Ustadzfaqih • Des 14 2024 • 128 Dilihat

Petaka Sesungguhnya adalah petaka akibat dosa menurut Ibnu Atahillah.
Menurut Ibnu Atahillah dalam Al-Hikam, petaka yang sesungguhnya (petaka hakiki) bukanlah musibah atau kesulitan duniawi seperti kehilangan harta, kesehatan, atau kekuasaan, melainkan akibat dosa dan jauh dari Allah. Ibnu Atahillah menegaskan bahwa dosa memiliki dampak spiritual yang lebih parah dibandingkan dengan kesusahan duniawi. Hal ini karena dosa membuat seseorang terputus dari rahmat Allah, dan itulah kerugian yang sebenarnya.
Beliau berkata:
“Petaka bukanlah ketika engkau kehilangan dunia, tetapi petaka adalah ketika engkau kehilangan hubungan dengan Tuhanmu. Sesungguhnya, apa pun yang luput darimu dari dunia, itu dapat diganti. Tetapi, yang luput darimu dalam urusan akhirat, itu tidak tergantikan.”
Dengan kata lain, penderitaan akibat dosa, seperti hilangnya rasa khusyuk, kerasnya hati, atau terhijabnya diri dari Allah, adalah bentuk musibah yang lebih besar daripada kesulitan fisik atau materi di dunia. Bagi Ibnu Atahillah, musibah duniawi adalah ujian yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah jika dihadapi dengan sabar. Namun, dosa adalah pelanggaran yang menjauhkan hamba dari Allah kecuali jika diikuti oleh taubat.
Pesan utama dari hikmah ini adalah pentingnya menjaga hubungan dengan Allah dan menghindari dosa, karena kerugian spiritual adalah petaka yang paling besar.
Kebahagiaan terwujud jika kau taat kepada Allah.
Ibnu Atahillah juga menekankan bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat dicapai melalui ketaatan kepada Allah. Dalam perspektif tasawuf, ketaatan adalah jalan menuju kedekatan dengan Allah, dan kedekatan inilah sumber kebahagiaan yang hakiki.
Beliau berkata:
“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia bagimu daripada ketaatan kepada Allah, dan tidak ada sesuatu yang lebih mencelakakanmu selain dari kemaksiatan kepada-Nya.”
Mengapa Ketaatan Membawa Kebahagiaan?
Sebaliknya, Mengapa Maksiat Menjauhkan Kebahagiaan?
Maksiat tidak hanya menghalangi hamba dari Allah, tetapi juga membawa kegelisahan dalam jiwa. Ibnu Atahillah menyebutkan bahwa dosa menimbulkan kegelapan dalam hati, yang menjauhkan manusia dari kedamaian sejati. Hidup dalam maksiat sering kali diiringi oleh rasa hampa, meskipun seseorang tampak memiliki kenikmatan dunia.
Kesimpulan
Kebahagiaan yang sejati tidak bergantung pada materi atau kondisi duniawi, melainkan pada hubungan seseorang dengan Allah. Ketaatan adalah kunci yang membawa kita kepada kebahagiaan tersebut, karena ia memurnikan hati, mendekatkan kepada Sang Pencipta, dan menanamkan rasa syukur dalam diri. Dengan ketaatan, hidup menjadi lebih terarah dan bermakna, baik di dunia maupun di akhirat.
Penjelasan dan Tafsir QS Thaha (20) : 124-126
Berikut adalah penjelasan dan tafsir dari QS. Thaha (20): 124–126:
Ayat 124
وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
Penjelasan:
Ayat 125
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِيٓ أَعۡمَىٰ وَقَدۡ كُنتُ بَصِيرٗا
“Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu adalah orang yang melihat?'”
Penjelasan:
Ayat 126
قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتۡكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَاۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلۡيَوۡمَ تُنسَىٰ
“Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, tetapi kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.'”
Penjelasan:
Makna Umum dari Tiga Ayat:
Ayat ini mengingatkan manusia tentang akibat berpaling dari ajaran Allah:
Pesan utama ayat ini adalah agar manusia senantiasa mengingat Allah, mengikuti petunjuk-Nya, dan tidak terjebak dalam kehidupan dunia yang menipu. Ketaatan kepada Allah adalah jalan menuju kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.