Ustadzfaqih • Apr 15 2025 • 67 Dilihat

Dunia itu Penjara Orang Mukmin
Dunia sering kali dianggap sebagai tempat perantauan, sementara akhirat adalah tujuan sejati setiap hamba Allah. Dalam perspektif Islam, dunia ini bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah ujian dan tempat persinggahan sementara. Salah satu ungkapan yang dikenal dalam tradisi Islam adalah: “Dunia itu penjara bagi orang mukmin,” yang diambil dari sabda Rasulullah SAW:
“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)
Ungkapan ini mengandung makna yang dalam, yang mengajak kita untuk memahami hakikat kehidupan duniawi dan bagaimana kita seharusnya menyikapinya sebagai seorang mukmin. Berikut ini adalah pemahaman yang lebih mendalam tentang maksud dari ungkapan tersebut.
Bagi seorang mukmin, dunia ini adalah tempat yang penuh dengan cobaan dan tantangan. Setiap hari, kita dihadapkan pada godaan dan ujian yang bisa membuat kita tergoda untuk berpaling dari jalan Allah. Dunia sering kali mengalihkan perhatian kita dari tujuan utama kita, yaitu mencari keridhaan Allah dan meraih kehidupan akhirat yang abadi.
Makna “penjara” dalam ungkapan ini bukanlah dalam pengertian fisik, tetapi lebih kepada keadaan dunia yang terbatas, penuh dengan kesulitan, dan penuh dengan godaan yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan dosa. Dunia ini menawarkan segala kenikmatan sementara, yang sering kali membuat manusia lupa akan tujuan hidup yang lebih besar.
Seorang mukmin harus mampu melihat dunia dengan pandangan yang lebih luas, menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah sementara. Kekayaan, kedudukan, dan kenikmatan duniawi tidak akan bertahan lama. Karena itu, seorang mukmin harus menganggap dunia ini sebagai tempat ujian dan persinggahan yang harus dilewati dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan perjuangan.
Dunia menjadi “penjara” bagi orang mukmin karena dunia ini memiliki banyak hal yang dapat mengikat hati seseorang. Manusia cenderung tergoda dengan kenikmatan duniawi, seperti harta, jabatan, dan status sosial, yang bisa membuat seseorang lupa akan tujuan hidup yang lebih tinggi.
Meskipun dunia ini merupakan tempat yang penuh dengan ujian, seorang mukmin tetap memiliki tugas dan peran yang besar di dunia ini. Dunia bukanlah tempat untuk menyerah atau menolak hidup, melainkan tempat untuk berjuang dan beramal shaleh. Berikut adalah beberapa tugas mukmin di dunia:
Meskipun dunia ini dianggap sebagai penjara bagi orang mukmin, bukan berarti kita harus menghindarinya atau menjauhinya sepenuhnya. Islam mengajarkan agar kita dapat menjalani kehidupan dunia ini dengan seimbang, tidak terjebak dalam kesenangan duniawi, namun juga tidak mengabaikan tanggung jawab kita terhadap kehidupan dunia.
Seorang mukmin harus memiliki pandangan positif terhadap dunia, dengan menjadikannya sebagai sarana untuk beribadah dan beramal shaleh. Dalam kehidupan sehari-hari, dunia ini bisa menjadi tempat untuk mengembangkan potensi diri, membantu orang lain, dan mencari nafkah yang halal, asalkan tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan ridha Allah.
Allah SWT mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini adalah sementara, dan kehidupan akhirat adalah tujuan yang abadi. Dunia ini akan binasa, tetapi kehidupan di akhirat tidak akan pernah berakhir. Oleh karena itu, seorang mukmin harus selalu mengingat bahwa tujuan utama hidup ini adalah untuk meraih kebahagiaan di akhirat, bukan sekadar mengejar kesenangan dunia yang sementara.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang salehah.” (HR. Muslim)
Ini mengajarkan kita untuk tidak terlena dengan hiasan dunia, tetapi menjadikan akhirat sebagai tujuan yang lebih penting dan lebih abadi.
Kesimpulan
“Dunia itu penjara bagi orang mukmin” mengandung makna bahwa kehidupan dunia ini adalah tempat yang penuh dengan ujian, godaan, dan keterbatasan. Seorang mukmin harus mampu melihat dunia dengan bijaksana, menjadikan dunia ini sebagai sarana untuk beribadah dan beramal shaleh, serta tetap fokus pada tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu kebahagiaan di akhirat. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara, dan yang abadi adalah kehidupan akhirat yang kekal.
Menghadaplah kepada Tuhanmu dengan segenapmu. Tinggalkanlah besok di sisi kemarin, sebab bisa saja besok engkau mati. Dan kamu hai orang kaya, janganlah kesibukanmu dengan kekayaanmu melalaikanmu dari-Nya. Nasehat Al-Jailani.
Â
Menghadaplah kepada Tuhanmu dengan Segenapmu
Kehidupan dunia sering kali mengalihkan perhatian kita dari tujuan utama kita, yaitu menghadap Allah dengan hati yang tulus dan penuh pengabdian. Terkadang, kita terjebak dalam rutinitas dan kesibukan duniawi, hingga lupa akan hakikat hidup yang sesungguhnya. Namun, Allah mengingatkan kita dalam banyak ayat-Nya untuk selalu menghadap kepada-Nya dengan sepenuh hati, meninggalkan segala yang bisa menghalangi kita dari-Nya.
“Menghadaplah kepada Tuhanmu dengan segenapmu” adalah panggilan untuk kita semua agar menjadikan setiap tindakan, setiap niat, dan setiap langkah hidup ini sebagai bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah. Tidak ada yang lebih penting selain mendekatkan diri kepada-Nya dengan penuh kesungguhan.
Waktu adalah nikmat yang sangat berharga, namun sering kali kita menyia-nyiakan waktu kita untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat. Kita sering kali terlena dengan rencana masa depan dan mengkhawatirkan apa yang akan terjadi esok, tanpa menyadari bahwa kita hanya memiliki hari ini. Besok itu belum tentu ada, dan kemarin sudah berlalu, tak bisa kita putar kembali.
Ini adalah sebuah ajakan untuk kita untuk mendapatkan keberkahan dari waktu yang kita miliki saat ini. Jangan terjebak dalam angan-angan tentang masa depan yang belum pasti, atau meratapi masa lalu yang sudah berlalu. Sebaliknya, kita harus menghadap kepada Allah dengan penuh kesadaran dan perhatian di hari ini, karena kita tidak tahu kapan kehidupan ini akan berakhir.
“Dan tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi pada esok hari.” (QS. Luqman: 34). Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan yang kita jalani saat ini adalah yang paling berharga. Fokuslah pada amal dan ibadah yang bisa kita lakukan hari ini, karena besok bisa saja tidak datang.
“Dan kamu hai orang kaya, janganlah kesibukanmu dengan kekayaanmu melalaikanmu dari-Nya.”
Kekayaan, kekuasaan, dan segala bentuk kemewahan dunia dapat menjadi godaan yang sangat besar. Kesibukan dalam mengumpulkan harta bisa membuat seseorang lupa akan tujuan hidup yang sejati, yaitu mengabdi kepada Allah dan mencari ridha-Nya.
Harta dan kekayaan bukanlah tujuan hidup, melainkan amanah dari Allah yang harus dikelola dengan baik. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada yang lebih baik daripada seseorang yang diberikan harta yang halal, dan ia menggunakan harta itu untuk beramal dan mencari ridha Allah.” (HR. Bukhari)
Sebagai orang kaya, kita harus menyadari bahwa kekayaan ini hanyalah titipan. Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk mengelolanya dengan baik, mendistribusikannya pada yang membutuhkan, dan tidak terjerumus pada kesombongan atau ketamakan. Kekayaan yang didapatkan dengan cara yang halal dan digunakan untuk kebaikan adalah salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kita hidup di dunia ini dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adh-Dhariyat: 56)
Kehidupan dunia adalah ladang ujian, dan segala yang kita miliki, termasuk kekayaan, adalah ujian dari Allah. Seperti halnya kita tidak boleh terjebak dalam kesibukan dunia yang melalaikan, kita juga harus menjaga agar setiap langkah kita senantiasa berada dalam ketaatan kepada-Nya. Pekerjaan, kekayaan, dan kenikmatan duniawi harus dijadikan sarana untuk beribadah, bukan sebagai penghalang atau alasan untuk menjauh dari Allah.
Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah hadits:
“Barangsiapa yang mencari dunia untuk mendapatkan keberkahan di dunia dan akhirat, maka dia harus menjadikan dunia sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Dengan demikian, kekayaan dan dunia bukanlah alasan untuk lalai, melainkan sarana untuk beribadah lebih baik lagi. Gunakanlah segala yang kita miliki untuk tujuan yang lebih mulia—untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Menghadap kepada Tuhanmu dengan segenap hati berarti menjalani hidup ini dengan penuh rasa takut, harap, dan cinta kepada-Nya. Hanya kepada Allah kita kembali, dan hanya kepada-Nya kita menghadap. Dunia ini hanyalah sarana untuk mencapai kehidupan yang abadi di akhirat. Oleh karena itu, segala amal yang kita lakukan haruslah dilandasi dengan niat yang ikhlas untuk mencari ridha-Nya.
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesimpulan
Hidup ini singkat, dan setiap detiknya sangat berharga. Oleh karena itu, marilah kita menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati, meninggalkan kekhawatiran akan besok yang belum pasti, dan tidak terjebak dalam kesibukan duniawi yang bisa melalaikan kita. Kekayaan dan kesenangan dunia tidak boleh membuat kita lupa akan Allah, tetapi harus menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menghadap Allah dengan segenap jiwa dan raga, serta hidup yang penuh dengan amal shaleh.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.