Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Cara Allah Membimbing Hamba-Nya.

    Feb 16 2025150 Dilihat

    Cara Allah Membimbing Hamba-Nya.

     

    Siapa tidak mendekat kepada Allah gara-gara halusnya kebakan yang Dia berikan, maka ia akan diseret ( Supaya mendekat) dengan rantai cobaan. kata Ibnu Athaillah.

    Kata-kata Ibnu Athaillah ini memiliki makna yang sangat dalam tentang cara Allah membimbing hamba-Nya.

    Jika seseorang tidak mendekat kepada Allah ketika mendapatkan nikmat dan kebaikan yang lembut, maka Allah akan mengujinya dengan cobaan agar ia kembali kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa dalam segala keadaan—baik nikmat maupun ujian—tujuan akhirnya adalah mendekatkan diri kepada Allah.

    Pesan ini mengajarkan bahwa kita seharusnya tidak menunggu musibah untuk ingat kepada Allah, melainkan bersyukur dan semakin dekat kepada-Nya sejak awal, baik dalam kesenangan maupun kesulitan.

     

    Nikmat dan ujian dari Allah tujuan akhirnya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    Ya, benar sekali. Nikmat dan ujian yang Allah berikan pada hakikatnya adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

    1. Nikmat sebagai Ujian
      Ketika seseorang diberi kelimpahan rezeki, kesehatan, dan kebahagiaan, itu adalah bentuk kasih sayang Allah. Namun, nikmat ini bisa menjadi ujian: apakah kita akan bersyukur dan tetap taat kepada-Nya, atau malah lalai dan merasa cukup tanpa-Nya?
    2. Cobaan sebagai Pengingat
      Ujian seperti kesulitan, kehilangan, atau penderitaan sering kali menjadi cara Allah menarik hamba-Nya agar kembali mengingat-Nya. Bagi orang yang sadar, ujian adalah tanda cinta Allah agar ia lebih mendekat dan bergantung hanya kepada-Nya.

    Seperti dalam firman Allah:

    “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
    (QS. Al-Insyirah: 6)

    Pada akhirnya, baik nikmat maupun cobaan adalah bentuk tarbiyah (pendidikan) dari Allah agar manusia lebih mengenal-Nya dan mendekat kepada-Nya.

     

    Bagaimana menghadapi ujian dari Allah baik berupa kenikmatan ataupun kesusahan.

    Menghadapi ujian dari Allah, baik berupa kenikmatan maupun kesusahan, memerlukan sikap yang benar agar kita tetap berada di jalan-Nya. Berikut adalah cara menghadapinya:

    1. Menghadapi Ujian dalam Bentuk Kenikmatan

    Nikmat juga merupakan ujian. Banyak orang lalai ketika diberi kemudahan dan kelimpahan. Cara menghadapinya:

    • Bersyukur kepada Allah
      • Menyadari bahwa semua yang kita miliki berasal dari Allah.
      • Mengucapkan Alhamdulillah dan memperbanyak doa syukur.
      • Menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan dan dalam ketaatan kepada-Nya.
    • Tidak sombong dan lalai
      • Jangan merasa semua itu murni hasil usaha sendiri.
      • Tetap rendah hati dan terus berbuat baik kepada sesama.
    • Menjaga hati agar tidak cinta dunia secara berlebihan
      • Jangan sampai nikmat dunia membuat kita jauh dari Allah.
      • Ingat bahwa dunia hanya sementara dan merupakan sarana untuk mencari bekal akhirat.
    1. Menghadapi Ujian dalam Bentuk Kesusahan

    Ketika diuji dengan kesulitan, cara terbaik menghadapinya adalah:

    • Bersabar dan tetap husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah
      • Meyakini bahwa setiap ujian pasti ada hikmahnya.
      • Tidak mengeluh atau berputus asa, karena Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya (QS. Al-Baqarah: 286).
    • Meningkatkan ibadah dan doa
      • Memperbanyak dzikir dan istighfar.
      • Memohon pertolongan kepada Allah dengan shalat dan kesabaran (QS. Al-Baqarah: 153).
    • Mengambil pelajaran dari ujian
      • Merenungi apakah ada dosa atau kesalahan yang harus diperbaiki.
      • Menjadikan ujian sebagai cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

    Kesimpulan

    Baik nikmat maupun kesulitan adalah ujian yang bertujuan untuk menguji iman kita. Cara terbaik menghadapinya adalah dengan bersyukur saat diberi nikmat dan bersabar saat diberi cobaan.

    Allah berfirman:

    “Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

    Ibnu Athaillah mengatakan, ” Takutlah bahwa bila kebaikan Allah selalu engkau peroleh pada saat engkau tetap berbuat maksiat kepada-Nya, itu lambat laun akan menghancurkanmu.

    Kata-kata Ibnu Athaillah ini adalah peringatan mendalam tentang istidraj, yaitu kondisi di mana seseorang terus mendapatkan nikmat dari Allah meskipun ia tetap dalam kemaksiatan.

    Makna Istidraj

    Istidraj adalah ketika Allah memberikan kenikmatan dan kelapangan kepada seseorang yang terus bermaksiat, padahal itu bukan tanda kasih sayang, melainkan bagian dari rencana-Nya untuk menghukumnya secara perlahan.

    Allah berfirman:

    “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kenikmatan) untuk mereka. Hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
    (QS. Al-An’am: 44)

    Tanda-Tanda Istidraj

    1. Terus diberikan nikmat meskipun terus bermaksiat.
    2. Merasa aman dari azab Allah.
    3. Tidak merasa bersalah atas dosa-dosanya.
    4. Semakin jauh dari ibadah dan tidak ada dorongan untuk bertaubat.

    Bagaimana Menghindari Istidraj?

    • Menyadari bahwa nikmat bukan selalu tanda keridhaan Allah.
    • Segera bertaubat dan kembali kepada Allah sebelum terlambat.
    • Mengevaluasi diri: apakah nikmat yang kita peroleh membawa kita lebih dekat atau justru menjauh dari Allah?
    • Jangan tertipu dengan dunia, karena yang lebih penting adalah keberkahan dan keridhaan Allah.

    Kata-kata Ibnu Athaillah ini mengajarkan kita untuk tidak merasa aman hanya karena hidup dalam kelapangan. Sebaliknya, kita harus selalu introspeksi diri: Apakah ini nikmat yang mendekatkan atau justru jebakan dari Allah?

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top