Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Ciri-ciri Orang yang Cerdas dalam Islam.

    Mar 12 2025164 Dilihat

    Ciri-ciri Orang yang Cerdas dalam Islam.

     

    Orang yang cerdas adalah orang yang akalnya terhindar dari memikirkan perkara-perkara yang tercela.

    Betul sekali! Orang yang cerdas bukan hanya mereka yang memiliki IQ tinggi atau kemampuan berpikir logis, tetapi juga mereka yang bijaksana dalam memilih apa yang dipikirkan. Dalam Islam, kecerdasan sejati bukan hanya soal kepintaran intelektual, tetapi juga kebersihan hati dan kejernihan akal dari hal-hal yang tidak bermanfaat atau bahkan tercela.

     

    Ciri-Ciri Orang yang Cerdas dalam Islam

    Memikirkan Hal yang Bermanfaat

    • Rasulullah ﷺ bersabda:
      “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
    • Orang cerdas akan fokus pada ilmu, amal, dan perbuatan yang mendekatkannya kepada Allah, bukan sibuk dengan gosip, prasangka buruk, atau perkara sia-sia.

    Menjauhi Perkara yang Tercela

    • Akal yang sehat tidak disibukkan dengan dendam, iri hati, atau hal-hal yang melalaikan dari tujuan hidup yang hakiki.
    • Mereka menjauhi perdebatan yang sia-sia dan lebih memilih untuk berpikir produktif.

    Merenungi Akhirat

    • Rasulullah ﷺ bersabda:
      “Orang yang cerdas adalah yang mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelahnya.” (HR. Tirmidzi)
    • Mereka tidak hanya memikirkan dunia, tetapi juga menyiapkan bekal untuk kehidupan abadi.

    Menggunakan Akal untuk Kebaikan

    • Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Orang yang cerdas adalah yang tidak tertipu oleh dunia dan tidak diperbudak oleh hawa nafsunya.”
    • Mereka mengarahkan pikirannya untuk mencari ilmu, berbuat baik, dan meningkatkan kualitas diri.

     

    Kesimpulan

    Orang yang benar-benar cerdas adalah mereka yang menjaga akalnya dari hal-hal yang sia-sia dan tercela, serta menggunakan pikirannya untuk sesuatu yang bermanfaat di dunia dan akhirat.

    Gunakan akal untuk berpikir positif, mencari ilmu, dan mendekat kepada Allah. Itulah kecerdasan sejati!

     

    Penuntut Ilmu membutuhkan tiga perangai : Pertama Rezeki yang lapang. Kedua. Usia yang panjang. Ketiga. Akal yang cerdas.

    Betul! Seorang penuntut ilmu membutuhkan tiga hal utama agar bisa sukses dalam menuntut dan mengamalkan ilmu. Berikut penjelasannya:

    1. Rezeki yang Lapang (رزق واسع)
    • Ilmu membutuhkan konsentrasi dan ketenangan hati. Jika seseorang terlalu sibuk dengan kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi, maka sulit baginya untuk fokus dalam belajar.
    • Bukan berarti harus kaya raya, tetapi memiliki kecukupan rezeki agar bisa membeli buku, membayar guru, dan memenuhi kebutuhan hidup selama menuntut ilmu.
    • Oleh karena itu, doa memohon keberkahan rezeki sangat penting bagi penuntut ilmu.

    Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

     

    2.Usia yang Panjang (عمر طويل)

    • Ilmu tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat. Diperlukan proses yang panjang, konsistensi, dan ketekunan.
    • Seorang penuntut ilmu butuh umur yang panjang dan berkah, sehingga bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar dan mengajarkan ilmu.
    • Ibnu Qayyim berkata: “Jika seseorang tidak memiliki waktu yang cukup dalam hidupnya untuk menuntut ilmu, maka dia akan kehilangan banyak kebaikan.”

    Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk berdoa agar diberikan umur yang panjang dan bermanfaat. Salah satu doa yang diajarkan:
    اللهم بارك لنا في أعمارنا وأعمالنا
    “Ya Allah, berkahilah umur dan amal kami.”

     

    1. Akal yang Cerdas (عقل ذكي)
    • Kecerdasan akal sangat penting dalam memahami ilmu, terutama dalam memilah yang benar dan salah, serta mengamalkan ilmu dengan baik.
    • Bukan hanya kecerdasan intelektual (IQ), tetapi juga kecerdasan spiritual (taqwa), kecerdasan emosional (sabar dalam belajar), dan kecerdasan sosial (sopan terhadap guru dan teman sejawat).
    • Imam Syafi’i pernah berkata:
      “Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada hati yang gelap (penuh maksiat).”

    Oleh karena itu, ilmu harus dicari dengan niat yang lurus, hati yang bersih, dan akal yang cerdas.

    Kesimpulan

    Seorang penuntut ilmu idealnya memiliki:
    Rezeki yang cukup, agar bisa belajar tanpa terganggu kebutuhan hidup.
    Usia yang panjang, agar bisa belajar secara mendalam dan mengamalkan ilmu.
    Akal yang cerdas, agar dapat memahami dan menerapkan ilmu dengan baik.

    Maka, jangan hanya meminta ilmu, tetapi mintalah juga rezeki yang berkah, umur yang bermanfaat, dan kecerdasan akal yang bersih dari maksiat!

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    • mareta sugih pratama putri berkata:

      sebaik baik nya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi org lain

    • azka chusnayaina berkata:

      Dalam Islam, kecerdasan tidak semata-mata diukur dari kemampuan intelektual atau prestasi duniawi, tetapi dari sejauh mana seseorang mampu memandang hidup dengan perspektif akhirat. Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang cerdas adalah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.’ (HR. Tirmidzi). Maka ciri-ciri orang cerdas dalam Islam antara lain: suka muhasabah (evaluasi diri), sadar akan tujuan hidup, menjadikan dunia sebagai ladang amal, dan mampu menahan hawa nafsu. Ia juga bijak dalam bersikap, menjaga lisan, serta memanfaatkan waktu untuk kebaikan. Inilah kecerdasan sejati—yang tidak hanya berguna di dunia, tapi juga menyelamatkan di akhirat.”

    • afifatul faiza berkata:

      pintar dan cerdas sesungguhnya adalah yg bisa menepatkan waktu pada tempatnya dan mencari ilmu dunia dan akherat yg seimbang

    • Fiftina berkata:

      Orang cerdas adalah yang introspektif, menyiapkan bekal akhirat, dan bijak dalam sikap.

    • Qori’atul afifah berkata:

      seseorang yang cerdas bisa menempatkan dirinya di manapun dia berada tanpa memamerkan siapa dirinya di hadapan orang lain

    • Izzatin Nisa berkata:

      Cerdas bukan dari segala tujuan hidup

    • Izzatin Nisa berkata:

      Kecerdasan tidak hanya diukur dari dia bisa mendapatkan juara dalam segi apapun, cerdas juga bisa di golongkan dalam setiap proses untuk menuju hasil yang bisa bermanfaat bagi semua orang

    • Izzatin nisa berkata:

      Orang cerdas adalah orang yang memiliki pemikiran yang luar biasa terkadang orang cerdas bisa mengalahkan orang yang pintar

    • Izzatin nisa berkata:

      Dari sini kita bisa pahami orang cerdas pasti bijaksana

    • Izzatin nisa berkata:

      Dari sini kita bisa pahami orang cerdas tidak dari pikiran saja

    • Arlina Pebriyanti berkata:

      Kecerdasan bukan hanya tentang materi saja tapi bagaimana kita mengamalkannya

    • Fasihatul amaliya berkata:

      Dari sini bisa dipahami bahwa cerdas tidak hanya dari akal pikiran, tapi bagaimana bisa menggunakan kecerdasan untuk hal yang bermanfaat, dan mengetahui hal-hal yang tercela maupun tidak

    • najma khusnul nur'aini berkata:

      orang cerdas bukan yang memiliki IQ tinggi namun yang mempergunakan akalnya untuk memikirkan perkara baik, dan tidak membiarkan akalnya memikirkan perkara tercela atau buruk.masyaallah bapak, terimaksih atas ilmu yang panjenengan berikan.

    • Nilam Mabruroh berkata:

      Orang yang cerdas itu adalah orang yang bijaksana dalam mengambil keputusan dan selalu berpikir kedepan untuk mempersiapkan masa depannya (kehidupan akhirat)

    • Ma'arif efendi berkata:

      Dalam Islam, orang yang dianggap cerdas bukan hanya mereka yang pintar secara intelektual, tapi lebih kepada kebijaksanaan dalam memahami tujuan hidup dan mempersiapkan akhirat.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top