Ustadzfaqih • Feb 16 2025 • 150 Dilihat

Cara Allah Membimbing Hamba-Nya.
Siapa tidak mendekat kepada Allah gara-gara halusnya kebakan yang Dia berikan, maka ia akan diseret ( Supaya mendekat) dengan rantai cobaan. kata Ibnu Athaillah.
Kata-kata Ibnu Athaillah ini memiliki makna yang sangat dalam tentang cara Allah membimbing hamba-Nya.
Jika seseorang tidak mendekat kepada Allah ketika mendapatkan nikmat dan kebaikan yang lembut, maka Allah akan mengujinya dengan cobaan agar ia kembali kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa dalam segala keadaan—baik nikmat maupun ujian—tujuan akhirnya adalah mendekatkan diri kepada Allah.
Pesan ini mengajarkan bahwa kita seharusnya tidak menunggu musibah untuk ingat kepada Allah, melainkan bersyukur dan semakin dekat kepada-Nya sejak awal, baik dalam kesenangan maupun kesulitan.
Nikmat dan ujian dari Allah tujuan akhirnya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Ya, benar sekali. Nikmat dan ujian yang Allah berikan pada hakikatnya adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Seperti dalam firman Allah:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Pada akhirnya, baik nikmat maupun cobaan adalah bentuk tarbiyah (pendidikan) dari Allah agar manusia lebih mengenal-Nya dan mendekat kepada-Nya.
Bagaimana menghadapi ujian dari Allah baik berupa kenikmatan ataupun kesusahan.
Menghadapi ujian dari Allah, baik berupa kenikmatan maupun kesusahan, memerlukan sikap yang benar agar kita tetap berada di jalan-Nya. Berikut adalah cara menghadapinya:
Nikmat juga merupakan ujian. Banyak orang lalai ketika diberi kemudahan dan kelimpahan. Cara menghadapinya:
Ketika diuji dengan kesulitan, cara terbaik menghadapinya adalah:
Kesimpulan
Baik nikmat maupun kesulitan adalah ujian yang bertujuan untuk menguji iman kita. Cara terbaik menghadapinya adalah dengan bersyukur saat diberi nikmat dan bersabar saat diberi cobaan.
Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Ibnu Athaillah mengatakan, ” Takutlah bahwa bila kebaikan Allah selalu engkau peroleh pada saat engkau tetap berbuat maksiat kepada-Nya, itu lambat laun akan menghancurkanmu.
Kata-kata Ibnu Athaillah ini adalah peringatan mendalam tentang istidraj, yaitu kondisi di mana seseorang terus mendapatkan nikmat dari Allah meskipun ia tetap dalam kemaksiatan.
Makna Istidraj
Istidraj adalah ketika Allah memberikan kenikmatan dan kelapangan kepada seseorang yang terus bermaksiat, padahal itu bukan tanda kasih sayang, melainkan bagian dari rencana-Nya untuk menghukumnya secara perlahan.
Allah berfirman:
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kenikmatan) untuk mereka. Hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
(QS. Al-An’am: 44)
Tanda-Tanda Istidraj
Bagaimana Menghindari Istidraj?
Kata-kata Ibnu Athaillah ini mengajarkan kita untuk tidak merasa aman hanya karena hidup dalam kelapangan. Sebaliknya, kita harus selalu introspeksi diri: Apakah ini nikmat yang mendekatkan atau justru jebakan dari Allah?
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.