Ustadzfaqih • Nov 12 2024 • 152 Dilihat

Tugas Orang berakal dalam Islam.
Dalam Islam, orang yang berakal (atau yang disebut juga sebagai ‘ulul albab’ dalam Al-Qur’an) memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat penting. Akal adalah anugerah Allah yang membedakan manusia dari makhluk lain, dan dengan akal, manusia dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. Berikut adalah beberapa tugas utama orang yang berakal dalam Islam:
Orang yang berakal dituntut untuk merenungi dan memahami ayat-ayat Allah, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun tanda-tanda-Nya di alam semesta. Dalam beberapa ayat, seperti di Surah Al-Imran ayat 190-191, Allah berfirman bahwa orang-orang yang berakal adalah mereka yang memikirkan penciptaan langit dan bumi, serta berzikir kepada Allah. Mereka mengamati dan menyimpulkan bahwa semua ciptaan itu bukanlah sia-sia, tetapi memiliki tujuan.
Orang yang berakal harus menjaga amanah yang diberikan kepadanya, baik amanah agama, sosial, maupun pribadi. Dalam Islam, seorang Muslim harus menunaikan tanggung jawabnya sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, termasuk dalam hal ibadah, keluarga, pekerjaan, dan pergaulan dengan sesama. Akal harus digunakan untuk mempertimbangkan konsekuensi dari setiap tindakan, karena setiap amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Dengan kemampuan akal, seorang Muslim dapat membedakan antara perbuatan yang baik dan buruk. Tugas orang yang berakal adalah mengarahkan dirinya pada kebaikan, meninggalkan kemaksiatan, dan membantu orang lain untuk juga berbuat baik. Al-Qur’an juga sering menyebut pentingnya akal untuk menghindari dosa dan keburukan.
Orang yang berakal dalam Islam adalah mereka yang memiliki semangat tinggi untuk menuntut ilmu. Rasulullah SAW bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan ilmu, seorang Muslim dapat memahami agamanya dengan benar, memaksimalkan potensi akalnya, dan memperbaiki masyarakat.
Orang yang berakal adalah mereka yang tidak hanya menggunakan akal untuk urusan duniawi, tetapi juga menggunakannya untuk mengingat Allah, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Mereka selalu sadar bahwa ada Tuhan yang menciptakan mereka dan yang akan meminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan mereka. Oleh karena itu, mereka memperbanyak zikir dan mendekatkan diri kepada Allah.
Islam sangat menganjurkan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Orang yang berakal harus mempertimbangkan segala aspek secara matang, termasuk dampaknya terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Akal seharusnya digunakan untuk mengambil keputusan yang membawa maslahat dan menghindari kemudaratan.
Orang yang berakal bertanggung jawab untuk menjadi teladan yang baik dalam akhlak, etika, dan perbuatan. Dalam Islam, sikap teladan ini bukan hanya menjadi ibadah pribadi tetapi juga menjadi contoh bagi orang lain dalam menjalankan kehidupan sesuai ajaran Islam.
Tugas orang yang berakal juga termasuk menyampaikan kebenaran dan meluruskan kesalahan di masyarakat. Seorang Muslim harus menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan cara yang baik, sebagaimana yang diperintahkan dalam Al-Qur’an, misalnya dalam Surah Ali Imran ayat 104.
Kesimpulan
Orang yang berakal dalam Islam memiliki tugas penting untuk menjaga diri dan lingkungannya dalam kebaikan. Mereka tidak hanya menggunakan akal untuk kepentingan duniawi tetapi juga sebagai jalan menuju kehidupan yang diridhai Allah. Dengan memenuhi tanggung jawab ini, seorang Muslim dapat mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah dan memberikan manfaat bagi umat manusia secara keseluruhan.
Menyiapkan Bekal untuk Kembali Ke kampung Akherat. Mencari biaya untuk kehidupan dunia. Mencari kenikmatan dengan cara halal.
Dalam Islam, kehidupan di dunia ini dipandang sebagai perjalanan sementara menuju kehidupan abadi di akhirat. Oleh karena itu, seorang Muslim dianjurkan untuk senantiasa menyiapkan bekal untuk kehidupan akhirat, tetapi tetap menjalani kehidupan dunia dengan baik dan penuh tanggung jawab. Berikut adalah penjelasan mengenai beberapa aspek penting dalam menjalani kehidupan dunia dan menyiapkan bekal untuk akhirat:
Kehidupan di dunia hanyalah tempat persinggahan sementara untuk mengumpulkan bekal berupa amal kebaikan yang akan dibawa ke akhirat. Menurut ajaran Islam, menyiapkan bekal untuk akhirat melibatkan beberapa hal berikut:
Dalam Islam, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mencari nafkah yang halal adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik. Berikut adalah beberapa cara yang dianjurkan dalam mencari nafkah di dunia:
Islam tidak melarang umatnya untuk menikmati kehidupan dunia, asalkan dilakukan dengan cara yang halal dan tidak berlebihan. Berikut adalah beberapa prinsip untuk meraih kenikmatan hidup yang diridhai Allah:
Kesimpulan
Dalam Islam, menyiapkan bekal untuk akhirat, mencari nafkah di dunia, dan meraih kenikmatan hidup harus dilakukan dengan seimbang dan penuh tanggung jawab. Bekal untuk akhirat akan mengarahkan seorang Muslim pada kebahagiaan yang abadi, sementara usaha mencari nafkah dan kenikmatan halal akan membawa ketenangan dan keberkahan dalam hidup di dunia. Dengan cara ini, seorang Muslim dapat mencapai kebahagiaan yang hakiki dan mendapatkan ridha Allah di dunia dan akhirat.
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.