Ustadzfaqih • Feb 18 2026 • 52 Dilihat

Dua Perkara Paling Utama: Iman kepada Allah dan Memberi Manfaat bagi Sesama
Hikmah dari Nashā’ih al-‘Ibād karya Imam Nawawi al-Bantani
Dalam kitab Nashā’ih al-‘Ibād, Imam Nawawi al-Bantani mengutip sebuah sabda Rasulullah ﷺ tentang dua perkara paling utama dalam kehidupan seorang mukmin.
Berikut lafaz hadis tersebut dalam bahasa Arab:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: خَصْلَتَانِ لَيْسَ فَوْقَهُمَا شَيْءٌ: الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَالنَّفْعُ لِلْمُسْلِمِينَ، وَخَصْلَتَانِ لَيْسَ دُونَهُمَا شَيْءٌ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالضَّرَرُ لِلْمُسْلِمِينَ.
Artinya:
“Ada dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang lebih utama dari keduanya: iman kepada Allah dan memberi manfaat bagi kaum Muslimin. Dan ada dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang lebih buruk dari keduanya: syirik kepada Allah dan memberi mudarat kepada kaum Muslimin.”
Hadis ini sangat komprehensif. Ia tidak hanya menjelaskan puncak kebaikan, tetapi juga puncak keburukan.
Iman adalah fondasi seluruh amal. Tanpa iman, amal tidak bernilai di sisi Allah. Dengan iman, amal sederhana menjadi agung.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلنَّعِيمِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga-surga kenikmatan.” (QS. Luqman: 8)
Iman adalah cahaya yang menghidupkan hati dan mengarahkan seluruh gerak hidup kepada Allah.
Iman sejati melahirkan kepedulian sosial. Ia tidak berhenti pada ibadah pribadi, tetapi mengalir menjadi manfaat bagi umat.
Manfaat dapat diwujudkan melalui:
Seorang mukmin sejati menjadi rahmat bagi sekitarnya.
Dua Perkara Paling Utama: Iman kepada Allah dan Memberi Manfaat bagi Sesama
Di antara mutiara nasihat yang dihimpun oleh ulama besar Nusantara, Imam Nawawi al-Bantani, dalam kitab Nashā’ih al-‘Ibād, terdapat sabda Rasulullah ﷺ yang sangat mendasar:
“Ada dua perkara yang tiada sesuatu apa pun yang lebih utama dari keduanya: iman kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama Muslim.”
Hadis ini bukan sekadar anjuran moral. Ia adalah rumus kebangkitan pribadi dan peradaban. Ia merangkum seluruh dimensi Islam dalam dua poros besar:
Jika dua fondasi ini kokoh, maka kokohlah pribadi dan bangkitlah umat.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga-surga kenikmatan.” (QS. Luqman: 8)
Iman adalah asas. Ia bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi keyakinan yang menghidupkan hati.
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa iman adalah:
Tanpa iman, amal hanyalah aktivitas kosong.
Dengan iman, amal kecil menjadi bernilai besar di sisi Allah.
Dalam perspektif sufistik, iman adalah cahaya yang Allah tanamkan dalam hati.
Allah berfirman:
ٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَوۡلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخۡرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِۗ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ
“ Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 257)
Iman mengeluarkan manusia dari:
Iman membuat hati hidup.
Tanpa iman, manusia mungkin cerdas secara intelektual, tetapi gelap secara spiritual.
Iman sejati melahirkan kepasrahan (Islam). Ia menumbuhkan:
Orang yang beriman tidak hanya takut neraka, tetapi malu kepada Allah.
Iman bukan sekadar doktrin; ia adalah getaran jiwa.
Jika iman adalah akar, maka manfaat adalah buahnya.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis lain:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Iman yang tidak melahirkan manfaat adalah iman yang belum sempurna.
Ucapan seorang mukmin adalah rahmat:
Satu kalimat bisa mengangkat semangat orang yang hampir putus asa.
Allah berfirman:
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ ٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ يَنزَغُ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ كَانَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٗا مُّبِينٗا
“ Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra’: 53)
2.Manfaat dengan Kekuasaan
Jika Allah memberi amanah kekuasaan, maka manfaatkan untuk:
Kekuasaan tanpa iman menjadi tirani.
Kekuasaan dengan iman menjadi rahmat.
3.Manfaat dengan Harta
Harta dalam Islam bukan tujuan, tetapi sarana.
Zakat, infak, sedekah, wakaf — semuanya adalah bukti bahwa iman melahirkan kepedulian sosial.
Orang yang beriman sadar bahwa harta hanyalah titipan.
Tidak semua orang memiliki harta atau jabatan. Tetapi setiap orang bisa memberi manfaat dengan tenaga:
Khidmah (pelayanan) adalah mahkota orang beriman.
III. DIMENSI IDEOLOGIS: RUMUS KEBANGKITAN UMAT
Hadis ini bukan hanya etika individu, tetapi formula kebangkitan peradaban.
Peradaban Islam runtuh ketika:
Ketika iman kuat tetapi egoisme tinggi → lahir kesalehan individualistik.
Ketika kepedulian sosial ada tetapi iman lemah → lahir aktivisme tanpa arah akhirat.
Islam mengajarkan keseimbangan.
Iman membangun jiwa.
Manfaat membangun masyarakat.
Seorang arif billah mencintai Allah.
Dan siapa yang mencintai Allah akan mencintai makhluk-Nya.
Ia tidak sanggup melihat:
Iman melunakkan hati.
Hati yang lunak mudah tergerak untuk memberi.
Hati yang keras sulit peduli.
Mari kita bertanya:
Seorang mukmin sejati bukan hanya ahli sujud, tetapi ahli manfaat.
Dua perkara paling utama:
Iman tanpa manfaat adalah kurang sempurna.
Manfaat tanpa iman kehilangan nilai akhirat.
Iman adalah akar.
Manfaat adalah buah.
Iman adalah cahaya.
Manfaat adalah sinarnya.
Iman adalah hubungan dengan Allah.
Manfaat adalah rahmat untuk umat.
Semoga kita menjadi hamba yang:
Karena orang yang dekat kepada Allah dan bermanfaat bagi sesama adalah manusia paling mulia di sisi-Nya.
Hadis ini juga menegaskan dua keburukan terbesar:
Syirik menghancurkan fondasi iman.
Menyakiti sesama menghancurkan bangunan sosial.
Islam dibangun di atas tauhid dan ukhuwah.
Jika tauhid rusak → hancur hubungan dengan Allah.
Jika ukhuwah rusak → hancur hubungan dengan manusia.
Hikmah Ideologis dan Sufistik
Hadis ini merangkum seluruh bangunan Islam:
Iman melahirkan cinta kepada Allah.
Cinta kepada Allah melahirkan cinta kepada makhluk-Nya.
Seorang arif tidak mungkin mencintai Allah tetapi menyakiti hamba-Nya.
Refleksi
Mari bertanya kepada diri:
Karena ukuran kemuliaan bukan hanya panjangnya ibadah, tetapi luasnya manfaat.
Penutup
Dua perkara paling tinggi:
✔ Iman kepada Allah
✔ Memberi manfaat bagi sesama
Dua perkara paling rendah:
✘ Syirik kepada Allah
✘ Memberi mudarat kepada sesama
Semoga kita termasuk hamba yang:
Dan semoga Allah menjauhkan kita dari segala bentuk syirik dan segala bentuk menyakiti sesama.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
PENGUSAHA MUSLIM: ANTARA BISNIS DAN MISI ILAHIYAH “Bangun Bisnis yang Kuat untuk Bangkitkan Perada...
Akal, Dzikir, dan Tekad: Jalan Sufistik Membangun Peradaban Mukmin Dalam lanskap kehidupan mo...
Akhlak Ketika Dikenal Sebagai Orang Berilmu: Ujian Sunyi Para Pewaris Cahaya Dalam perjalanan...
Adab Duduk Bersama Orang Berilmu: Jalan Sunyi Menuju Cahaya Makrifat Dalam perjalanan panjang...
RAHASIA MAKRIFAT: JALAN SUNYI MENUJU ALLAH Telaah Ideologis–Sufistik atas Pemikiran Izzuddin bin A...
SILATURRAHIM DAN MAGNET REZEKI Jalan Ideologis–Sufistik Menuju Keberkahan Hidup dan Kemuliaan Umat...
dua perkara yang paling utama dalam hidup seorang Muslim adalah iman kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama,seorang mukmin sejati bukan hanya beribadah kepada Allah, tetapi juga aktif membawa kebaikan bagi orang lain.
Sedikit kata, tetapi besar dampaknya.
Doanya pun tidak meninggikan diri, melainkan mengakui kelemahan dan berharap perlindungan Allah—itulah tanda hati yang hidup.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang selamat tauhidnya dan selamat keberadaannya bagi orang lain. Aamiin.