Ustadzfaqih • Des 30 2024 • 220 Dilihat

Hakikat Dzikir menurut Ibnu Athaillah
Sobat. Menurut Ibnu Athaillah as-Sakandari, seorang sufi besar yang terkenal dengan karya-karyanya yang mendalam, dzikir memiliki hakikat yang sangat tinggi dalam perjalanan spiritual seseorang. Dalam kitabnya, Al-Hikam, ia menguraikan beberapa poin penting mengenai hakikat dzikir:
Ibnu Athaillah menekankan bahwa dzikir adalah sarana utama bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ia mengatakan, “Janganlah engkau meninggalkan dzikir hanya karena tidak hadirnya hatimu kepada Allah dalam dzikirmu. Sebab kelalaianmu dari dzikir lebih buruk daripada kelalaianmu dalam dzikir.”
Maksudnya: Meskipun seseorang mungkin tidak sepenuhnya khusyuk, terus melakukan dzikir adalah lebih baik daripada meninggalkannya sama sekali. Dzikir itu sendiri memiliki nilai dan dapat membawa hati seseorang kepada Allah secara bertahap.
Dalam pandangan Ibnu Athaillah, dzikir bukan hanya ucapan lisan, tetapi juga melibatkan hati dan jiwa. Dzikir yang hakiki adalah keadaan di mana hati selalu terhubung kepada Allah, bahkan saat seseorang sedang sibuk dengan aktivitas duniawi.
Beliau berkata, “Tidak dinamakan dzikir orang yang lisannya berdzikir, tetapi hatinya lalai dari Allah.”
Dzikir adalah tanda cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Semakin sering seseorang mengingat Allah, semakin dalam cintanya kepada Allah. Dzikir juga menjadi sarana untuk memurnikan hati dari kecintaan kepada dunia, menggantinya dengan kecintaan kepada Allah.
Dalam salah satu hikmahnya, Ibnu Athaillah menyebutkan bahwa dzikir adalah pintu menuju cahaya Ilahi. Ia berkata, “Dzikir adalah lentera hati; apabila dzikir hilang, maka hati akan gelap.”
Maknanya: Dengan dzikir, hati akan menjadi terang dan mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Ibnu Athaillah juga menjelaskan bahwa dzikir dapat membawa seorang hamba kepada makrifat, yaitu pengetahuan yang mendalam tentang Allah. Dzikir secara konsisten membuat hati menjadi bersih sehingga mampu menerima cahaya dari Allah dan mengenal-Nya dengan lebih dekat.
Ibnu Athaillah membagi dzikir ke dalam beberapa tingkatan:
Bagi Ibnu Athaillah, dzikir bukan hanya sekadar aktivitas fisik berupa ucapan, tetapi merupakan keadaan spiritual yang mendalam. Ia adalah proses terus-menerus untuk menyucikan hati, mendekatkan diri kepada Allah, dan akhirnya mencapai makrifat. Dzikir mengajarkan ketekunan, keikhlasan, dan cinta yang tulus kepada Allah sebagai pusat dari kehidupan seorang hamba.
Rezeki lahir dan Rezeki Batin pejelasan Ibnu Athaillah.
Menurut Ibnu Athaillah as-Sakandari, dalam karya-karya hikmahnya, ia membedakan antara rezeki lahir dan rezeki batin. Kedua jenis rezeki ini berkaitan erat dengan kebutuhan manusia dalam menjalani kehidupannya, baik di dunia maupun untuk persiapan akhirat. Berikut adalah penjelasan mendalam berdasarkan pandangan Ibnu Athaillah:
Rezeki lahir adalah segala sesuatu yang bersifat materi dan terlihat secara fisik, yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Ini mencakup:
Pandangan Ibnu Athaillah tentang Rezeki Lahir:
“Janganlah merasa gembira dengan sesuatu yang berkurang nilainya jika di akhirat nanti engkau akan dihisab karenanya.”
(Al-Hikam)
Artinya, meskipun rezeki lahir dapat memberikan kenyamanan, ia juga membawa tanggung jawab untuk digunakan sesuai dengan kehendak Allah.
Rezeki batin adalah segala sesuatu yang bersifat spiritual, non-material, dan memberikan ketenangan hati, kebahagiaan, serta kedekatan kepada Allah. Contoh rezeki batin mencakup:
Pandangan Ibnu Athaillah tentang Rezeki Batin:
Perbandingan Rezeki Lahir dan Batin Menurut Ibnu Athaillah.
| Aspek | Rezeki Lahir | Rezeki Batin | Â | Â | Â |
| Sifat | Fana (sementara) | Abadi (kekal) | Â | Â | Â |
| Bentuk | Harta, kesehatan, kedudukan | Iman, ilmu, hikmah, ketenangan | Â | Â | Â |
| Manfaat | Untuk kebutuhan dunia | Untuk kebahagiaan dunia dan akhirat | Â | Â | Â |
| Cara Memperoleh | Usaha fisik dan kerja keras | Mujahadah dan kedekatan kepada Allah | Â | Â | Â |
| Tingkat Kemuliaan | Rendah | Tinggi | Â | Â | Â |
Kesimpulan
Ibnu Athaillah mengajarkan bahwa manusia harus mampu membedakan antara rezeki lahir dan batin, serta memprioritaskan rezeki batin sebagai tujuan utama hidup. Rezeki lahir hanyalah sarana untuk mendukung kehidupan dunia, sementara rezeki batin adalah kunci untuk meraih kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.
Ia menasihati agar manusia tidak terlalu terpaut pada rezeki lahir, karena yang lebih penting adalah hubungan dengan Allah yang terwujud melalui rezeki batin.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.