Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Empat Tanda seseorang itu telah Bertaubat.

    Nov 01 2024161 Dilihat

    Empat Tanda seseorang itu telah bertaubat.

     

    Imam Abu Laits Assamarqandi menjelaskan bahwa seseorang yang telah bertaubat dengan tulus dari dosa-dosanya akan menunjukkan beberapa tanda yang mencerminkan kesungguhannya dalam bertaubat. Berikut adalah empat tanda seseorang itu benar-benar telah bertaubat:

    1. Meninggalkan Perbuatan Dosa dengan Kesungguhan

    Tanda pertama dari orang yang telah bertaubat adalah komitmen kuat untuk meninggalkan dosa yang pernah dilakukannya. Taubat sejati berarti berhenti sepenuhnya dari perbuatan yang dilarang oleh Allah dan tidak ada niat untuk kembali melakukannya. Orang yang benar-benar bertaubat akan menjauhkan diri dari segala hal yang bisa menggiringnya kembali kepada perbuatan dosa, serta berusaha menggantinya dengan perbuatan-perbuatan baik. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

    “Dan orang-orang yang tidak terus-menerus mengerjakan apa yang telah mereka kerjakan (dosa itu), sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 135)

    1. Menyesali Dosa yang Telah Dilakukan

    Taubat yang ikhlas disertai dengan penyesalan mendalam atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Penyesalan ini bukan hanya sekadar perasaan bersalah, tetapi juga kesedihan dan rasa malu yang mendalam karena menyadari bahwa ia telah melanggar perintah Allah. Orang yang bertaubat akan merasakan ketidaktenangan hati jika mengingat dosa-dosanya, dan penyesalan ini menjadi bukti bahwa ia benar-benar ingin memperbaiki diri. Rasulullah SAW bersabda:

    “Penyesalan adalah inti dari taubat.” (HR. Ibnu Majah)

    1. Berusaha Mengganti Keburukan dengan Kebaikan

    Tanda ketiga orang yang benar-benar telah bertaubat adalah semangat untuk memperbanyak amal kebaikan sebagai bentuk penebusan atas dosa-dosa yang lalu. Mereka akan berusaha melakukan amal shaleh, seperti shalat, sedekah, puasa sunnah, dan berbuat baik kepada sesama sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah dan menutupi kekurangan yang ada. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Hud: 114)

    Orang yang telah bertaubat memahami bahwa dengan berbuat baik, ia sedang berusaha memperbaiki diri, mengganti keburukan masa lalunya, dan mendapatkan ridha Allah.

    1. Meningkatkan Kepekaan Terhadap Dosa

    Tanda keempat dari seseorang yang telah bertaubat adalah meningkatnya kepekaan atau kehati-hatian terhadap dosa, bahkan terhadap hal-hal yang mungkin mendekati dosa. Mereka menjadi lebih berhati-hati dalam tindakan, perkataan, dan pikiran mereka, serta lebih peka terhadap hal-hal yang dilarang oleh Allah. Kepekaan ini adalah hasil dari keinginan mereka untuk menjaga taubatnya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Orang yang benar-benar bertaubat akan selalu berusaha menjaga kesucian dirinya, merasa takut jika dosa-dosa masa lalu terulang kembali, dan terus-menerus memohon ampun kepada Allah.

    Tanda-tanda ini menggambarkan proses taubat yang utuh dan kesungguhan hati seseorang untuk kembali kepada Allah SWT. Dengan taubat yang sungguh-sungguh dan ikhlas, seorang Muslim akan mendapatkan ampunan dari Allah, sebagaimana firman-Nya:

    “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

     

    Bisa mengendalikan lisannya dari ucapan-ucapan yang tidak berguna menggunjing, dan dusta.

     

    Dalam Islam, menjaga lisan dari perkataan yang tidak bermanfaat, menggunjing (ghibah), dan berdusta (kadzib) adalah salah satu tanda ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Mengendalikan lisan dianggap sebagai salah satu upaya utama dalam menjaga kebersihan hati dan melatih diri untuk selalu berada dalam kebaikan. Berikut adalah beberapa penjelasan mengenai pentingnya menjaga lisan serta dampak positifnya bagi seorang Muslim:

    1. Mengendalikan Lisan sebagai Bentuk Ketaatan kepada Allah

    Islam sangat menekankan pentingnya berbicara hanya yang benar dan bermanfaat. Firman Allah dalam Al-Qur’an:

    “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan mereka, kecuali (pembicaraan) dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mendamaikan di antara manusia.” (QS. An-Nisa: 114)

    Dalam ayat ini, Allah SWT menyatakan bahwa percakapan atau ucapan yang tidak mengandung kebaikan, seperti menggunjing atau menyebarkan kebohongan, adalah sia-sia. Mengendalikan lisan berarti menghindari ucapan yang sia-sia dan berfokus pada perkataan yang mengandung manfaat dan kebaikan.

    1. Menjauhkan Diri dari Dosa Ghibah (Menggunjing)

    Ghibah adalah membicarakan keburukan atau kekurangan seseorang di belakangnya, yang jika didengar oleh orang tersebut akan membuatnya tidak suka. Islam mengajarkan bahwa ghibah adalah dosa besar, bahkan disamakan dengan memakan daging saudara sendiri dalam keadaan mati, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an:

    “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12)

    Orang yang mampu mengendalikan lisannya akan menghindari ghibah dan berusaha menjaga kehormatan orang lain, karena memahami bahwa setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Menjauhkan diri dari ghibah juga akan menjaga hubungan sosial tetap harmonis.

    1. Menghindari Perkataan Dusta (Kadzib)

    Dusta adalah berkata tidak sesuai dengan kenyataan dan menyebarkan informasi yang salah. Dusta dalam Islam sangat dilarang dan dianggap sebagai salah satu sifat munafik. Rasulullah SAW bersabda:

    “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya dia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Menghindari dusta adalah salah satu cara menjaga kejujuran, yang merupakan sifat utama orang-orang beriman. Seorang Muslim yang mengendalikan lisannya akan selalu berusaha berkata jujur dan tidak menipu, karena memahami bahwa Allah menyukai orang yang jujur.

    1. Memilih untuk Berbicara yang Bermanfaat atau Diam

    Rasulullah SAW memberikan nasihat yang sangat berharga mengenai lisan:

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadis ini menekankan bahwa seorang Muslim seharusnya berbicara hanya jika perkataannya mengandung kebaikan, dan jika tidak, lebih baik diam. Diam di sini bukan sekadar menahan diri dari berkata, tetapi merupakan wujud kesadaran bahwa setiap kata akan diperhitungkan.

    1. Dampak Positif dari Menjaga Lisan

    Menjaga lisan memiliki dampak positif yang besar, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, di antaranya:

    • Mendekatkan Diri kepada Allah: Dengan menjaga lisan, seorang Muslim menunjukkan ketaatan kepada perintah Allah dan menjauhi hal-hal yang dilarang, sehingga membuatnya lebih dekat kepada-Nya.
    • Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Reputasi: Orang yang selalu berbicara jujur dan menghindari ghibah atau dusta akan lebih dihormati dan dipercaya oleh orang lain.
    • Menjaga Kedamaian dan Keharmonisan Sosial: Dengan menghindari ghibah dan ucapan yang sia-sia, hubungan dengan sesama akan menjadi lebih harmonis dan penuh saling pengertian.
    1. Tips untuk Mengendalikan Lisan
    • Bertafakur sebelum Berbicara: Biasakan untuk berpikir terlebih dahulu apakah apa yang akan dikatakan itu baik atau tidak. Jika ragu-ragu, lebih baik memilih untuk diam.
    • Perbanyak Dzikir dan Membaca Al-Qur’an: Dengan memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an, hati akan menjadi tenang, dan kecenderungan untuk berbicara sia-sia akan berkurang.
    • Bersahabat dengan Orang-Orang Saleh: Teman yang saleh dan baik akan selalu mengingatkan kita untuk menjaga lisan dan tidak melakukan dosa-dosa lisan seperti ghibah atau dusta.
    • Mengukur Dampak Perkataan: Pikirkan dampak dari apa yang akan dikatakan kepada orang lain. Jika perkataan itu berpotensi menyakiti atau merugikan, sebaiknya dihindari.

    Menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas keimanan. Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk mampu mengendalikan lisan kita dan berbicara hanya yang bermanfaat.

     

    Meninggalkan teman-temannya yang berperangai dan berperilaku jelek. Selalu siap menghadapi mati, menyesali semua perbuatan yang tidak baik disertai permohonan ampun dan bersungguh-sungguh taat kepada Allah SWT.

     

    Meninggalkan teman-teman yang memiliki perangai dan perilaku buruk, siap menghadapi kematian, menyesali perbuatan buruk, dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan adalah bagian dari proses memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Langkah-langkah ini menunjukkan kesadaran yang mendalam akan pentingnya hidup dengan penuh makna dan ketakwaan, terutama dalam rangka mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Berikut adalah penjelasan mengenai langkah-langkah tersebut:

    1. Meninggalkan Teman yang Berperilaku Buruk

    Pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap keimanan dan perilaku seseorang. Dalam Islam, teman yang buruk bisa mengarahkan kita kepada perilaku yang tidak baik dan menjauhkan dari ketaatan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

    “Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

    Meninggalkan teman-teman yang berperilaku buruk adalah salah satu bentuk ketegasan dalam menjaga keimanan dan ketakwaan. Teman yang baik adalah mereka yang mengingatkan kita untuk taat kepada Allah, menghindari kemaksiatan, dan mengajak dalam kebaikan. Ketika seseorang meninggalkan teman-teman yang buruk dan mencari lingkungan yang lebih positif, ia akan lebih mudah untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadahnya.

    1. Selalu Siap Menghadapi Kematian

    Kesadaran akan kematian menjadi dorongan bagi seorang Muslim untuk senantiasa memperbaiki diri dan meningkatkan amal kebaikan. Kematian adalah kepastian yang tidak bisa dihindari, dan kita tidak tahu kapan waktunya akan tiba. Oleh karena itu, seorang Muslim yang bijaksana selalu mempersiapkan diri untuk menghadapinya dengan senantiasa berada dalam ketaatan. Allah SWT berfirman:

    “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 57)

    Kesadaran akan kematian menjadikan seseorang lebih serius dalam beribadah dan lebih berhati-hati dalam perbuatannya. Orang yang siap menghadapi kematian tidak akan menunda-nunda untuk bertaubat dan tidak akan menyepelekan dosa, bahkan yang sekecil apapun.

    1. Menyesali Semua Perbuatan yang Tidak Baik Disertai Permohonan Ampunan

    Taubat dan penyesalan adalah bagian dari perjalanan spiritual yang sangat penting dalam Islam. Allah SWT selalu membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang bertaubat dengan tulus. Menyesali dosa adalah tanda keimanan yang menunjukkan bahwa hati seseorang masih peka dan takut akan murka Allah. Penyesalan ini bukan hanya sekadar perasaan, tetapi disertai dengan upaya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan memohon ampunan kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Allah berfirman:

    “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

    Penyesalan yang tulus menunjukkan bahwa seseorang berkomitmen untuk berubah dan berusaha mengganti keburukan dengan amal shaleh. Dengan selalu meminta ampunan dan tidak berputus asa dari rahmat Allah, ia akan mendapatkan kedamaian dalam hati dan ketenangan jiwa.

    1. Bersungguh-Sungguh Taat kepada Allah SWT

    Bersungguh-sungguh dalam ketaatan berarti berusaha maksimal untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan konsisten. Ketaatan ini mencakup menjalankan ibadah wajib seperti shalat, puasa, zakat, serta memperbanyak ibadah sunnah seperti membaca Al-Qur’an, dzikir, dan sedekah. Selain itu, ketaatan kepada Allah juga berarti memperbaiki akhlak, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan menghindari hal-hal yang bisa merusak iman.

    Allah SWT mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan dan berjanji memberikan rahmat dan kemudahan bagi mereka. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

    “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

    Orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan akan merasakan ketenangan hati dan kemudahan dalam hidupnya, karena ia selalu berpegang teguh pada petunjuk Allah dan menjadikan agama sebagai pedoman hidupnya. Ketaatan yang sungguh-sungguh juga akan membentuk karakter yang mulia dan menjadikan dirinya panutan dalam masyarakat.

    Kesimpulan

    Keempat langkah ini merupakan tanda keseriusan seseorang dalam memperbaiki diri dan kembali kepada Allah SWT. Dengan meninggalkan teman yang buruk, selalu siap menghadapi kematian, menyesali perbuatan dosa dengan sungguh-sungguh, dan taat kepada Allah, seseorang telah memulai perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih dekat kepada-Nya. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk mengamalkan keempat langkah ini dalam kehidupan kita sehari-hari.

    ( DR Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top