Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Dunia adalah Ladang Akherat.

    Apr 14 202574 Dilihat

    Dunia adalah  Ladang Akhirat

    “Dunia adalah ladang akhirat.”
    — Rasulullah SAW

    “Tanaman ada setelah ditanam. Menanamlah, engkau akan menuai.”
    — Syeikh Abdul Qadir al-Jailani

    “Tanamlah tanaman ini dengan hati dan badan, yaitu iman, pemeliharaannya, serta pengairan dan penyiramannya dengan amal-amal sholeh.”

     

    Menanam untuk Kehidupan yang Kekal

    Dalam kehidupan ini, manusia cenderung ingin hasil yang cepat: kesuksesan tanpa usaha, pahala tanpa ibadah, bahkan surga tanpa bekal. Namun Rasulullah SAW menyederhanakan semuanya dalam satu kalimat penuh hikmah: “Dunia adalah ladang akhirat.”

    Dunia bukan tempat istirahat. Ia adalah tempat bekerja, menabur, dan menanam. Ibarat seorang petani, manusia diberi tanah oleh Allah berupa waktu, kesempatan, dan kemampuan. Tapi tanah itu akan tetap kosong jika tidak ditanami amal.

    Tanaman tidak tumbuh dari angan-angan, tapi dari benih yang disemai dengan sabar dan disiram dengan ikhlas.

    Setiap kebaikan—walau kecil—adalah benih. Setiap amal sholeh adalah siraman. Setiap kesabaran di tengah ujian adalah pupuk. Setiap dzikir, doa, shalat, sedekah, dan senyuman tulus adalah tetes-tetes air yang menumbuhkan pohon-pohon amal.

     

    Iman Adalah Benih, Amal Adalah Airnya

    Syeikh Abdul Qadir al-Jailani memberi nasihat yang mendalam:
    “Tanamlah tanaman ini dengan hati dan badan, yaitu iman, pemeliharaannya, serta pengairan dan penyiramannya dengan amal-amal sholeh.”

    Iman bukan sekadar diucapkan, tapi ditanamkan. Dan seperti benih yang tidak dirawat akan mati, iman pun akan layu jika tidak diberi amal. Shalat adalah cahaya. Ilmu adalah akar. Cinta kepada Allah adalah sinar matahari yang membuatnya tumbuh menggapai langit.

    Tanamlah dengan hati—yakni niat yang tulus. Tanamlah dengan badan—yakni amal yang nyata. Maka imanmu tidak hanya hidup, tapi akan meneduhkan dirimu dan orang lain.

     

    Jangan Bosan Menanam

    Kadang kita lelah. Kadang kita merasa amal belum membuahkan apa pun. Tapi seperti petani yang tetap menyiram meski belum melihat tunas, begitu pula kita harus terus berbuat baik meski belum melihat balasannya.

    “Panen itu pasti, jika kau tidak berhenti menanam.”

    Allah tidak pernah lalai. Setiap kebaikan yang kamu tanam akan kembali padamu. Mungkin bukan dalam bentuk yang kamu harapkan, tapi dalam bentuk yang kamu butuhkan. Mungkin bukan hari ini, tapi pasti—entah di dunia atau di akhirat.

    Allah berjanji:

    “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
    (QS. Az-Zalzalah: 7)

     

    Penutup: Waktu Kita Menanam Adalah Sekarang

    Dunia ini fana, tapi ladangnya subur.
    Kesempatan hidup adalah cahaya yang hanya menyala sebentar.
    Tanamlah iman, rawatlah dengan amal, dan siramilah dengan cinta kepada Allah.
    Karena kelak, di hari di mana manusia mencari naungan, hanya pohon amal yang akan menaungi kita.

    Maka menanamlah—sekarang.
    Karena ladang ini bukan untuk ditinggalkan,
    tapi untuk dipenuhi dengan amal,
    agar kelak kita menuai surga.

    Setiap amal yang tidak didedikasikan untuk Allah Azza wa Jalla adalah debu yang beterbangan.

    Masya Allah… kalimat ini sangat kuat dan menohok—sekaligus menjadi cermin bagi kita semua. Mari kita sempurnakan artikel sebelumnya dengan penambahan penutup yang menghujam, terinspirasi dari kutipan tersebut:

    Penutup: Amal Tanpa Allah, Hanya Debu yang Beterbangan

    Syeikh Abdul Qadir al-Jailani berkata:

    “Setiap amal yang tidak didedikasikan untuk Allah Azza wa Jalla adalah debu yang beterbangan.”

    Bayangkan seseorang yang menghabiskan hidupnya dalam amal, kerja keras, ibadah, dan pengorbanan—namun semua itu tidak diniatkan untuk Allah. Tidak ada ikhlas. Tidak ada tauhid. Tidak ada cinta kepada Sang Pencipta.

    Semua itu laksana debu: tampak banyak, tampak sibuk… tapi hilang ditelan angin, tanpa bekas, tanpa arti.

    Maka benahilah niatmu, perbaharuilah hatimu, dan pastikan setiap amalmu bermuara kepada-Nya.
    Bukan untuk pujian manusia. Bukan untuk pamrih dunia. Tapi untuk Allah, semata-mata.

    Karena hanya amal yang terikat pada Allah yang akan tertulis di Lauh Mahfuz.
    Dan hanya amal yang ikhlas yang akan menumbuhkan pohon di taman surga.

     

    Akhir Kata

    Dunia ini ladang,
    Iman adalah benih,
    Amal sholeh adalah air,
    Dan keikhlasan… adalah cahayanya.

    Tanamlah hari ini,
    Rawatlah dengan hati,
    Dan niatkan semua karena Allah.

    Agar tak satu pun dari amalmu
    berakhir sebagai debu yang hilang di tiupan angin.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top