Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Adab Ihram penjelasan Imam Al-Ghazali

    Okt 30 2024311 Dilihat

    Adab Ihram penjelasan Imam Al-Ghazali.

     

    Imam Al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ Ulumuddin memberikan perhatian khusus pada adab dan tata cara ihram sebagai persiapan awal bagi seorang Muslim dalam menjalankan ibadah haji atau umrah. Ihram adalah keadaan suci dan niat memasuki ibadah haji atau umrah yang disertai dengan larangan tertentu. Menurut Al-Ghazali, memasuki ihram harus dilakukan dengan penuh kesadaran, niat yang tulus, dan sikap hati-hati, karena ihram menandai dimulainya rangkaian ibadah yang sakral dalam haji atau umrah. Berikut ini adalah adab ihram yang dijelaskan oleh Al-Ghazali:

    1. Niat yang Ikhlas dan Murni

    Sebelum memasuki ihram, seorang jamaah harus memperbarui niatnya dengan ikhlas untuk melaksanakan haji atau umrah hanya karena Allah. Al-Ghazali menekankan pentingnya menyucikan niat agar tidak tercampur dengan keinginan duniawi seperti kebanggaan atau riya. Niat yang ikhlas adalah fondasi utama dari ibadah, dan dalam konteks ihram, niat menjadi pintu masuk ke dalam ibadah haji atau umrah yang sah dan bermakna.

    1. Mandi Sebelum Mengenakan Pakaian Ihram

    Imam Al-Ghazali menganjurkan mandi sunnah sebagai bentuk persiapan sebelum mengenakan pakaian ihram. Mandi ini dilakukan sebagai simbol penyucian diri dari hadas dan kotoran lahiriah sebelum memulai perjalanan spiritual. Menurutnya, mandi ini mengajarkan makna kebersihan, baik secara fisik maupun spiritual, sebagai bentuk penghormatan kepada Allah.

    1. Memakai Pakaian Ihram dengan Kesadaran Penuh

    Pakaian ihram yang terdiri dari dua kain putih (untuk laki-laki) atau pakaian yang sederhana (untuk perempuan) mengingatkan manusia pada kesederhanaan dan kesamaan di hadapan Allah. Al-Ghazali menekankan bahwa pakaian ihram adalah simbol kesucian dan melepaskan diri dari kesenangan dunia. Jamaah harus memakai ihram dengan kesadaran bahwa mereka meninggalkan atribut duniawi dan memasuki keadaan suci yang membutuhkan kerendahan hati dan ketulusan.

    1. Menghindari Wewangian dan Minyak

    Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa memakai wewangian atau minyak saat ihram adalah larangan. Sebelum berihram, jamaah diperbolehkan memakai minyak atau wewangian jika mereka menghendaki, tetapi setelah niat ihram, penggunaan wangi-wangian harus dihentikan. Hal ini mengajarkan sikap disiplin, karena meninggalkan sesuatu yang biasanya diizinkan sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah.

    1. Memperbanyak Dzikir dan Talbiyah

    Talbiyah adalah bacaan yang diucapkan setelah niat ihram untuk menunjukkan kesiapan diri memenuhi panggilan Allah dalam ibadah haji atau umrah. Menurut Al-Ghazali, talbiyah bukan sekadar ucapan, tetapi harus dihayati dengan hati sebagai bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Talbiyah menggambarkan bahwa jamaah datang ke hadirat Allah dengan segala kerendahan hati dan ketaatan, dan talbiyah ini sebaiknya diucapkan berulang-ulang dengan penuh penghayatan dan kesadaran.

    1. Menghindari Perbuatan dan Ucapan yang Dilarang

    Al-Ghazali menekankan bahwa selama dalam keadaan ihram, seorang Muslim harus menjaga diri dari perbuatan dan ucapan yang bisa merusak ihram, seperti bertengkar, berdebat, atau melakukan perbuatan dosa. Ia melihat ihram sebagai waktu yang sakral untuk memperbaiki perilaku dan menjaga sikap serta tutur kata. Jamaah harus berusaha untuk tetap tenang, sabar, dan menghindari hal-hal yang bisa menodai kesucian ihram.

    1. Menjaga Pandangan dan Menahan Diri dari Nafsu

    Dalam ihram, Al-Ghazali menganjurkan jamaah untuk menjaga pandangan dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu. Ihram mengajarkan pengendalian diri, karena jamaah berada dalam kondisi yang suci, sehingga mereka perlu menjaga hati dan pikiran dari keinginan yang berlebihan. Jamaah didorong untuk memfokuskan diri pada Allah dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian dari tujuan utama ibadah.

    1. Membayangkan Kematian dan Kembali kepada Allah

    Ihram sering dianalogikan dengan kafan karena kesederhanaannya dan warna putihnya yang mengingatkan manusia akan kematian. Al-Ghazali menyarankan jamaah untuk memanfaatkan momen ihram sebagai waktu untuk mengingat kematian, yaitu bahwa pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Allah dalam keadaan sederhana, tanpa harta atau kebesaran duniawi. Dengan merenungkan hal ini, jamaah diharapkan memasuki ihram dengan penuh kesadaran akan kefanaan dunia dan pentingnya mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

    1. Bertawakkal dan Berharap Hanya kepada Allah

    Selama berihram, jamaah harus memperkuat rasa tawakkal atau penyerahan diri kepada Allah. Al-Ghazali mengajarkan bahwa memasuki ihram adalah bentuk ketaatan penuh kepada Allah, sehingga seorang Muslim perlu berdoa dan berharap hanya kepada Allah. Tawakkal ini menciptakan hubungan yang mendalam antara hamba dan Tuhannya, yang akan membimbing setiap langkahnya dalam pelaksanaan haji atau umrah.

    Menurut Imam Al-Ghazali, ihram bukan hanya sekadar persyaratan formal dalam ibadah haji dan umrah, tetapi adalah keadaan hati yang siap memasuki ibadah yang sakral dan agung. Melalui adab-adab ini, ihram menjadi proses awal yang membawa jamaah ke dalam hubungan yang lebih dekat dan suci dengan Allah.

     

    Manasik Umrah.

    Manasik Umrah adalah serangkaian tata cara dan ritual dalam pelaksanaan ibadah umrah yang perlu dilakukan oleh seorang Muslim. Ibadah umrah sendiri berbeda dari haji karena tidak wajib dilakukan dan bisa dilaksanakan kapan saja sepanjang tahun, sedangkan haji memiliki waktu tertentu. Berikut adalah tahapan manasik umrah yang disusun sesuai dengan aturan dan tata cara syariat Islam:

    1. Niat dan Ihram
    • Niat: Memulai ihram dimulai dengan niat dari miqat (tempat tertentu yang ditentukan untuk memulai ihram). Sebelum niat, disunnahkan untuk mandi dan mengenakan pakaian ihram, yaitu dua lembar kain putih tanpa jahitan bagi laki-laki, sedangkan perempuan memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
    • Mengucapkan Niat dan Talbiyah: Setelah mengenakan pakaian ihram, jamaah berniat untuk umrah dengan mengucapkan, “Labbaikallahumma Umrah,” yang artinya “Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, untuk menunaikan umrah.” Setelah itu, jamaah mengucapkan talbiyah:

    Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka walmulk la syarika laka.

    Talbiyah ini diucapkan berkali-kali sepanjang perjalanan menuju Mekkah sebagai tanda ketaatan kepada Allah.

    1. Tawaf di Ka’bah
    • Memasuki Masjidil Haram: Setelah tiba di Mekkah, jamaah memasuki Masjidil Haram dengan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid.
    • Mulai Tawaf: Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran dengan arah berlawanan jarum jam. Tawaf dimulai dari Hajar Aswad (batu hitam) dengan niat dan mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar” sambil mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad.
    • Tujuh Putaran Tawaf: Setiap putaran diisi dengan dzikir, doa, dan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Disunnahkan memperbanyak doa dan dzikir yang tulus. Di antara doa yang dianjurkan adalah:

    Rabbanaa aatina fid-dunya hasanah, wa fil-aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.

    • Maqam Ibrahim: Setelah menyelesaikan tujuh putaran, jamaah dianjurkan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim AS) jika memungkinkan, atau di tempat yang kosong.
    1. Sai antara Shafa dan Marwah
    • Memulai Sai: Sai dilakukan dengan berjalan bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah.
    • Dzikir dan Doa di Shafa dan Marwah: Saat tiba di Shafa, jamaah membaca doa dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju Marwah sambil berdzikir dan berdoa. Setiap perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dan dari Marwah kembali ke Shafa dihitung satu kali.
    • Perjalanan Berlari Kecil: Dalam sai, jamaah laki-laki disunnahkan untuk berlari-lari kecil di antara dua tanda hijau di tengah perjalanan antara Shafa dan Marwah. Bagi perempuan cukup berjalan biasa.
    1. Tahallul (Memotong Rambut)
    • Setelah selesai melaksanakan sai, jamaah melakukan tahallul sebagai tanda keluar dari ihram. Tahallul dilakukan dengan memotong sebagian rambut.
    • Laki-laki: Disunnahkan mencukur habis rambutnya, namun jika tidak ingin, minimal memotong sebagian rambut.
    • Perempuan: Memotong sebagian kecil ujung rambutnya, biasanya cukup beberapa helai saja.

    Dengan tahallul, jamaah telah menyelesaikan seluruh manasik umrah, dan mereka keluar dari keadaan ihram. Artinya, larangan-larangan ihram sudah tidak berlaku lagi, dan jamaah kembali pada kondisi biasa.

    Kesimpulan

    Manasik umrah terdiri dari niat dan ihram, tawaf di Ka’bah, sai antara Shafa dan Marwah, dan tahallul. Ibadah ini membutuhkan ketenangan, ketulusan niat, serta kepasrahan kepada Allah SWT. Jamaah diharapkan menjalani setiap tahapan dengan penuh kesadaran dan penghayatan, mengingat ibadah ini adalah momen untuk mendekatkan diri kepada Allah.

    ( DR Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top