Ustadzfaqih • Mar 10 2025 • 191 Dilihat

Hakikat Syukur menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, seorang sufi besar dalam tradisi Islam, menjelaskan hakikat syukur bukan hanya sebagai ungkapan lisan, tetapi sebagai kondisi hati dan tindakan nyata yang mencerminkan rasa terima kasih kepada Allah.
Menurut beliau, syukur memiliki tiga tingkatan utama:
Hakikat Syukur dalam Pandangan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani:
Beliau menegaskan bahwa syukur yang sejati adalah ketika seseorang tidak hanya mengingat nikmat yang diberikan, tetapi juga menggunakan nikmat tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Syukur bukan hanya untuk nikmat yang menyenangkan, tetapi juga untuk ujian dan kesulitan, karena semua itu adalah bagian dari kasih sayang Allah.
Orang yang benar-benar bersyukur adalah mereka yang semakin rendah hati dan semakin rajin beribadah ketika mendapatkan nikmat, bukan sebaliknya.
Syukur adalah jalan menuju maqam tertinggi dalam perjalanan spiritual. Semakin seseorang bersyukur, semakin Allah tambahkan nikmat-Nya, seperti dalam firman-Nya:
“Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).
Dengan demikian, menurut Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, syukur adalah kunci menuju kedekatan dengan Allah dan menjadi tanda bahwa seseorang benar-benar mengenal Allah dengan hatinya.
Syukur adalah engkau tidak berbuat maksiat kepada Allah SWT dengan nikmat-Nya.
Ya, pernyataan itu sangat sesuai dengan ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Syukur sejati bukan sekadar ucapan, tetapi lebih kepada bagaimana seseorang menggunakan nikmat Allah dengan benar dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat.
Jika seseorang mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah tetapi tetap menggunakannya untuk hal-hal yang dilarang-Nya, maka itu adalah bentuk kufur nikmat.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani juga menekankan bahwa syukur adalah bentuk ketaatan kepada Allah dalam setiap keadaan. Beliau berkata:
“Syukur adalah ketika engkau tidak menggunakan nikmat yang diberikan Allah untuk bermaksiat kepada-Nya.”
Maknanya:
✔ Jika diberikan rezeki, gunakan untuk hal yang halal dan sedekah.
✔ Jika diberi ilmu, gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengajarkannya kepada orang lain.
✔ Jika diberi kesehatan, gunakan untuk beribadah, bukan untuk berbuat dosa.
Jadi, syukur bukan hanya menerima dan mengakui nikmat, tetapi memastikan bahwa nikmat tersebut digunakan sesuai dengan ridha Allah SWT.
Syukur adalah mengikat segala sesuatu yang ada dan memburu segala sesuatu yang hilang.
Ungkapan “Syukur adalah mengikat segala sesuatu yang ada dan memburu segala sesuatu yang hilang” mengandung makna yang dalam dalam konteks tasawuf dan ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Intisari Makna:
➡ Syukur bukan sekadar menerima, tetapi juga menjaga dan memperjuangkan nikmat.
➡ Dengan syukur, nikmat tidak hanya bertahan, tetapi juga bertambah.
➡ Syukur adalah kesadaran aktif untuk selalu berada dalam kebaikan dan berusaha mendapatkan kembali yang hilang dalam perjalanan menuju Allah.
Makna ini sejalan dengan ajaran Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani bahwa syukur adalah kunci kelanggengan nikmat dan jalan menuju peningkatan spiritual.
Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur terhadap adanya pemberian, sedangkan ahli syukur adalah orang yang bersyukur karena adanya cobaan.
Ungkapan ini menggambarkan dua tingkatan syukur dalam ajaran tasawuf, termasuk dalam pemahaman Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Mengapa Ahli Syukur Bisa Bersyukur dalam Cobaan?
✅ Mereka yakin bahwa Allah tidak mungkin menzalimi hamba-Nya.
✅ Mereka memahami bahwa setiap ujian adalah peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah.
✅ Mereka melihat ujian sebagai tanda kasih sayang Allah yang ingin mengangkat derajat mereka.
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani sering menekankan bahwa cobaan adalah jalan bagi orang-orang pilihan Allah untuk mencapai maqam yang lebih tinggi dalam spiritualitas. Orang yang benar-benar mengenal Allah (‘arif billah) akan melihat cobaan sebagai tanda kebaikan-Nya, bukan sebagai azab.
Kesimpulan:
➡ Syukur biasa → Bersyukur saat mendapat nikmat.
➡ Syukur sejati (maqam ahli syukur) → Bersyukur atas segala ketetapan Allah, termasuk cobaan.
Ahli syukur memahami bahwa di balik setiap cobaan, ada rahmat Allah yang lebih besar.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
Syukur kita milik kita
Semoga dapat melakukan nya
syukur adalah nilai yg sangat penting kita tanamkan dalam segala aspek karena tnpa syukur kita akan terus merasa kurang
Syekh Abdul Qodir al-Jailani menjelaskan bahwa hakikat syukur bukan sekadar ucapan ‘alhamdulillah’, tetapi melibatkan seluruh anggota tubuh dalam ketaatan kepada Allah. Lidah bersyukur dengan dzikir, hati bersyukur dengan ridha dan ikhlas, sementara anggota tubuh bersyukur dengan menggunakan nikmat untuk taat, bukan maksiat. Beliau juga menekankan bahwa syukur sejati muncul dari pengenalan terhadap sumber nikmat, yaitu Allah semata, tanpa memandang besar atau kecilnya nikmat. Dalam pandangannya, syukur bukan hanya respons terhadap nikmat, tapi juga bentuk adab dan kedekatan spiritual kepada Allah. Inilah yang menjadikan syukur sebagai jalan menuju peningkatan derajat ruhani dan kecintaan Ilahi.”
setelah bersyukur rasanya nikmat bngt trimaksih artikel nya pak edukasinya langsung saya peratekin
Syukur adalah kesadaran hati, pujian lisan, dan amal yang mencerminkan ketaatan kepada Allah.
bersyukur itu menerima segala sesuatu yang kita miliki, kita hadapi dan kita dapatkan
Bersyukur dengan apapun yang kita miliki dan kita berharap terus melakukan apapun untuk bisa membuat diri kita bermanfaat
Syukur merupakan suatu hal yg harus dilakukan dalam setiap keadaan apapun, karena sejatinya bersyukur juga bisa menambahkan rasa taat kita kepada Allah
Dengan bersyukur akan membuat kita bahagia
Dengan bersyukur bisa membuat kita sadar bahwa suatu kenikmatan harus dihargai dan dijaga
Bersyukur adalah kunci ketenangan hati
syukur bukan hanya menerima kebahagiaan dan kesenangan dari allah tapi juga menjadi suatu proses mendekatkan diri kepada allah, terimakasih bapak atas ilmu ilmunya
Dengan bersyukur kita dapat menerima apapun yang terjadi pada diri kita walaupun terkadang tidak sesuai dengan harapan tersebut namun itu mungkin yang terbaik dari Allah.
Syukuri yang kita, miliki syukuri yang ada, maka hidup akan benar benar menjadi anugrah buat kita
Ternyata syukur itu tidak hanya menerima apa yg diberikan Allah tapi jga menggunakan hal tersebut untuk mencapai ridho-Nya. bersyukur pula bukan berarti kita menerima dan pasrah dengan yang ada tapi menggunakannya untuk terus memperbaiki diri dan mendekatkan kepada-Nya. MasyaaAllah, terimakasih Ilmunya Bapak