Ustadzfaqih • Okt 24 2024 • 211 Dilihat

Enam Syarat Untuk Meraih Surga Menurut Saydina Ali bin Abi Thalib.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat dalam sejarah Islam dan salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, memberikan banyak nasihat yang sangat berharga bagi umat Islam. Salah satu nasihat beliau adalah mengenai syarat-syarat untuk meraih surga. Ada beberapa riwayat yang menyebutkan enam syarat untuk meraih surga menurut Sayyidina Ali, yang mencakup amalan-amalan baik dan perilaku yang dapat membawa seseorang ke jalan keselamatan. Berikut adalah enam syarat tersebut:
Shalat merupakan tiang agama, dan menjaga salat dengan khusyuk berarti melaksanakan salat dengan penuh kesadaran akan kehadiran Allah, serta melakukannya secara tepat waktu dan benar. Khusyuk dalam salat mencerminkan kesungguhan hati dalam beribadah dan keikhlasan kepada Allah SWT.
Lisan memiliki peran besar dalam perilaku manusia. Sayyidina Ali mengajarkan agar umat menjaga lisan dari perkataan yang dapat menyakiti orang lain, perkataan bohong, fitnah, atau hal-hal negatif lainnya. Perkataan yang baik bisa menjadi amal yang besar, sementara perkataan buruk bisa menjadi dosa.
Untuk meraih surga, seseorang harus berusaha menjauhkan diri dari perbuatan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Kesadaran untuk terus memperbaiki diri dan meninggalkan perbuatan yang tidak disukai Allah adalah langkah penting menuju kebahagiaan akhirat.
Amarah adalah salah satu sifat yang dapat merusak hubungan dengan sesama manusia dan mendekatkan seseorang pada perilaku yang tidak baik. Menahan amarah dan memaafkan orang lain adalah bentuk kesabaran yang sangat dihargai dalam Islam, dan menjadi salah satu syarat untuk meraih surga.
Sayyidina Ali juga menekankan pentingnya berbagi rezeki kepada orang lain, terutama mereka yang membutuhkan. Sedekah adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam, karena selain membantu orang lain, ia juga membersihkan harta dan melapangkan jalan menuju surga.
Menjaga hubungan baik dengan keluarga, teman, dan tetangga adalah syarat penting untuk meraih surga. Silaturahmi mendatangkan keberkahan dan menciptakan harmoni dalam kehidupan sosial, serta menjadi amalan yang sangat dicintai Allah SWT.
Dengan memenuhi enam syarat ini, seseorang diharapkan dapat meraih ridha Allah SWT dan dijauhkan dari siksa neraka, serta dipermudah jalan menuju surga. Nasihat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib ini menggarisbawahi pentingnya menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia dalam rangka mencapai kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat.
Mengetahui Allah, lalu menaatinya. Mengetahui akherat.lalu berusaha mendapatkannya.
Pernyataan “Mengetahui Allah, lalu menaatinya. Mengetahui akhirat, lalu berusaha mendapatkannya.” adalah inti dari pemahaman spiritual dalam Islam yang mencakup keyakinan akan Allah dan kehidupan setelah mati. Pernyataan ini mengandung dua prinsip penting yang saling terkait dalam kehidupan beragama seorang Muslim:
Mengetahui Allah (ma’rifatullah) berarti mengenal Allah dengan benar, memahami keesaan-Nya (tawhid), sifat-sifat-Nya, dan kebesaran-Nya. Pengenalan kepada Allah merupakan fondasi iman, dan ini bukan sekadar pengetahuan intelektual, tetapi lebih kepada kesadaran hati yang mendalam tentang Allah sebagai Pencipta, Pengatur, dan Penguasa alam semesta.
Setelah mengenal Allah, langkah berikutnya adalah mentaati-Nya. Ketaatan ini meliputi:
Mengetahui Allah dan mentaati-Nya adalah inti dari ibadah dan tujuan keberadaan manusia di dunia sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Mengetahui akhirat berarti menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, sedangkan kehidupan yang kekal adalah di akhirat. Pemahaman ini memberikan motivasi bagi setiap Muslim untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.
Keyakinan kepada akhirat merupakan salah satu rukun iman, dan kesadaran akan adanya hisab (perhitungan) dan balasan setelah mati mendorong seseorang untuk berusaha mendapatkan kebahagiaan akhirat, yaitu dengan:
“Tidak ada seorang pun dari kalian yang akan diselamatkan oleh amalnya.” Para sahabat bertanya: ‘Termasuk engkau, ya Rasulullah?’ Beliau menjawab: “Termasuk aku, kecuali bila Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam pandangan ini, hidup di dunia adalah masa persiapan untuk akhirat. Setiap tindakan di dunia memiliki dampak pada kehidupan setelah mati. Oleh karena itu, seorang Muslim yang benar-benar mengetahui hakikat akhirat akan senantiasa mengarahkan hidupnya untuk berusaha meraih kebahagiaan abadi di akhirat dengan menjauhi dosa dan memperbanyak amal baik.
Kesimpulannya, kedua prinsip ini, yaitu mengetahui Allah dan mentaati-Nya, serta mengetahui akhirat dan berusaha mendapatkannya, adalah inti dari perjalanan spiritual seorang Muslim dalam mencapai kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Prinsip ini memandu umat untuk selalu mengaitkan tindakan duniawi dengan konsekuensi ukhrawi, sehingga segala aktivitas kehidupan selalu diorientasikan kepada ridha Allah dan kebahagiaan di akhirat.
Mengetahui Syetan, lalu mendurhakainya. Mengetahui dunia, kemudian meninggalkannya ( kecuali sebatas yang diperlukan untuk kebutuhan hidup)
Pernyataan “Mengetahui syetan, lalu mendurhakainya. Mengetahui dunia, kemudian meninggalkannya (kecuali sebatas yang diperlukan untuk kebutuhan hidup)” menggambarkan prinsip penting dalam ajaran Islam yang berfokus pada pengendalian diri dari godaan duniawi dan setan. Kedua konsep ini sangat berkaitan dengan bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap dalam menghadapi dua elemen yang seringkali menjauhkan manusia dari jalan Allah, yaitu godaan syetan dan kecintaan berlebihan pada dunia. Berikut adalah penjelasan lebih rinci:
Syetan dalam Islam adalah musuh abadi manusia. Sejak awal penciptaan manusia, syetan (iblis) telah bersumpah untuk menyesatkan anak cucu Adam hingga hari kiamat. Mengetahui syetan berarti menyadari adanya syetan sebagai makhluk yang berusaha menggoda manusia dengan berbagai cara agar mereka berpaling dari Allah.
Setelah mengetahui hal ini, langkah selanjutnya adalah mendurhakainya, yaitu menolak dan melawan setiap bentuk godaan syetan. Hal ini dapat diwujudkan dengan beberapa cara:
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh (yang harus diwaspadai).”
(QS. Al-Fathir: 6)
Dengan mendurhakai syetan, artinya seorang Muslim harus berupaya untuk tidak tergoda oleh ajakan syetan dan terus berjuang melawan hawa nafsu yang dihembuskan syetan ke dalam dirinya.
Dunia dalam Islam dianggap sebagai tempat sementara yang penuh dengan ujian. Allah SWT menciptakan dunia untuk menjadi tempat manusia hidup, berusaha, dan diuji keimanannya. Mengetahui dunia berarti menyadari bahwa dunia ini fana, sementara, dan bukan tujuan akhir dari kehidupan manusia.
Setelah mengetahui hakikat dunia, langkah berikutnya adalah meninggalkannya, dalam arti tidak terikat atau terlena dengan gemerlap dan kesenangan dunia yang bisa menjauhkan seseorang dari mengingat Allah dan akhirat. Namun, Islam tidak mengajarkan untuk sepenuhnya meninggalkan dunia, tetapi hanya mengambil bagian dari dunia sebatas yang diperlukan untuk kebutuhan hidup. Ini berarti:
Rasulullah SAW bersabda:
“Jadilah di dunia ini seolah-olah engkau seorang asing atau seorang pengembara.”
(HR. Bukhari)
Prinsip meninggalkan dunia ini adalah pengingat bagi seorang Muslim untuk tidak terlalu terobsesi dengan dunia, melainkan fokus kepada kehidupan akhirat. Kesenangan dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kekal.
Kesimpulan
Kedua prinsip ini, yaitu mengetahui syetan lalu mendurhakainya, dan mengetahui dunia lalu meninggalkannya, adalah upaya untuk mengarahkan hidup kepada tujuan akhir yang lebih tinggi, yaitu ridha Allah dan kebahagiaan di akhirat. Dengan melawan godaan syetan dan menjaga diri dari kecintaan yang berlebihan terhadap dunia, seorang Muslim dapat tetap teguh di jalan kebenaran dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang kekal di akhirat.
Mengetahui yang haq, lalu mengikutinya. Mengetahui yang batil lalu menjauhinya.
Pernyataan “Mengetahui yang haq, lalu mengikutinya. Mengetahui yang batil, lalu menjauhinya” mencerminkan panduan moral dan spiritual dalam Islam yang mendasari perilaku seorang Muslim dalam menjalani kehidupan. Prinsip ini menuntut agar seseorang dapat membedakan antara kebenaran (yang haq) dan kebatilan (yang batil), serta mengambil tindakan yang tepat terhadap keduanya: mengikuti kebenaran dan menjauhi kebatilan. Berikut adalah penjelasan dari kedua konsep tersebut:
Yang haq berarti segala sesuatu yang benar menurut Allah SWT, yang sesuai dengan wahyu, syariat, dan tuntunan agama Islam. Kebenaran ini mencakup segala aspek kehidupan, baik dalam keyakinan (aqidah), ibadah, muamalah (interaksi sosial), hingga perilaku pribadi.
Setelah mengetahui yang haq, langkah selanjutnya adalah mengikutinya. Hal ini berarti:
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:
“Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang menghendaki (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang menghendaki (kafir) biarlah ia kafir.'”
(QS. Al-Kahfi: 29)
Kebenaran adalah sesuatu yang tetap dan tidak berubah, datang dari Allah, dan manusia diperintahkan untuk mengikutinya tanpa ragu-ragu.
Yang batil adalah segala sesuatu yang salah, sesat, atau bertentangan dengan kebenaran yang telah ditetapkan Allah. Kebatilan mencakup perbuatan maksiat, penyimpangan dari syariat, keyakinan yang salah, serta perilaku yang tidak bermoral. Mengetahui yang batil berarti menyadari apa saja yang termasuk dalam hal-hal yang salah atau menyesatkan menurut agama.
Setelah mengetahui yang batil, tugas seorang Muslim adalah menjauhinya, yaitu:
Allah SWT berfirman:
“Dan katakanlah: ‘Telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.'”
(QS. Al-Isra: 81)
Kebatilan adalah sesuatu yang sementara, tidak memiliki dasar yang kuat, dan akan hilang. Namun, selama manusia hidup di dunia, kebatilan akan selalu ada sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman.
Kesimpulan
Prinsip mengetahui yang haq dan mengikutinya, serta mengetahui yang batil dan menjauhinya adalah panduan hidup bagi seorang Muslim untuk berjalan di atas jalan kebenaran yang telah ditetapkan Allah SWT, dan menjauhi segala bentuk kesalahan atau kebatilan. Keduanya mencerminkan keseimbangan dalam kehidupan seorang Muslim: mencari dan mengikuti kebenaran, serta menghindari hal-hal yang dapat menyesatkan dari jalan yang benar.
Ini juga menuntut seseorang untuk selalu belajar, introspeksi, dan memperkuat iman agar mampu membedakan mana yang benar dan salah, serta bertindak sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Hanya dengan memahami dan mengamalkan kedua prinsip ini, seorang Muslim dapat menjalani hidup yang diridhai Allah dan terhindar dari jalan yang menyesatkan.
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.