ayat dalam kehidupannya?
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya.” (HR. Bukhari)
Mengamalkan Al-Qur’an adalah:
Rasulullah SAW adalah manusia yang paling mencintai dan menghidupkan Al-Qur’an. Bahkan ketika ditanya Aisyah RA tentang akhlak beliau, jawabannya adalah:
“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.”
Refleksi: Sudahkah aku menjadikan Al-Qur’an sebagai perilaku? Atau sekadar ritual bacaan?
Inilah inti dari semua ibadah: ikhlas lillahi ta’ala.
Sayyid al-Jailani mengingatkan kita untuk tidak menjadikan amal sebagai alat meraih pujian atau imbalan dunia.
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Orang yang ikhlas:
Imam al-Ghazali berkata, “Ikhlas adalah ketika engkau lupa amalmu, karena engkau tahu bahwa semuanya dari Allah dan untuk Allah.”
Refleksi: Apakah aku beramal untuk dilihat dan diapresiasi? Atau karena cinta dan takutku kepada Allah?
Penutup: Jadilah Hamba Al-Qur’an yang Ikhlas
Wahai jiwa-jiwa yang mencari makna…
Dunia ini fana, dan segala pujian manusia akan sirna.
Namun, amal yang dilakukan dengan iman, berdasarkan Al-Qur’an, dan penuh keikhlasan, akan kekal dalam catatan langit.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Maka, mari kita memperbaiki iman, memperkuat amal, dan memurnikan niat.
Karena amal tanpa ikhlas adalah debu,
dan amal yang berlandaskan iman dan ikhlas adalah mahkota abadi di sisi Allah.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.