Ustadzfaqih • Okt 30 2024 • 311 Dilihat

Adab Ihram penjelasan Imam Al-Ghazali.
Imam Al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ Ulumuddin memberikan perhatian khusus pada adab dan tata cara ihram sebagai persiapan awal bagi seorang Muslim dalam menjalankan ibadah haji atau umrah. Ihram adalah keadaan suci dan niat memasuki ibadah haji atau umrah yang disertai dengan larangan tertentu. Menurut Al-Ghazali, memasuki ihram harus dilakukan dengan penuh kesadaran, niat yang tulus, dan sikap hati-hati, karena ihram menandai dimulainya rangkaian ibadah yang sakral dalam haji atau umrah. Berikut ini adalah adab ihram yang dijelaskan oleh Al-Ghazali:
Sebelum memasuki ihram, seorang jamaah harus memperbarui niatnya dengan ikhlas untuk melaksanakan haji atau umrah hanya karena Allah. Al-Ghazali menekankan pentingnya menyucikan niat agar tidak tercampur dengan keinginan duniawi seperti kebanggaan atau riya. Niat yang ikhlas adalah fondasi utama dari ibadah, dan dalam konteks ihram, niat menjadi pintu masuk ke dalam ibadah haji atau umrah yang sah dan bermakna.
Imam Al-Ghazali menganjurkan mandi sunnah sebagai bentuk persiapan sebelum mengenakan pakaian ihram. Mandi ini dilakukan sebagai simbol penyucian diri dari hadas dan kotoran lahiriah sebelum memulai perjalanan spiritual. Menurutnya, mandi ini mengajarkan makna kebersihan, baik secara fisik maupun spiritual, sebagai bentuk penghormatan kepada Allah.
Pakaian ihram yang terdiri dari dua kain putih (untuk laki-laki) atau pakaian yang sederhana (untuk perempuan) mengingatkan manusia pada kesederhanaan dan kesamaan di hadapan Allah. Al-Ghazali menekankan bahwa pakaian ihram adalah simbol kesucian dan melepaskan diri dari kesenangan dunia. Jamaah harus memakai ihram dengan kesadaran bahwa mereka meninggalkan atribut duniawi dan memasuki keadaan suci yang membutuhkan kerendahan hati dan ketulusan.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa memakai wewangian atau minyak saat ihram adalah larangan. Sebelum berihram, jamaah diperbolehkan memakai minyak atau wewangian jika mereka menghendaki, tetapi setelah niat ihram, penggunaan wangi-wangian harus dihentikan. Hal ini mengajarkan sikap disiplin, karena meninggalkan sesuatu yang biasanya diizinkan sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah.
Talbiyah adalah bacaan yang diucapkan setelah niat ihram untuk menunjukkan kesiapan diri memenuhi panggilan Allah dalam ibadah haji atau umrah. Menurut Al-Ghazali, talbiyah bukan sekadar ucapan, tetapi harus dihayati dengan hati sebagai bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Talbiyah menggambarkan bahwa jamaah datang ke hadirat Allah dengan segala kerendahan hati dan ketaatan, dan talbiyah ini sebaiknya diucapkan berulang-ulang dengan penuh penghayatan dan kesadaran.
Al-Ghazali menekankan bahwa selama dalam keadaan ihram, seorang Muslim harus menjaga diri dari perbuatan dan ucapan yang bisa merusak ihram, seperti bertengkar, berdebat, atau melakukan perbuatan dosa. Ia melihat ihram sebagai waktu yang sakral untuk memperbaiki perilaku dan menjaga sikap serta tutur kata. Jamaah harus berusaha untuk tetap tenang, sabar, dan menghindari hal-hal yang bisa menodai kesucian ihram.
Dalam ihram, Al-Ghazali menganjurkan jamaah untuk menjaga pandangan dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu. Ihram mengajarkan pengendalian diri, karena jamaah berada dalam kondisi yang suci, sehingga mereka perlu menjaga hati dan pikiran dari keinginan yang berlebihan. Jamaah didorong untuk memfokuskan diri pada Allah dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian dari tujuan utama ibadah.
Ihram sering dianalogikan dengan kafan karena kesederhanaannya dan warna putihnya yang mengingatkan manusia akan kematian. Al-Ghazali menyarankan jamaah untuk memanfaatkan momen ihram sebagai waktu untuk mengingat kematian, yaitu bahwa pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Allah dalam keadaan sederhana, tanpa harta atau kebesaran duniawi. Dengan merenungkan hal ini, jamaah diharapkan memasuki ihram dengan penuh kesadaran akan kefanaan dunia dan pentingnya mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
Selama berihram, jamaah harus memperkuat rasa tawakkal atau penyerahan diri kepada Allah. Al-Ghazali mengajarkan bahwa memasuki ihram adalah bentuk ketaatan penuh kepada Allah, sehingga seorang Muslim perlu berdoa dan berharap hanya kepada Allah. Tawakkal ini menciptakan hubungan yang mendalam antara hamba dan Tuhannya, yang akan membimbing setiap langkahnya dalam pelaksanaan haji atau umrah.
Menurut Imam Al-Ghazali, ihram bukan hanya sekadar persyaratan formal dalam ibadah haji dan umrah, tetapi adalah keadaan hati yang siap memasuki ibadah yang sakral dan agung. Melalui adab-adab ini, ihram menjadi proses awal yang membawa jamaah ke dalam hubungan yang lebih dekat dan suci dengan Allah.
Manasik Umrah.
Manasik Umrah adalah serangkaian tata cara dan ritual dalam pelaksanaan ibadah umrah yang perlu dilakukan oleh seorang Muslim. Ibadah umrah sendiri berbeda dari haji karena tidak wajib dilakukan dan bisa dilaksanakan kapan saja sepanjang tahun, sedangkan haji memiliki waktu tertentu. Berikut adalah tahapan manasik umrah yang disusun sesuai dengan aturan dan tata cara syariat Islam:
Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka walmulk la syarika laka.
Talbiyah ini diucapkan berkali-kali sepanjang perjalanan menuju Mekkah sebagai tanda ketaatan kepada Allah.
Rabbanaa aatina fid-dunya hasanah, wa fil-aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.
Dengan tahallul, jamaah telah menyelesaikan seluruh manasik umrah, dan mereka keluar dari keadaan ihram. Artinya, larangan-larangan ihram sudah tidak berlaku lagi, dan jamaah kembali pada kondisi biasa.
Kesimpulan
Manasik umrah terdiri dari niat dan ihram, tawaf di Ka’bah, sai antara Shafa dan Marwah, dan tahallul. Ibadah ini membutuhkan ketenangan, ketulusan niat, serta kepasrahan kepada Allah SWT. Jamaah diharapkan menjalani setiap tahapan dengan penuh kesadaran dan penghayatan, mengingat ibadah ini adalah momen untuk mendekatkan diri kepada Allah.
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.