Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Allah Memberimu Inspirasi agar Kepada-Nya engkau Mendekati.

    Jan 29 202591 Dilihat

    Allah memberimu Inspirasi agar kepada-Nya engkau mendekati.

     

    Sobat. Kata-kata ini berasal dari Ibnu Atha’illah As-Sakandari, seorang sufi besar yang terkenal dengan “Al-Hikam”—kumpulan hikmah yang mendalam tentang spiritualitas dan perjalanan menuju Allah.

    Makna dari kalimat ini adalah bahwa inspirasi yang diberikan Allah kepada seseorang merupakan tanda bahwa Allah menghendaki orang tersebut mendekat kepada-Nya. Jika seseorang mendapatkan ilham, hidayah, atau dorongan untuk melakukan kebaikan, itu bukan sekadar kebetulan, melainkan panggilan dari Allah agar ia semakin dekat kepada-Nya.

    Dalam konteks tasawuf, inspirasi ini bisa berupa:

    1. Dorongan untuk beribadah – misalnya, munculnya keinginan untuk shalat lebih khusyuk atau memperbanyak dzikir.
    2. Kehadiran kesadaran spiritual – seperti menyadari kefanaan dunia dan pentingnya akhirat.
    3. Kemudahan dalam amal kebaikan – Allah memberi jalan bagi seseorang untuk berbuat baik, menghindari maksiat, dan meniti jalan lurus.

    Pesan utama dari hikmah ini adalah jika kita merasa tergerak untuk berbuat baik atau semakin mendekat kepada Allah, jangan abaikan perasaan itu, karena itu adalah tanda kasih sayang Allah yang mengundang kita menuju-Nya.

    Semoga kita selalu diberi inspirasi untuk mendekat kepada Allah.

    Hanya karena rahmat-Nya, kita menyadari keesaan-Nya dan datang menuju kehadiran-Nya.

    Kata-kata ini mencerminkan inti dari ajaran tasawuf, di mana kesadaran akan keesaan Allah (Tauhid) dan kemampuan kita untuk mendekat kepada-Nya adalah semata-mata karena rahmat-Nya.

    Dalam Islam, manusia tidak bisa mengenal atau mendekati Allah hanya dengan akal dan usaha sendiri. Bahkan ibadah dan amal shaleh yang kita lakukan bukanlah hasil dari kehebatan kita, melainkan karena taufik dan hidayah dari Allah. Seandainya bukan karena rahmat-Nya, mungkin kita tidak akan pernah sadar akan keberadaan-Nya, apalagi berusaha mendekat kepada-Nya.

    Hal ini sejalan dengan firman Allah:

    ۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۚ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ

    “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( QS. An-nur (24) : 21 )

     

    Sobat. Pada ayat ini Allah memperingatkan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, agar mereka itu jangan menuruti ajakan setan, mengikuti jejak dan langkahnya, seperti suka dan senang menyebarluaskan aib dan perbuatan keji di antara orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang senang mengikuti langkah-langkah setan, pasti ia akan terjerumus ke lembah kehinaan, berbuat yang keji dan mungkar, karena setan itu memang suka berbuat yang demikian.

    Oleh karena itu jangan sekali-kali mau mencoba-coba mengikuti jejak dan langkahnya. Sekiranya Allah tidak memberikan karunia dan rahmat kepada hamba-Nya dan yang selalu membukakan kesempatan sebesar-besarnya untuk bertobat dari maksiat yang telah diperbuat mereka, tentunya mereka tidak akan bersih dari dosa-dosa mereka yang mengakibatkan kekecewaan dan kesengsaraan, bahkan akan disegerakan azab yang menyiksa mereka itu di dunia ini, sebagaimana firman Allah:

    Dan Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya Dia tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. (an- Nahl/16: 61)

    Allah Yang mempunyai kekuasaan yang tertinggi, bagaimana pun juga, Dia tetap akan membersihkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari hamba-Nya, dengan menerima tobat mereka seperti halnya Hassan, Mistah bin Utsatsah dan lainnya. Mereka itu telah dibersihkan dari penyakit nifak, sekalipun mereka itu telah berperang secara aktif di dalam penyebaran berita bohong yang dikenal dengan “haditsul-ifki”, Allah Maha Mendengar segala apa yang diucapkan yang sifatnya menuduh dan ketentuan kebersihan yang dituduh, Maha Mengetahui apa yang terkandung dan tersembunyi di dalam hati mereka yang senang menyebarkan berita-berita keji yang memalukan orang lain.

    Juga dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:

    “Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya…”
    (HR. Bukhari)

    Dari sini kita belajar bahwa:

    1. Kesadaran akan Allah adalah anugerah, bukan sekadar hasil dari pencarian manusia.
    2. Ibadah dan kebaikan yang kita lakukan terjadi karena rahmat Allah, bukan karena kehebatan diri sendiri.
    3. Karena itu, kita harus selalu bersyukur dan rendah hati, memohon agar Allah senantiasa memberi kita hidayah dan kekuatan untuk mendekat kepada-Nya.

    Semoga Allah terus membimbing kita dengan rahmat-Nya agar semakin dekat kepada-Nya.

    Abdullah bin Mas’ud ra berkata, ” Sebaik-baik majelis adalah majelis yang menyebabkan tersebarnya kebijaksanaan dan diharapkan turunnya rahmat di dalamnya, yaitu majelis-majelis Dzikir yang membahas Ilmu untuk semakin dekat kepada-Nya.

    Perkataan Abdullah bin Mas’ud r.a. ini menunjukkan betapa pentingnya majelis ilmu dan dzikir dalam kehidupan seorang Muslim. Ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari pernyataan ini:

    1. Majelis yang Menyebarkan Kebijaksanaan
    • Kebijaksanaan (hikmah) adalah anugerah Allah yang diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.
    • Majelis yang dipenuhi ilmu akan membantu manusia memahami hakikat kehidupan, kebenaran, dan cara mendekat kepada Allah.
    1. Majelis yang Mengundang Rahmat Allah
    • Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa majelis ilmu dan dzikir dikelilingi oleh para malaikat, diberikan ketenangan, dan dipenuhi rahmat Allah:

    “Tidaklah suatu kaum duduk dalam suatu majelis untuk mengingat Allah, kecuali para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim)

    • Ini menunjukkan bahwa lingkungan yang baik dan penuh ilmu akan membawa berkah dalam kehidupan.
    1. Majelis yang Menguatkan Hubungan dengan Allah
    • Dalam Islam, ilmu bukan sekadar untuk dipahami, tetapi untuk diamalkan agar semakin dekat dengan Allah.
    • Ilmu yang benar akan membimbing seseorang untuk lebih bertakwa, lebih ikhlas, dan lebih berakhlak mulia.

    Kesimpulan

    Perkataan Abdullah bin Mas’ud ini mengajarkan kita untuk selalu memilih lingkungan yang baik, menghadiri majelis ilmu, dan memperbanyak dzikir agar hidup dipenuhi hikmah dan rahmat Allah.

    Semoga kita selalu diberi taufik untuk duduk di majelis-majelis yang diberkahi Allah. Aamiin.

    ( Dr. Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top