Ustadzfaqih • Nov 28 2025 • 53 Dilihat

Filsafat Pendidikan Islam Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas:
Membangun Kembali Peradaban yang Hilang dengan Adab, Ilmu, dan Ruhani
Pendahuluan: Pendidikan sebagai Penentu Masa Depan Umat
Di tengah arus globalisasi dan modernitas yang deras, umat Islam menghadapi krisis yang bukan hanya bersifat sosial atau ekonomi, tetapi lebih mendasar: krisis identitas, ilmu, dan adab. Kita memiliki teknologi, tetapi kehilangan arah. Kita memiliki sistem pendidikan, tetapi minim pemikiran filosofis. Kita mencetak sarjana, tetapi sedikit sekali melahirkan manusia berhikmah.
Di sinilah pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas hadir sebagai lentera pemurnian pendidikan Islam modern. Beliau tidak hanya mengajukan sistem teknis pengajaran, tetapi menawarkan pondasi filosofis yang mengembalikan pendidikan pada tujuan paling luhur: membentuk manusia baik (al-insan al-shalih).
1. Pendidikan sebagai Ta’dib: Menanamkan Adab dalam Jiwa
Berbeda dari pendekatan sekuler yang memandang pendidikan sebagai produksi sumber daya manusia (SDM) untuk pasar industri, al-Attas menegaskan bahwa istilah terbaik untuk pendidikan dalam Islam adalah:
> التأديب (Ta’dib) — proses menanamkan adab.
Mengapa adab yang menjadi inti?
Karena adab adalah kondisi di mana seseorang mengetahui kedudukan sesuatu dalam struktur kebenaran — lalu bertindak sesuai kedudukan itu.
Adab mencakup:
Adab kepada Allah: tauhid, taqwa, ubudiyah.
Adab kepada diri: kesucian jiwa, integritas, disiplin.
Adab kepada ilmu: menghormati guru, metodologi yang benar.
Adab kepada manusia: akhlak mulia, keadilan, kasih sayang.
Adab terhadap alam: tidak merusak, tetapi memakmurkan.
Ketika adab hilang, kata al-Attas, maka lahirlah kekacauan (chaos). Sebab tanpa adab, ilmu menjadi alat ambisi, akal menjadi sombong, dan manusia menjadi hakim atas kebenaran, bukan hamba bagi Sang Kebenaran.
2. Tujuan Pendidikan: Menjadi Manusia Baik, Bukan Sekadar Pintar
Dunia modern memuja kompetensi, prestasi, sertifikasi, dan gelar. Namun al-Attas menegaskan:
> “Tujuan pendidikan Islam bukan menghasilkan pekerja untuk ekonomi, tetapi menghasilkan manusia yang memahami makna hidup.”
Pendidikan Islam harus melahirkan:
Identitas Makna
‘Abdullah Hamba yang tunduk kepada Allah
Khalifatullah Pemimpin yang bertanggung jawab memakmurkan bumi
Al-Insan al-Kamil Manusia beradab, berilmu, dan berakhlak
Manusia yang baik bukan hanya mengetahui ilmu, tetapi hidup dengan ilmu itu:
berpikir dengan benar
merasa dengan iman
bertindak dengan hikmah.
3. Masalah Utama Peradaban: Hilangnya Adab dan Kekacauan Ilmu
Menurut al-Attas, krisis yang menimpa umat Islam bukan karena kurangnya institusi, teknologi, atau sumber daya — tetapi karena:
> “Loss of adab” — Hilangnya adab, yang melahirkan kekacauan ilmu (confusion of knowledge).
Krisis ini melahirkan fenomena:
orang jahil berbicara seperti ilmuwan,
orang fasik tampil seperti pemimpin,
ilmu pengetahuan dipisah dari moralitas,
kebenaran menjadi relatif dan bisa “ dinegosiasikan”.
Tanpa adab, ilmu tidak lagi mengarahkan kepada Allah, tetapi kepada ego, kesombongan, dan materialisme.
4. Islamisasi Ilmu: Menyucikan Pengetahuan dari Ideologi Barat
Kontribusi terbesar al-Attas adalah gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan.
Islamisasi bukan menolak ilmu modern, tetapi:
membersihkannya dari worldview sekuler,
mengembalikannya pada tauhid sebagai pusat,
menyelaraskan sains dengan wahyu.
Beliau menolak gagasan bahwa ilmu itu netral.
> “No knowledge is neutral.”
— Al-Attas
Ilmu selalu membawa worldview. Jika worldview itu materialistik, ateistik, atau sekuler, maka ia akan membentuk manusia materialistik dan tidak ber-Tuhan.
5. Epistemologi Islam: Ilmu sebagai Cahaya
Dalam filsafat al-Attas, ilmu bukan sekadar data atau informasi; ilmu adalah:
> Cahaya (nur) yang Allah letakkan dalam hati orang beriman.
Ilmu yang benar akan mengantarkan kepada:
keyakinan (yaqin),
hikmah,
akhlak.
Sumber ilmu adalah:
1. Wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah)
2. Akal
3. Intuisi rohani (ilham, kasyf)
4. Pengalaman empiris
Namun semuanya harus tunduk pada wahyu — bukan sebaliknya.
6. Kurikulum Pendidikan Islam: Tauhid sebagai Poros
Sistem pendidikan Islam harus berlapis dan berporos, bukan terfragmentasi seperti sistem modern.
Komponen kunci adalah:
Tauhid sebagai fondasi ilmu, bukan sekadar mata pelajaran.
Ulumuddin (aqidah, fiqh, tasawuf) sebagai inti.
Sains sosial dan teknologi sebagai instrumen, bukan tujuan akhir.
Pembinaan ruhani melalui dzikir, adab, kontemplasi (tafakur).
Dengan demikian, ilmu lahir bukan dari kompetisi ego — tetapi dari ibadah dan adab.
Penutup: Kembali ke Jalan Pendidikan yang Mencerahkan
Pemikiran al-Attas mengajarkan kita bahwa pendidikan bukan proyek duniawi, tetapi misi peradaban. Pendidikan adalah jalan untuk:
mengenal Allah,
mengenal diri,
mengenal makna hidup.
Ketika pendidikan berubah menjadi industri sertifikat, maka manusia kehilangan jati dirinya. Tetapi ketika pendidikan kembali pada ta’dib, umat Islam akan kembali bermartabat.
Akhirnya…
Pendidikan Islam menurut al-Attas mengingatkan kita bahwa:
> Ilmu tanpa iman adalah gelap.
Iman tanpa ilmu adalah lumpuh.
Tetapi ilmu yang beradab akan melahirkan cahaya peradaban.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.