Ustadzfaqih • Okt 25 2024 • 204 Dilihat

Enam Perkara Syarat Keselamatan menurut Imam An-Nawawi al-Bantani.
Enam perkara syarat keselamatan menurut Imam An-Nawawi al-Bantani, seorang ulama besar dari Indonesia yang dikenal dengan karyanya dalam berbagai bidang ilmu, terutama fikih dan tasawuf, dijelaskan dalam bukunya Nashaihul ‘Ibad (Nasihat kepada Para Hamba). Dalam kitab ini, beliau merangkum nasihat-nasihat penting untuk kehidupan yang selamat, baik di dunia maupun di akhirat. Enam perkara tersebut adalah sebagai berikut:
Berbicara hanya yang benar dan menghindari perkataan yang bohong atau dusta adalah syarat penting untuk menjaga keselamatan. Kebohongan bisa membawa kepada kehancuran diri dan orang lain.
Menghindari menyebarkan fitnah, gosip, atau berita yang memecah belah hubungan antarindividu atau masyarakat. Namimah merupakan perbuatan yang dilarang karena bisa merusak persaudaraan.
Tidak membicarakan keburukan atau kekurangan orang lain di belakang mereka. Ini penting untuk menjaga kehormatan diri dan orang lain, serta menghindari dosa besar.
Mengendalikan hawa nafsu dan tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang diharamkan oleh agama. Syahwat yang tidak dikendalikan dapat membawa kepada perbuatan maksiat dan dosa besar.
Menghindari mencari dan menggunakan harta dengan cara yang tidak halal, seperti mencuri, merampok, atau mengambil hak orang lain. Harta yang diperoleh dengan cara haram akan membawa kehancuran dalam hidup.
Menghindari makanan dan minuman yang dilarang oleh syariat, baik dari sisi substansinya (misalnya babi, alkohol) atau cara mendapatkannya (misalnya dengan cara curang atau merugikan orang lain). Mengkonsumsi yang haram dapat mempengaruhi moralitas dan keberkahan hidup.
Imam An-Nawawi al-Bantani menekankan bahwa menjaga enam perkara ini adalah kunci keselamatan, yang akan membawa seseorang kepada kehidupan yang tenang, seimbang, dan terhindar dari kerusakan di dunia maupun akhirat.
Siapa yang tidak takut kepada Allah SWT, maka dia tidak akan selamat dari kesalahan berbicara.
Pernyataan “Siapa yang tidak takut kepada Allah SWT, maka dia tidak akan selamat dari kesalahan berbicara” merupakan salah satu bentuk nasihat yang sering dijelaskan oleh para ulama, termasuk Imam An-Nawawi al-Bantani dalam karya-karya tasawuf dan akhlaknya. Ini menekankan hubungan antara takut kepada Allah (taqwa) dan kontrol diri, terutama dalam berbicara.
Menurut perspektif ulama, takut kepada Allah SWT adalah rasa kesadaran dan kehati-hatian bahwa Allah selalu mengawasi segala perbuatan, baik lisan maupun perbuatan. Orang yang memiliki rasa takut kepada Allah atau taqwa ini akan sangat berhati-hati dalam berbicara, menghindari kebohongan, fitnah, dan ucapan yang merugikan.
Jika seseorang tidak memiliki rasa takut kepada Allah, dia akan lebih mudah tergelincir ke dalam kesalahan-kesalahan dalam berbicara, seperti:
Kontrol atas lisan ini sangat penting dalam Islam, karena lisan adalah salah satu sumber utama dosa, dan dapat merusak hubungan antara manusia serta hubungan dengan Allah SWT. Rasulullah SAW sendiri sering mengingatkan pentingnya menjaga lisan, seperti dalam hadits:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi, rasa takut kepada Allah SWT berfungsi sebagai penjaga hati yang mengendalikan lisan seseorang. Tanpa rasa takut itu, seseorang akan mudah terjerumus dalam ucapan yang salah, yang bisa berakibat pada dosa dan kerusakan diri sendiri dan orang lain.
Siapa yang tidak takut akan perjumpaannya dengan Allah SWT ( kematian) maka hatinya tidak akan selamat dari hal yang haram dan syubhat.
Pernyataan “Siapa yang tidak takut akan perjumpaannya dengan Allah SWT (kematian), maka hatinya tidak akan selamat dari hal yang haram dan syubhat” memiliki makna mendalam dalam tradisi Islam, khususnya terkait dengan kesadaran akan kematian dan hari pembalasan. Ini menekankan bahwa orang yang tidak memiliki rasa takut terhadap kematian dan pertemuan dengan Allah akan mudah terjerumus dalam dosa dan hal-hal yang meragukan (syubhat).
Berikut adalah penjelasan lebih lanjut:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu” (QS. Ali Imran: 185).
Orang yang mengingat kematian dan takut akan pertemuan dengan Allah SWT akan selalu berhati-hati dalam menjalani hidupnya, menghindari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, dan senantiasa berada dalam jalan yang benar.
Jika seseorang tidak peduli atau tidak takut terhadap perjumpaannya dengan Allah SWT, maka hatinya akan menjadi keras, lalai, dan tidak merasa takut terhadap akibat dari perbuatannya. Ini akan menyebabkan orang tersebut:
“Yang halal itu jelas, yang haram juga jelas, tetapi di antara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat, yang tidak diketahui oleh banyak orang” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesimpulannya, takut kepada perjumpaan dengan Allah SWT merupakan pendorong utama bagi seseorang untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan dan syubhat. Tanpa kesadaran ini, seseorang akan cenderung hidup dengan kelalaian dan kesembronoan, yang membuat hatinya mudah tercemar oleh hal yang diharamkan dan diragukan.
Siapa yang tidak memutus harapannya terhadap makhluk maka dia tidak akan selamat dari sifat rakus.
Pernyataan “Siapa yang tidak memutus harapannya terhadap makhluk, maka dia tidak akan selamat dari sifat rakus” mengandung ajaran mendalam dalam Islam tentang tawakkal (bersandar kepada Allah) dan pentingnya menjaga hati dari ketergantungan pada manusia atau makhluk lain. Berikut adalah penjelasan dari maksud kalimat tersebut:
Maksud dari “memutus harapan kepada makhluk” adalah tidak menjadikan manusia atau makhluk lain sebagai sumber utama harapan, bantuan, atau rezeki. Seorang Muslim harus meyakini bahwa segala sesuatu datang dari Allah SWT, bukan dari manusia. Mengandalkan manusia secara berlebihan dapat menyebabkan seseorang lupa akan kekuasaan Allah dan kebergantungan yang sepenuhnya kepada-Nya.
Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. At-Talaq: 2-3).
Seorang mukmin yang benar akan selalu mengingat bahwa manusia hanyalah perantara, sedangkan segala sesuatu, termasuk rezeki, kesehatan, dan kehidupan, sepenuhnya berasal dari Allah SWT. Putusnya harapan kepada makhluk ini bukan berarti kita tidak boleh bekerja sama atau menerima bantuan dari manusia, tetapi hati kita tetap harus bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Jika seseorang terus menggantungkan harapannya pada makhluk, ia akan menjadi rakus. Sifat rakus ini adalah kondisi di mana seseorang selalu menginginkan lebih dari yang ia butuhkan, terutama dalam hal materi, penghargaan, atau pengakuan dari orang lain. Ketergantungan ini dapat mendorong seseorang untuk:
Sifat rakus adalah penyakit hati yang membuat seseorang selalu merasa tidak cukup dan terus mencari lebih banyak dari apa yang ada di sekitarnya. Rasulullah SAW bersabda:
“Seandainya anak Adam (manusia) memiliki dua lembah penuh dengan emas, niscaya dia masih menginginkan lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa memenuhi perut anak Adam selain tanah (kematian)” (HR. Bukhari dan Muslim).
Agar seseorang selamat dari sifat rakus, ia harus mengembangkan sifat tawakkal, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT setelah berusaha semaksimal mungkin. Ketika hati seorang mukmin hanya berharap kepada Allah, ia akan:
Memutus harapan kepada makhluk adalah salah satu kunci untuk mencapai sifat qana’ah, yaitu rasa cukup dan kepuasan hati terhadap apa yang diberikan oleh Allah, yang pada akhirnya menjauhkan seseorang dari sifat rakus.
Para nabi, sahabat, dan ulama-ulama besar memberikan contoh bagaimana tidak bergantung pada makhluk, meskipun mereka memiliki kekuatan, harta, atau kedudukan. Mereka selalu menggantungkan harapan dan kepercayaan mereka hanya kepada Allah SWT, dan mereka selalu berusaha menjaga diri dari sifat tamak atau rakus terhadap harta, kedudukan, atau pujian manusia.
Kesimpulannya, siapa yang tidak memutus harapannya kepada makhluk, dia akan terjebak dalam sifat rakus, karena dia selalu menginginkan lebih dari apa yang dimiliki orang lain. Dengan menggantungkan seluruh harapan kepada Allah dan merasa cukup dengan apa yang telah diberikan-Nya, seseorang akan terhindar dari kerakusan dan mencapai ketenangan hati.
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.