Ustadzfaqih • Apr 03 2025 • 145 Dilihat

Menggantungkan Harapan-harapan hanya kepada Allah SWT.
Nasehat Ibnu Athaillah : Niat harapan Anda jangan sampai melampaui selain Allah. Allah Yang Maha Pemurah itu tidak bisa dilampaui oleh harapan-harapan.
Nasehat dari Ibnu Athaillah ini mengajarkan kita untuk menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Harapan yang melebihi Allah, seperti terlalu bergantung pada manusia, harta, atau dunia, pada akhirnya akan mengecewakan. Allah adalah satu-satunya tempat bergantung yang Maha Pemurah dan tidak akan mengecewakan hamba-Nya.
Pesan ini juga mengingatkan bahwa berharap kepada selain Allah bisa membuat hati resah, karena manusia dan dunia itu terbatas, sementara kasih sayang dan pemberian Allah tidak terbatas. Oleh karena itu, dalam setiap usaha dan doa, niatkan untuk Allah semata dan yakinlah bahwa apa yang datang dari-Nya adalah yang terbaik.
Allah ada karena dirinya sendiri, bukan karena yang lain. Oleh sebab itu, Allah adalah pemilik ada yang bersifat azali yang tidak ada awalnya.
Benar sekali! Pernyataan ini menegaskan salah satu sifat Allah, yaitu Wujud (Ada), yang bersifat Azali dan Qidam (tidak berawal). Allah ada dengan sendirinya, tidak bergantung pada apa pun, berbeda dengan makhluk yang keberadaannya selalu bergantung pada sesuatu yang lain.
Sifat Azali berarti Allah tidak memiliki permulaan, sedangkan Qiyamuhu binafsihi berarti Allah berdiri sendiri, tidak membutuhkan sebab untuk ada. Ini membedakan Allah dari semua makhluk yang ada karena diciptakan.
Konsep ini menjadi inti dari tauhid dalam Islam—mengenali bahwa Allah adalah Al-Awwal (Yang Maha Awal) dan Al-Akhir (Yang Maha Akhir). Keberadaan-Nya bukan hasil dari sesuatu yang lain, dan tidak ada sebelum-Nya.
Kalau dipikirkan lebih dalam, konsep ini juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu bergantung pada dunia, karena hanya Allah yang benar-benar abadi.
Ketika Anda menggantungkan harapan-harapan akan rezeki, maka menghadaplah kepada Yang Maha Memiliki langit dan bumi, yaitu Allah.
Betul sekali! Jika kita menggantungkan harapan tentang rezeki, kita harus menghadap kepada Allah, karena Dialah Al-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Langit dan bumi serta segala isinya adalah milik-Nya, sehingga hanya kepada-Nya kita meminta dan berserah.
Sering kali manusia terjebak dalam kekhawatiran tentang rezeki—takut kekurangan, takut tidak cukup. Padahal, rezeki sudah dijamin oleh Allah. Dalam QS. Hud: 6, Allah berfirman:
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
Namun, ini bukan berarti kita hanya duduk diam. Kita tetap berusaha dengan ikhlas, tetapi hati tetap yakin bahwa rezeki datang dari Allah, bukan dari pekerjaan, atasan, atau bisnis kita.
Ketika Anda menggantungkan harapan-harapan akan kedamaian, kebahagiaan, dan keamanan, maka menghadaplah kepada Allah yang berfirman dalam QS. An-Nahl (16) : 97 )
Ya, benar! Jika kita menginginkan kedamaian, kebahagiaan, dan keamanan, kita harus menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Dalam QS. An-Nahl (16): 97, Allah berfirman:
مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
“Barang siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
Ayat ini memberikan jaminan bahwa kebahagiaan sejati datang dari iman dan amal saleh. Kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) bukan sekadar harta atau kesuksesan dunia, tetapi ketenangan hati, keberkahan, dan rasa cukup dalam menjalani hidup.
Sobat. Kemudian Allah swt dalam ayat ini berjanji bahwa Allah swt benar-benar akan memberikan kehidupan yang bahagia dan sejahtera di dunia kepada hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengerjakan amal saleh yaitu segala amal yang sesuai petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Rasul, sedang hati mereka penuh dengan keimanan.
Rasulullah bersabda:
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup dan menerima dengan senang hati atas pemberian Allah. (Riwayat Ahmad)
Kehidupan bahagia dan sejahtera di dunia ini adalah suatu kehidupan di mana jiwa manusia memperoleh ketenangan dan kedamaian karena merasakan kelezatan iman dan kenikmatan keyakinan. Jiwanya penuh dengan kerinduan akan janji Allah, tetapi rela dan ikhlas menerima takdir. Jiwanya bebas dari perbudakan benda-benda duniawi, dan hanya tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mendapatkan limpahan cahaya dari-Nya.
Jiwanya selalu merasa puas terhadap segala yang diperuntukkan baginya, karena ia mengetahui bahwa rezeki yang diterimanya itu adalah hasil dari ketentuan Allah swt. Adapun di akhirat dia akan memperoleh balasan pahala yang besar dan paling baik dari Allah karena kebijaksanaan dan amal saleh yang telah diperbuatnya serta iman yang bersih yang mengisi jiwanya.
Sering kali manusia mencari kebahagiaan di luar—harta, status sosial, atau kesenangan duniawi—padahal kebahagiaan sejati hanya ada dalam ketakwaan dan keikhlasan kepada Allah. Ketika kita benar-benar menyerahkan harapan kepada-Nya, hati menjadi tenang, karena kita yakin bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik menurut-Nya.
Jadi, tauhid pada level keyakinan dan ucapan lisan harus mewujud dalam tauhid dalam perilaku pribadi dan hubungan sosial. Tauhid inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW.
Benar sekali! Tauhid bukan hanya sebatas keyakinan dalam hati atau ucapan lisan semata, tetapi harus tercermin dalam perilaku pribadi dan hubungan sosial. Rasulullah SAW mengajarkan tauhid yang utuh—bukan sekadar mengakui keesaan Allah, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tauhid dalam Perilaku Pribadi
Tauhid dalam Hubungan Sosial
Tauhid yang hanya ada di lisan tapi tidak diwujudkan dalam tindakan adalah tauhid yang belum sempurna. Oleh karena itu, Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan kalimat Laa ilaaha illallah, tetapi juga membimbing umat untuk hidup sesuai dengan ajaran tauhid itu—dengan keadilan, kasih sayang, dan akhlak mulia.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
Nasehat Ibnu Athaillah ini sangat mendalam, mengingatkan kita untuk menjaga niat dan harapan hanya kepada Allah semata. Ketika harapan kita tidak melewati Allah, itu berarti kita menempatkan Allah sebagai satu-satunya sumber segala kebaikan dan pertolongan. Allah Maha Pemurah, dan rahmat-Nya tak terbatas, sehingga tidak ada harapan yang lebih tinggi dari Dia. Dengan menempatkan harapan hanya kepada Allah, kita terhindar dari kekecewaan dan kebingungan yang muncul saat mengandalkan selain-Nya. Ini juga menumbuhkan ketenangan jiwa dan meningkatkan keimanan, karena sadar bahwa segala sesuatu terjadi atas izin dan kehendak Allah.”
Memotivasi sekali bapak.Karena bisa mrnjadi alarm bagi para manusia yg kerap lupa dan lalai
beranfaat sekalii bagi saya
Dari sini saya belajar, bahwa semua keinginan atau apapun harus kita pasrahkan kepada Allah SWT karena itu adalah milik Allah semata
mempasrahkan segala urusan serta apapun kemauan kita kepada Allah adalah bentuk dari rasa ikhlas, sabar, serta syukur kita atas apa yang terjadi pada kita
Menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT membawa ketenangan jiwa dan keyakinan bahwa hanya Allah yang menentukan hasil akhir.
Berharap hanya kepada Allah, tidak boleh keselain Nya, karena akan berbeda hasilnya
Mengharap hanya kepada allah
Sangat bermanfaat dari situ dapat diambil pelajaran bahwa allah adalah tempat manusia kembali dan berharap untuk segala hal
kesimpulannya adalah pentingnya kita berharap hanya kepada allah, karna berharap kepada manusia hanya membuat hati kita menjadi resah dan kecewa
Dari pemaparan di atas mengajarkan kita untuk menggantungkan harapan hanyalah kepada allah.dan jika kita menggantungkan harapan kepada manusia,harta maupun dunia maka Allah lah yang mengecewakan kita
Penting nya berharap ke pada allah yg maha kuasa