Ustadzfaqih • Apr 03 2025 • 74 Dilihat

Janganlah Buta Mata Hatimu!
Sungguh mengherankan orang yang lari dari Dzat yang tidak bisa terlepas dari-Nya lalu mencari sesuatu yang tidak akan abadi bersamanya. ” Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
Kata-kata ini memiliki makna yang dalam. Manusia sering kali lari dari Allah, padahal tidak ada tempat untuk benar-benar bersembunyi dari-Nya. Sebaliknya, mereka malah mencari sesuatu yang fana—kesenangan dunia, harta, jabatan—yang pada akhirnya tidak akan kekal bersama mereka.
Ayat yang dikutip, “Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46), menegaskan bahwa kebutaan sejati bukanlah kebutaan fisik, tetapi kebutaan hati—ketika seseorang tidak mampu melihat kebenaran meskipun bukti-buktinya sudah jelas.
Benar, ungkapan itu berasal dari Ibnu Athaillah as-Sakandari, seorang sufi besar dan penulis Al-Hikam. Kata-kata beliau sering kali menggugah kesadaran spiritual kita.
Ungkapan tersebut mengajarkan bahwa manusia sering lari dari Allah, padahal tidak ada tempat yang benar-benar bisa membuatnya lepas dari-Nya. Ironisnya, dalam pelariannya, manusia malah mencari sesuatu yang tidak kekal—dunia dan segala isinya—yang pada akhirnya akan meninggalkannya.
Ibnu Athaillah banyak menekankan pentingnya tajrid (melepas ketergantungan pada dunia) dan tawakal (berserah diri sepenuhnya kepada Allah). Dalam konteks ini, ia mengingatkan bahwa kebutaan sejati bukanlah kebutaan mata, melainkan kebutaan hati yang tidak mampu melihat hakikat kebenaran.
Bagaimana cara kita bisa lebih sadar agar tidak terus-menerus “lari” dari Allah dalam kehidupan sehari-hari?
Agar kita tidak terus-menerus “lari” dari Allah dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu membangun kesadaran spiritual yang kuat. Beberapa cara yang bisa kita lakukan:
Sering mengingat Allah (dzikrullah) adalah kunci agar hati tetap terhubung dengan-Nya. Dzikir bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi juga kesadaran batin. Tafakkur (merenung) tentang ciptaan Allah dan perjalanan hidup juga membantu kita menyadari bahwa dunia ini fana.
Shalat adalah sarana utama komunikasi dengan Allah. Namun, sering kali kita melaksanakannya sekadar rutinitas. Jika kita berusaha lebih khusyuk—meresapi makna setiap bacaan dan merasa benar-benar menghadap Allah—sholat akan menjadi pengingat yang kuat agar tidak menjauh dari-Nya.
Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam berkata:
“Barang siapa menyangka bahwa dirinya bisa meninggalkan dunia dengan usahanya sendiri, maka dia masih bergantung pada dunia. Namun, siapa yang meninggalkan dunia karena melihat Allah, dialah yang benar-benar telah meninggalkannya.”
Dunia ini hanyalah jembatan menuju akhirat. Menyadari kefanaan dunia akan membuat kita lebih fokus pada hal yang abadi.
Ilmu agama membantu kita memahami bahwa hidup bukan sekadar mencari kesenangan dunia. Membaca Al-Qur’an dengan tafsirnya, mendalami hikmah para ulama, dan berdiskusi tentang makna hidup akan membantu kita lebih sadar akan tujuan sejati kehidupan.
Lingkungan sangat mempengaruhi kesadaran kita. Berada di sekitar orang-orang yang dekat dengan Allah akan membantu kita tetap berada di jalan yang benar.
Sering kali kita “lari” dari Allah karena terlalu menggantungkan diri pada dunia. Belajar ikhlas dalam menerima ketetapan-Nya dan bertawakal setelah berusaha akan menjadikan hati kita lebih tenang dan tidak mudah tergoda oleh dunia.
Pada akhirnya, kesadaran untuk selalu kembali kepada Allah adalah perjalanan yang harus terus dilatih. Dengan usaha yang konsisten dan doa yang tulus, insyaAllah hati kita tidak akan lagi “buta” dan selalu tertuntun kepada-Nya.
Perbanyaklah Dzikir dan Fikir.
Benar sekali! Dzikir dan Fikir adalah dua kunci utama agar hati kita tetap hidup dan selalu dekat dengan Allah.
Dzikir berarti mengingat Allah, baik dengan lisan, hati, maupun perbuatan. Ini mencakup:
Fikir berarti merenungi ciptaan dan kebesaran Allah. Ini bisa dilakukan dengan:
Ibnu Athaillah juga berkata dalam Al-Hikam:
“Janganlah meninggalkan dzikir karena hatimu tidak hadir kepada Allah di dalamnya, karena kelalaianmu terhadap dzikir itu lebih buruk daripada kelalaianmu dalam dzikir.”
Jadi, meskipun hati kita belum selalu khusyuk, tetaplah berdzikir. Sebab, dengan terus berlatih, hati kita akan semakin terbuka dan sadar akan kehadiran-Nya.
Bagaimana cara dzikir dan fikir yang paling efektif menurutmu dalam kehidupan sehari-hari?
Cara dzikir dan fikir yang paling efektif dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan membiasakan hati untuk selalu terhubung dengan Allah, baik dalam keadaan senang maupun sulit. Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:
DZIKIR (Mengingat Allah) dalam Kehidupan Sehari-hari
FIKIR (Merenungkan Kebesaran Allah) dalam Kehidupan Sehari-hari
Kunci Dzikir & Fikir yang Efektif
✅ Konsisten dalam berdzikir, baik lisan maupun hati.
✅ Mengaitkan setiap kejadian dengan kebesaran Allah.
✅ Merenung sebelum tidur: Apa yang sudah aku lakukan hari ini?
✅ Menghindari maksiat agar hati tetap bersih dalam mengingat Allah.
Semakin kita membiasakan dzikir dan fikir, semakin kuat hubungan kita dengan Allah. InsyaAllah, hati kita akan lebih tenang dan hidup terasa lebih bermakna.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.