Ustadzfaqih • Des 25 2024 • 322 Dilihat

Hawa Nafsu: Penghalang Kebaikan dan Musuh Akal
Sobat. Hawa nafsu, dalam konteks agama dan moralitas, sering kali dianggap sebagai salah satu tantangan terbesar bagi manusia dalam meraih kebaikan. Dalam Islam, hawa nafsu diartikan sebagai dorongan atau keinginan yang sering kali bertentangan dengan akal sehat dan nilai-nilai kebenaran. Berikut adalah penjelasan tentang bagaimana hawa nafsu menjadi penghalang kebaikan dan musuh bagi akal:
Hawa nafsu adalah tantangan yang harus diatasi untuk mencapai kebaikan dan menjalani hidup yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran. Melawan hawa nafsu bukan hanya bagian dari perjuangan spiritual, tetapi juga jalan untuk memperkuat akal dan keimanan. Dengan mengendalikan hawa nafsu, seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menjalani kehidupan yang penuh keberkahan.
Abdullah bin Abbas Ra berkata, ” Hawa nafsu adalah tuhan yang disembah selain Allah.”
Pernyataan Abdullah bin Abbas ra. yang mengatakan, “Hawa nafsu adalah tuhan yang disembah selain Allah,” mengandung makna yang mendalam tentang bagaimana hawa nafsu dapat menjadi penghalang manusia untuk tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT. Ungkapan ini menunjukkan bahwa manusia yang memperturutkan hawa nafsunya seolah-olah menjadikan hawa nafsu itu sebagai “tuhan” yang mereka patuhi, mengesampingkan perintah Allah dan larangan-Nya.
Makna dan Penjelasan:
أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ وَقَلۡبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Al-Jatsiyah: 23).
Ayat ini menggambarkan bahwa seseorang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa batas sama dengan menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahannya. Hal ini terjadi ketika seseorang lebih mengutamakan keinginan dirinya daripada ketaatan kepada Allah.
Kesimpulan
Pernyataan Abdullah bin Abbas ra. mengingatkan kita bahwa mengikuti hawa nafsu adalah bentuk penyelewengan dari tujuan penciptaan manusia, yaitu untuk menyembah Allah semata. Hawa nafsu, jika tidak dikendalikan, dapat menjadi “tuhan” palsu yang membawa manusia jauh dari Allah dan menghancurkan kehidupannya di dunia dan akhirat.
Dengan memahami bahaya ini, kita diajak untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dan berusaha mengendalikan hawa nafsu agar tetap berada di jalan yang benar.
( DR Nasrul Syarif M.SI. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.