Ustadzfaqih • Feb 14 2025 • 214 Dilihat

Puasa dalam Tinjauan Teologis, Sosiologis, dan Medis
Pendahuluan
Puasa merupakan praktik yang telah ada sejak zaman kuno dan menjadi bagian integral dalam berbagai tradisi keagamaan, sosial, dan budaya di seluruh dunia. Tidak hanya memiliki makna spiritual, puasa juga memberikan dampak sosial yang signifikan serta manfaat kesehatan yang telah dibuktikan secara ilmiah. Dalam esai ini, kita akan mengkaji puasa dari tiga perspektif utama, yaitu teologis, sosiologis, dan medis, guna memahami bagaimana praktik ini berkontribusi terhadap perkembangan individu dan masyarakat secara holistik.
Tinjauan Teologis
Dalam berbagai agama, puasa dianggap sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada Tuhan. Dalam Islam, puasa diwajibkan selama bulan Ramadhan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Sobat. Para ulama banyak memberikan uraian tentang hikmah berpuasa, misalnya: untuk mempertinggi budi pekerti, menimbulkan kesadaran dan kasih sayang terhadap orang-orang miskin, orang-orang lemah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, melatih jiwa dan jasmani, menambah kesehatan dan lain sebagainya.
Uraian seperti di atas tentu ada benarnya, walaupun tidak mudah dirasakan oleh setiap orang. Karena, lapar, haus dan lain-lain akibat berpuasa tidak selalu mengingatkan kepada penderitaan orang lain, malah bisa mendorongnya untuk mencari dan mempersiapkan bermacam-macam makanan pada siang hari untuk melepaskan lapar dan dahaganya di kala berbuka pada malam harinya. Begitu juga tidak akan mudah dirasakan oleh setiap orang berpuasa, bahwa puasa itu membantu kesehatan, walaupun para dokter telah memberikan penjelasan secara ilmiah, bahwa berpuasa memang benar-benar dapat menyembuhkan sebagian penyakit, tetapi ada pula penyakit yang tidak membolehkan berpuasa. Kalau diperhatikan perintah berpuasa bulan Ramadan ini, maka pada permulaan ayat 183 secara langsung Allah menunjukkan perintah wajib itu kepada orang yang beriman.
Orang yang beriman akan patuh melaksanakan perintah berpuasa dengan sepenuh hati, karena ia merasa kebutuhan jasmaniah dan rohaniah adalah dua unsur yang pokok bagi kehidupan manusia yang harus dikembangkan dengan bermacam-macam latihan, agar dapat dimanfaatkan untuk ketenteraman hidup yang bahagia di dunia dan akhirat.
Pada ayat 183 ini Allah mewajibkan puasa kepada semua manusia yang beriman, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka agar mereka menjadi orang yang bertakwa. Jadi, puasa sungguh penting bagi kehidupan orang yang beriman. Kalau kita selidiki macam-macam agama dan kepercayaan pada masa sekarang ini, dijumpai bahwa puasa salah satu ajaran yang umum untuk menahan hawa nafsu dan lain sebagainya.
Perintah berpuasa diturunkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijri, ketika Nabi Muhammad saw mulai membangun pemerintahan yang berwibawa dan mengatur masyarakat baru, maka dapat dirasakan, bahwa puasa itu sangat penting artinya dalam membentuk manusia yang dapat menerima dan melaksanakan tugas-tugas besar dan suci.
Puasa dalam Islam bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu, memperkuat ketakwaan, serta meningkatkan solidaritas terhadap mereka yang kurang mampu. Selain Islam, agama lain juga memiliki tradisi puasa:
Dari perspektif teologis, puasa bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, meningkatkan disiplin diri, dan membentuk karakter yang lebih baik.
Tinjauan Sosiologis
Puasa juga memiliki dampak yang besar dalam kehidupan sosial. Beberapa manfaat sosial yang dapat diperoleh dari praktik ini antara lain:
Dari sudut pandang sosiologis, puasa menjadi alat efektif dalam membangun komunitas yang lebih harmonis dan penuh empati.
Tinjauan Medis
Selain memiliki nilai spiritual dan sosial, puasa juga membawa manfaat kesehatan yang telah dikaji dalam berbagai penelitian medis. Berikut beberapa manfaat utama puasa dari sudut pandang medis:
Namun, penting untuk diingat bahwa puasa harus dilakukan dengan cara yang sehat, seperti menghindari dehidrasi, memastikan asupan nutrisi yang cukup saat sahur dan berbuka, serta menghindari makanan yang terlalu berminyak atau manis secara berlebihan.
Kesimpulan
Puasa adalah praktik yang tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan kesehatan yang luas. Dari perspektif teologis, puasa memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan dan membantu individu dalam pengendalian diri. Dari sudut pandang sosiologis, puasa memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan nilai kebersamaan, dan mengurangi konsumsi berlebihan. Sementara itu, dari sisi medis, puasa telah terbukti membawa berbagai manfaat bagi kesehatan tubuh, mulai dari detoksifikasi hingga peningkatan fungsi otak.
Dengan demikian, puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter, peningkatan kualitas hidup, serta perwujudan keseimbangan antara kebutuhan fisik dan spiritual. Oleh karena itu, memahami puasa secara holistik dapat membantu kita mengaplikasikan manfaatnya secara lebih maksimal dalam kehidupan sehari-hari.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.