Ustadzfaqih • Mar 28 2025 • 185 Dilihat

Tiga Tanda Manusia paling Bahagia.
Dalam kitab Nashoihul ‘Ibad disebutkan bahwa tiga tanda manusia paling bahagia adalah:
1. Hati yang selalu sadar akan kebersamaan dengan Allah, yaitu perasaan muraqabah—kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat dan menemani di mana pun kita berada. Ini menjadikan hati tenang dan jauh dari kegelisahan.
2. Raga yang sabar dan tangguh dalam kepatuhan kepada Allah, yakni tetap istiqamah dalam menjalankan ibadah dan menjauhi larangan-Nya, meskipun menghadapi berbagai ujian dan cobaan.
3. Sikap qana’ah, yaitu merasa cukup dan ridha dengan segala yang Allah berikan, tanpa berlebihan dalam mengharapkan dunia, sehingga hidup terasa lebih lapang dan penuh syukur.
Tiga hal ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati bukan dari harta atau kedudukan, melainkan dari ketenangan hati, keteguhan dalam beribadah, dan kepuasan terhadap rezeki yang Allah tetapkan.
Berikut adalah dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mendukung tiga tanda manusia paling bahagia menurut Nashoihul ‘Ibad:
1. Hati yang Sadar Bahwa Allah Senantiasa Bersamanya
Ini berkaitan dengan konsep muraqabah (kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi).
Dalil Al-Qur’an:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ ۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
wa izaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa innii qoriib, ujiibu da’watad-daa’i izaa da’aani falyastajiibuu lii walyu-minuu bii la’allahum yarsyuduun
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 186 )
QS. Al-Hadid: 4
“… Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Dalil Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis Jibril:
“Ihsan itu adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim, no. 8)
2. Raga yang Sabar dan Tangguh dalam Kepatuhan kepada Allah
Kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah adalah tanda keimanan yang kuat.
Dalil Al-Qur’an:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِا لصَّبْرِ وَا لصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanusta’iinuu bish-shobri wash-sholaah, innalloha ma’ash-shoobiriin
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 153)
QS. Al-Ankabut: 69
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”
Dalil Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka baginya keridaan (Allah), dan barang siapa yang murka, maka baginya kemurkaan (Allah).” (HR. Tirmidzi, no. 2396)
3. Sikap Qana’ah atau Ridha dengan Anugerah Allah
Qana’ah adalah sifat merasa cukup dengan apa yang Allah berikan tanpa serakah terhadap dunia.
Dalil Al-Qur’an:
QS. At-Tawbah: 51
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَـنَاۤ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَـنَا ۚ هُوَ مَوْلٰٮنَا ۚ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ
qul lay yushiibanaaa illaa maa kataballohu lanaa, huwa maulaanaa wa ‘alallohi falyatawakkalil-mu-minuun
“Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.””
(QS. At-Taubah 9: Ayat 51)
QS. Al-Hasyr: 9
“… dan mereka lebih mengutamakan (orang lain) daripada diri mereka sendiri, meskipun mereka juga dalam kesusahan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Dalil Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan dijadikan qana’ah (merasa cukup) dengan apa yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054)
Dalam hadis lain:
“Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan (sejati) adalah kaya hati.” (HR. Bukhari, no. 6446; Muslim, no. 1051)
Kesimpulan
Ketiga tanda kebahagiaan menurut Nashoihul ‘Ibad memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Hati yang sadar akan kebersamaan Allah membawa ketenangan, raga yang sabar dalam ketaatan membawa kekuatan, dan sikap qana’ah menjadikan hidup penuh syukur. Semua ini adalah kunci menuju kebahagiaan hakiki menurut ajaran Islam.
( Dr. Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
Dalam Islam, kebahagiaan sejati bukanlah sekadar kenikmatan duniawi, melainkan ketenangan hati yang datang dari kedekatan dengan Allah. Manusia paling bahagia adalah mereka yang memiliki iman kuat, selalu bersyukur atas nikmat Allah, dan sabar menghadapi ujian hidup. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang paling bahagia adalah yang paling taat kepada Allah dan paling dekat dengan-Nya. Kebahagiaan itu juga terwujud dalam rasa ikhlas, ridha dengan ketentuan-Nya, serta menjaga hubungan baik dengan sesama. Dengan demikian, kebahagiaan hakiki adalah saat jiwa damai dan terhindar dari kegelisahan duniawi.”
landasan yg kuat mensyukuri hidup adalah kunci menjaga kebahagiaan
Terimakasih bapak, setelah membaca ini saya jadi mengerti betapa pentingnya untuk hati kita rasa syukur, ikhlas, dan ridho kepada Allah SWT
ketika hati kita selalu mengingat Allah dan kita selalu sabar menerima apapun yang diberikan Allah kepada kita serta selalu bersyukur maka hal tersebut menjadikan kita manusia yang bahagia di dunia maupun di akhirat nanti
Tiga tanda kebahagiaan sejati: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta sesama Muslim, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.
Karena sesungguhnya mensyukuri segala sesuatu yg telah di tetapkan oleh Allah itu juga sudah bahagia
Terimakasih pak pemahaman saya menambah
matur suwun pak, sangat membantu sekali
pembahasan ini mengajarkan kita untuk mencapai kebahagiaan hakiki kita harus memiliki Hati yang sadar akan kebersamaan Allah membawa ketenangan, raga yang sabar dalam ketaatan membawa kekuatan, dan sikap qana’ah menjadikan hidup penuh syukur. terimakasih bapak.
Dari artikel ini saya mengetahui bahwa hidup itu harus lebih banyak mensyukuri bukan mengkufuri.
Semoga bermanfaat