Ustadzfaqih • Mar 05 2025 • 69 Dilihat

Agar Kita termasuk Orang-orang yang Berbuat Baik.
Dalam kitab Tanbihul Ghafilin disebutkan Oleh Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata, ” Agar kamu termsuk orang-orang yang berbuat baik, maka hendaklah ada tiga hal atau prinsip darimu yang di dapat oleh orang mukmin lain. Berikut penjelasan detailnya :
Prinsip Pertama. Jika kamu tidak dapat memberi manfaat kepada orang lain, maka janganlah kamu menimpakan mudarat padanya.
Betul sekali! Prinsip ini sangat sesuai dengan ajaran Islam yang menekankan keseimbangan antara memberi manfaat dan menghindari mudarat dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam Islam, ada kaidah fikih yang berbunyi:
“La dharara wa la dhirara.”
(Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.)
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dianggap sebagai prinsip penting dalam Islam. Artinya, jika kita tidak bisa memberikan manfaat kepada orang lain, setidaknya jangan sampai kita menjadi penyebab kesulitan atau penderitaan bagi mereka.
Makna dan Implementasi dalam Kehidupan
Kesimpulan
✔ Islam mengajarkan keseimbangan antara berbuat baik dan menghindari keburukan.
✔ Jika tidak mampu memberi manfaat, jangan sampai kita justru menjadi penyebab keburukan bagi orang lain.
✔ Dengan menerapkan prinsip ini, kehidupan akan menjadi lebih harmonis dan penuh keberkahan.
Semoga kita selalu menjadi orang yang bermanfaat dan dijauhkan dari perbuatan yang merugikan sesama.
Prinsip Kedua. Jika kamu tidak dapat menyenangkan orang lain, maka janganlah kamu membuatnya susah.
Ini adalah prinsip hidup yang sangat baik dan sesuai dengan ajaran Islam serta nilai-nilai moral universal. Dalam Islam, ada hadis Rasulullah ï·º yang berbunyi:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)
Artinya, jika kita tidak bisa menyenangkan atau membantu orang lain, setidaknya kita tidak membuat mereka susah.
Makna dan Penerapan dalam Kehidupan
✅ 1. Jika Tidak Bisa Membantu, Jangan Menyusahkan
✅ 2. Hindari Perkataan yang Menyakiti
✅ 3. Jangan Menjadi Penyebab Kesulitan Orang Lain
✅ 4. Sederhana dalam Pergaulan
Kesimpulan
✔ Islam mengajarkan keseimbangan antara berbuat baik dan menghindari keburukan.
✔ Jika kita tidak bisa membantu seseorang, setidaknya jangan menjadi penyebab kesulitannya.
✔ Dengan menerapkan prinsip ini, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih damai dan harmonis.
Semoga kita selalu bisa menjadi pribadi yang memberikan kebaikan atau minimal tidak menyakiti orang lain.
Prinsip Ketiga. Jika kamu tidak dapat memuji orang lain, maka janganlah kamu menghinanya.
Â
Prinsip ini sangat mencerminkan etika dalam berinteraksi yang diajarkan dalam Islam dan juga merupakan nilai universal yang dapat diterima dalam masyarakat mana pun. Dalam Islam, perilaku saling menghormati dan menjaga harga diri orang lain sangat ditekankan. Ada beberapa ajaran yang sejalan dengan prinsip ini:
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 11:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mencemooh kaum yang lain; bisa jadi mereka (yang dicemooh) lebih baik dari mereka (yang mencemooh).”
Penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya. Jika kita tidak bisa memberi pujian atau apresiasi, jangan menghinanya, karena bisa jadi orang yang kita hina lebih baik atau memiliki kebaikan yang tidak kita ketahui.
Nabi Muhammad ï·º juga mengajarkan kita untuk berbicara dengan baik. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik dalam perkataannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika tidak bisa memberikan pujian atau perkataan yang membangun, lebih baik diam atau berbicara dengan sopan, daripada mengeluarkan kata-kata yang bisa menyakiti hati orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, ada kalanya kita mungkin tidak setuju atau tidak suka dengan tindakan atau perilaku seseorang, tetapi Islam mengajarkan untuk selalu menjaga akhlaq yang baik. Salah satu cara untuk menjaga akhlak adalah dengan menghindari menghina orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menghina seseorang tidak memberikan manfaat bagi kita. Sebaliknya, bisa menambah permusuhan dan memperburuk hubungan. Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
“Tidak boleh seseorang merendahkan atau menghina saudaranya, karena setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.” (HR. Muslim)
Kesimpulan
✔ Jika kita tidak bisa memberi pujian atau apresiasi, setidaknya jangan mengeluarkan kata-kata yang menghinanya.
✔ Setiap individu berhak untuk dihormati, dan kita tidak tahu apa yang ada dalam hati dan perjuangan orang lain.
✔ Menghindari hinaan akan menciptakan suasana yang lebih damai dan mempererat hubungan.
Dengan menjaga lidah dan sikap kita terhadap orang lain, kita menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan penuh dengan rasa saling menghormati.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.