Ustadzfaqih • Apr 10 2025 • 72 Dilihat

Siapkan Bekal Menuju Akherat.
Siapa yang mempersiapkan bekal di dunia untuk perjalanan menuju akhirat, niscaya kelak dia menjadi kekasih Allah.
Kalimat yang disampaikan di atas adalah nasihat yang sangat dalam maknanya dan mengandung hikmah yang besar. Intinya, siapa pun yang mempersiapkan diri di dunia ini — baik dengan amal shaleh, ilmu, keikhlasan, dan taqwa — untuk kehidupan akhirat, maka dia akan mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah, bahkan bisa menjadi kekasih-Nya.
Dalam Islam, konsep wali Allah (kekasih Allah) sering dikaitkan dengan orang-orang yang memiliki iman yang kokoh dan selalu bertakwa. Seperti dalam firman Allah:
أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”
(QS. Yunus: 62-63)
Bekal yang dimaksud tentu bukan bekal materi, melainkan amal ibadah, akhlak yang baik, ilmu yang bermanfaat, dan pengabdian kepada Allah.
Refleksi spiritual.
Berikut adalah refleksi spiritual yang bisa kamu renungkan atau jadikan sebagai pengingat diri:
Refleksi Spiritual
Bekal Menuju Kekasih-Nya
Di dunia ini, kita semua adalah musafir — pengembara yang sedang menempuh perjalanan panjang menuju kampung akhirat. Setiap langkah yang kita ambil, setiap pilihan yang kita buat, adalah bagian dari persiapan bekal untuk kehidupan yang abadi.
Bukan harta, bukan jabatan, bukan pujian manusia yang akan menemani kita kelak. Yang akan menjadi teman setia di alam kubur dan pemberat timbangan di hari hisab adalah amal shaleh, keikhlasan, zikir yang lirih di malam sunyi, air mata taubat, dan sedekah yang disembunyikan.
Siapa yang menyiapkan bekal sejak di dunia — dengan hati yang tunduk, lisan yang bersih, dan tangan yang ringan untuk memberi — niscaya Allah akan menerimanya sebagai kekasih.
Bukan karena banyaknya amal, tetapi karena keikhlasan dan cinta yang tulus kepada-Nya.
Menjadi kekasih Allah bukanlah kemewahan dunia, tapi puncak dari perjalanan ruhani — saat hati hanya bergantung pada-Nya, dan jiwa rindu untuk kembali kepada Sang Pemilik.
Maka tanyakanlah pada diri sendiri:
Sudahkah aku menyiapkan bekalku? Sudahkah aku berjalan menuju-Nya, bukan menjauh dari-Nya?
Monolog: Bekal Menuju Kekasih-Nya
Aku hidup di dunia ini…
katanya hanya sementara.
Tapi mengapa aku begitu sibuk mengejar yang fana?
Mengapa hatiku sering lupa bahwa langkahku ini sedang menuju akhir?
Hari-hari berlalu, usia menua,
dan aku masih saja mengumpulkan bekal yang tidak akan ikut masuk kubur.
Padahal aku tahu…
yang akan menyambutku nanti bukan rumah besar, bukan gelar, bukan angka di rekening.
Tapi amal. Hanya amal.
Aku bertanya pada diriku sendiri,
apa yang sudah aku siapkan untuk pulang?
Adakah malam-malamku penuh doa dan tangis?
Adakah siangku diisi memberi, bukan sekadar memiliki?
Allah…
aku ingin menjadi kekasih-Mu.
Bukan karena aku layak,
tapi karena aku rindu.
Karena aku lelah mencintai dunia yang tak pernah benar-benar mencintaiku kembali.
Aku tahu, jalan menuju-Mu bukan mudah.
Tapi aku ingin melangkah.
Meski lambat, meski sering jatuh,
aku ingin tetap berjalan.
Ajari aku, ya Rabb…
untuk memilih bekal yang Engkau cintai.
Karena aku tahu,
siapa yang menyiapkan bekalnya sejak di dunia,
Engkau akan sambut sebagai kekasih-Mu di akhirat.
( 12 Syawal 1446H , Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.