Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Syukur kala Bahagia maupun Sengsara

    Nov 16 2024153 Dilihat

    Syukur kala Bahagia maupun Sengsara.

    Syukur di kala bahagia maupun sengsara merupakan bentuk penerimaan yang tulus dan ikhlas terhadap segala keadaan yang kita hadapi dalam hidup. Bersyukur saat bahagia berarti tidak lupa diri, tetap rendah hati, dan tidak terjebak dalam kesombongan. Sedangkan bersyukur saat menghadapi kesengsaraan menunjukkan keteguhan hati, keikhlasan, serta keyakinan bahwa semua cobaan pasti memiliki hikmah dan akan berlalu.

    Dengan bersyukur dalam kedua kondisi ini, kita melatih hati untuk selalu tenang, melihat sisi positif, dan memperkuat kepercayaan kita bahwa setiap keadaan adalah bagian dari rencana terbaik. Bersyukur membuat kita lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup dan lebih menghargai setiap momen kebahagiaan yang kita miliki.

    Sebaik-baik keadaan adalah Bersyukur kata Syeikh Abdul Qadir al-Jailani.

    Ungkapan “Sebaik-baik keadaan adalah bersyukur” dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani menggambarkan esensi spiritualitas yang mendalam. Syukur tidak hanya menjadi respons terhadap nikmat, tetapi juga menjadi sikap hati yang mengakar dalam setiap keadaan, baik suka maupun duka.

    Bersyukur dalam pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jailani adalah puncak kedekatan seorang hamba kepada Allah. Syukur bukan sekadar ucapan, tetapi manifestasi dari pengakuan penuh bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Ketika manusia bersyukur:

    1. Dalam Kebahagiaan: Mereka tidak terjebak dalam hawa nafsu dan kesombongan, melainkan menyadari bahwa nikmat tersebut adalah amanah yang harus dimanfaatkan dengan baik.
    2. Dalam Kesengsaraan: Mereka tetap mampu melihat hikmah di balik setiap ujian, percaya bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan mereka.

    Syukur menjadi penghubung hati dengan Sang Pencipta, membuat jiwa tenang dan penuh harapan. Itulah mengapa Syekh Abdul Qadir al-Jailani menempatkan syukur sebagai keadaan terbaik, karena melalui syukur, seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh cinta, ridha, dan keikhlasan.

    Hati yang sehat adalah hati yang mampu merasakan kedekatan bersama Allah SWT.

    Betul sekali, hati yang sehat adalah hati yang mampu merasakan kedekatan dengan Allah SWT. Dalam Islam, hati memegang peranan penting sebagai pusat kehidupan spiritual dan emosional. Hati yang sehat memiliki ciri-ciri yang membuatnya selalu terhubung dengan Allah SWT, baik dalam pikiran, perasaan, maupun tindakan.

    Ciri-Ciri Hati yang Sehat:

    1. Penuh Keikhlasan
      Hati yang sehat tidak mencari pujian manusia, melainkan hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT. Segala amal dilakukan dengan niat yang murni untuk-Nya.
    2. Khusyuk dalam Ibadah
      Hati yang sehat akan merasakan manisnya ibadah, seperti shalat, dzikir, dan doa. Ibadah menjadi kebutuhan, bukan sekadar kewajiban.
    3. Mudah Bersyukur dan Bersabar
      Dalam suka maupun duka, hati yang sehat selalu bersandar kepada Allah SWT. Syukur di kala bahagia dan sabar di kala menghadapi ujian.
    4. Penuh Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya
      Hati yang sehat mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari segalanya. Cinta ini tercermin dalam ketaatan kepada syariat dan keinginan untuk selalu mendekat kepada Allah.
    5. Bersih dari Penyakit Hati
      Hati yang sehat bebas dari sifat iri, dengki, sombong, dan cinta dunia yang berlebihan. Ia selalu dipenuhi dengan keikhlasan, ketulusan, dan kasih sayang.

    Kedekatan dengan Allah SWT:

    Hati yang sehat merasakan kehadiran Allah SWT di setiap momen kehidupan. Ia menyadari bahwa Allah selalu dekat, mengetahui segala keadaan kita. Kedekatan ini melahirkan rasa takut (khauf) yang menahan dari dosa, sekaligus harapan (raja’) yang mendorong untuk terus memperbaiki diri.

    Cara Menjaga Hati Agar Tetap Sehat:

    1. Banyak Berdzikir
      Dzikir mengingatkan hati kepada Allah dan menjauhkan dari kelalaian.
    2. Memperbaiki Niat
      Luruskan niat dalam setiap amal, pastikan semuanya untuk Allah.
    3. Meninggalkan Maksiat
      Maksiat adalah racun bagi hati. Hindari dosa sekecil apa pun.
    4. Mencari Ilmu yang Bermanfaat
      Ilmu yang mendekatkan kita kepada Allah akan membersihkan hati dari kebodohan spiritual.
    5. Berkumpul dengan Orang Shalih
      Lingkungan yang baik membantu menjaga kebersihan hati.

    Hati yang selalu merasakan kedekatan dengan Allah SWT akan menjadi sumber kebahagiaan sejati, kedamaian, dan ketenangan di dunia maupun akhirat.

    Alhamdulillah Ya Allah atas segala nikmat dan keadaan.

     

    ( DR Nasrul Syarif M.Si.  Penulis  Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )

     

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top