Ustadzfaqih • Okt 31 2024 • 387 Dilihat

Pentingnya Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Perspektif Al-Quran dan As-sunnah.
Amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan yang baik dan mencegah yang buruk) adalah prinsip dasar dalam Islam yang sangat penting dalam membangun masyarakat yang adil, damai, dan taat pada nilai-nilai kebaikan. Al-Quran dan As-Sunnah menekankan betapa pentingnya peran umat Islam dalam menjaga tatanan moral dan sosial dengan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.
Berikut adalah penjelasan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar menurut perspektif Al-Quran dan As-Sunnah:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)
Ayat ini menegaskan bahwa memerintahkan kebaikan dan mencegah keburukan adalah kewajiban umat Islam. Ini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga demi kemaslahatan masyarakat secara keseluruhan.
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)
Ayat ini menyatakan bahwa umat Islam diangkat sebagai umat terbaik ketika mereka menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Identitas umat Islam adalah sebagai penjaga kebaikan dan pelindung dari kemungkaran.
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak saling melarang perbuatan munkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Ma’idah: 78-79)
Ayat ini menunjukkan bahwa keburukan yang tidak diingatkan akan mendatangkan azab dan laknat dari Allah. Masyarakat yang saling mengingatkan dalam kebaikan akan terhindar dari azab Allah.
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban bagi setiap Muslim sesuai dengan kemampuannya. Ini adalah wujud dari kepedulian seorang Muslim terhadap masyarakatnya serta bukti dari imannya.
“Perumpamaan orang yang menjaga hukum-hukum Allah dan yang melanggarnya seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal. Sebagian mereka berada di atas, dan sebagian lagi di bawah. Jika orang yang berada di bawah ingin mengambil air, mereka berkata, ‘Seandainya kami melubangi tempat kami ini.’ Jika yang di atas membiarkan mereka, niscaya seluruh kapal akan tenggelam. Namun, jika mereka mencegahnya, niscaya semuanya akan selamat.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menggambarkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan dan keselamatan masyarakat secara keseluruhan. Tanpa upaya bersama untuk menegakkan kebaikan, masyarakat akan jatuh ke dalam kehancuran moral dan sosial.
Kesimpulan
Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban yang sangat ditekankan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ini adalah wujud dari keimanan, kepedulian, dan kasih sayang terhadap sesama, serta memiliki peran penting dalam menjaga tatanan masyarakat yang bermoral, damai, dan aman. Dengan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, umat Islam dapat membangun kehidupan yang sejahtera, penuh berkah, dan terhindar dari azab Allah.
Lima syarat yang harus dimiliki bagi orang yang hendak melakukan amar ma’ruf Nahi Munkar menurut Imam Abu Laits Assamarqandi.
Menurut Imam Abu Laits Assamarqandi, seorang ulama besar dari kalangan Mazhab Hanafi, ada lima syarat utama yang harus dipenuhi oleh seseorang yang hendak menjalankan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran). Syarat-syarat ini penting agar seseorang dapat menegakkan kebaikan dan mencegah keburukan secara efektif, bijak, dan sesuai dengan tuntunan agama. Berikut lima syarat tersebut:
Kesimpulan
Lima syarat ini yang digariskan oleh Imam Abu Laits Assamarqandi menunjukkan pentingnya kesungguhan, persiapan, dan kebaikan hati dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Berilmu, lemah lembut, sabar, ikhlas, dan mengamalkan ajaran yang disampaikan adalah cara terbaik untuk mengajak orang kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan hikmah dan kasih sayang.
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.