Ustadzfaqih • Apr 04 2025 • 70 Dilihat

Dalam kehidupan, ujian adalah sesuatu yang pasti. Tidak ada satu pun manusia yang luput dari cobaan, baik dalam bentuk kesedihan, kegagalan, kehilangan, maupun kekecewaan. Namun, dalam Islam, ujian bukanlah tanda kebencian Allah. Justru, ia adalah bentuk cinta-Nya kepada hamba-Nya.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya.”
(HR. Tirmidzi)
Dari hadis ini kita belajar bahwa semakin tinggi derajat keimanan seseorang, semakin besar pula ujian yang akan ia hadapi. Bukan untuk menyiksa, melainkan untuk menguatkan. Seperti emas yang harus dibakar agar murni, begitu pula seorang mukmin harus melewati ujian untuk menjadi pribadi yang terpuji.
Dalam perspektif Islam, menjadi terpuji bukan tentang popularitas atau pengakuan dari manusia semata. Ia tentang bagaimana Allah memandang kita. Seorang yang sabar, tawakal, dan istiqamah dalam menghadapi ujian, akan mendapat pujian langsung dari Sang Pencipta.
Allah berfirman:
“Dan Kami jadikan sebagian dari kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.”
(QS. Al-Furqan: 20)
Mereka yang bersabar akan mendapat tempat istimewa di sisi Allah. Mereka bukan hanya dikenang oleh manusia karena kesabarannya, tapi juga dimuliakan di akhirat karena keteguhannya.
Setiap kali ujian datang, hadapilah. Jangan lari atau berputus asa. Allah tidak akan membebani kita melebihi kemampuan kita.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Yakini bahwa setiap ujian mengandung hikmah. Mungkin lewat ujian, hati kita dilembutkan. Mungkin lewat kehilangan, kita belajar arti syukur. Mungkin lewat kegagalan, kita jadi lebih dekat kepada Allah.
“Hadapi Ujian agar Menjadi Terpuji” bukan hanya kalimat indah—ia adalah prinsip hidup. Jadikan setiap cobaan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan biarkan ujian membuat kita lemah, biarkan ia membentuk kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih kuat, dan lebih bijak.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang Allah puji karena kesabaran dan keteguhan dalam menjalani ujian hidup. Aamiin.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.