Ustadzfaqih • Mei 30 2025 • 79 Dilihat

Dari Awal Sampai Akhir: Dua Titik Penting dalam Perjalanan Kehidupan
“Wajib atas kita untuk mengimani apa yang ada sebelum dunia ini, yaitu Allah SWT. Dan wajib pula atas kita mengimani kehidupan setelah dunia ini, yaitu hari akhirat.”
Pendahuluan: Hidup Bukan Sekadar Sekarang
Manusia modern sering terjebak dalam kesibukan duniawi yang intens: mengejar pendidikan, penghasilan, prestasi, dan segala pencapaian yang bisa dilihat dan diukur. Padahal, hidup ini bukan hanya tentang ‘sekarang’. Hidup adalah rentang perjalanan dari titik awal (yang tak terlihat oleh mata) menuju titik akhir (yang belum disadari oleh banyak jiwa).
Dalam Islam, hidup adalah sebuah perjalanan abadi — dari Allah, menuju Allah. Kita datang dari keabadian dan menuju keabadian. Dunia hanyalah satu episode singkat dalam film panjang kehidupan ruhani.
Allah adalah Al-Awwal (Yang Maha Awal). Ia telah ada sebelum segala sesuatu diciptakan.
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Hadid: 3)
Mengimani Allah sebagai satu-satunya yang ada sebelum segala yang ada, adalah pondasi keimanan. Ia tidak lahir, tidak diciptakan, dan tidak tergantung pada waktu dan ruang. Segala sesuatu berasal dari-Nya.
Iman kepada Allah bukan sekadar percaya ada Tuhan, tetapi menyadari bahwa hidup kita adalah amanah dari-Nya. Segala gerak-gerik kita akan kembali kepada-Nya.
Sayyid Abdul Qadir al-Jailani pernah berkata:
“Ketika kamu sadar bahwa segala yang kamu miliki berasal dari Allah, maka kamu akan meletakkan dunia di tangan, bukan di hati.”
Dunia ini bukan rumah abadi, melainkan ladang ujian dan persiapan untuk kehidupan sesungguhnya. Dunia hanyalah fase tengah, bukan titik akhir.
Dunia diciptakan untuk membuktikan siapa yang paling baik amalnya, bukan siapa yang paling banyak hartanya.
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka: siapa di antara mereka yang paling baik amalnya.”
(QS. Al-Kahfi: 7)
Mengimani bahwa dunia adalah tempat ujian, menjadikan kita tidak terlalu larut dalam kebahagiaan dan tidak terlalu tenggelam dalam kesedihan. Orang beriman hidup dengan visi akhirat, bukan visi jangka pendek duniawi semata.
“Wajib mengimani kehidupan setelah dunia, yaitu Hari Akhirat.”
Iman kepada Hari Akhir adalah rukun iman ke-5, dan merupakan titik kesadaran tertinggi dalam Islam. Di sanalah semua rahasia akan dibuka, semua amal akan ditimbang, dan semua jiwa akan menerima balasannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menahan nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”
(HR. Tirmidzi)
Iman kepada akhirat membuat seseorang tidak berani menzalimi, karena ia tahu akan dimintai pertanggungjawaban. Ia tidak rakus, karena tahu dunia hanya sementara. Ia sabar, karena yakin surga adalah balasan terbaik.
Hidup seorang Muslim seharusnya selalu dalam dua orientasi: dari Allah dan kepada akhirat. Inilah yang membuat hidup menjadi lurus, jujur, bersih, dan penuh makna.
Inilah ruh dari ayat agung:
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali.”
(QS. Al-Baqarah: 156)
Sudahkah kita hidup sebagai hamba dari Allah yang awal?
Sudahkah kita bersiap untuk akhir yang kekal?
Banyak orang tahu bahwa mereka akan mati, tetapi sedikit yang mempersiapkan hidup setelah kematian. Padahal, siapa pun yang lahir, pasti akan mati. Dan siapa yang mati, pasti akan dibangkitkan kembali untuk dihisab.
Sayyid Abdul Qadir al-Jailani mengingatkan:
“Dunia ini seperti bayangan; kejar dia, dan ia akan lari. Tinggalkan dia, dan ia akan mengikutimu.”
Penutup: Kembali kepada Hakikat
Iman kepada Allah sebagai asal segala yang ada dan iman kepada akhirat sebagai tujuan akhir kehidupan, adalah dua sayap yang membawa manusia kepada kemuliaan.
Tanpa keduanya, hidup akan kosong, gersang, dan menyesatkan. Tetapi bila keduanya hadir dalam hati, hidup akan menjadi ringan, terang, dan mengarah lurus kepada Surga-Nya.
Mari kita hidup dalam kesadaran:
Bahwa kita berasal dari Allah — maka kita harus berjalan sesuai kehendak-Nya.
Dan kita akan kembali kepada Allah — maka kita harus membawa bekal untuk pertemuan itu.
“Barang siapa mengenal awalnya, dan sadar akan akhirnya, maka ia akan hidup di tengah dengan bijaksana.”
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.