Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Akademik
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Akhlak Ketika Dikenal Sebagai Orang Berilmu : Ujian Sunyi Para Pewaris Cahaya.

    Mar 30 202621 Dilihat

    Akhlak Ketika Dikenal Sebagai Orang Berilmu: Ujian Sunyi Para Pewaris Cahaya

     

    Dalam perjalanan ruhani seorang penuntut ilmu, ada satu fase yang sangat menentukan: ketika ia tidak lagi hanya “mencari ilmu”, tetapi telah dikenal sebagai orang berilmu. Pada titik inilah, menurut Imam Al-Jurri, ujian sejati dimulai—ujian yang lebih berat daripada sekadar menghafal, memahami, dan mengkaji.

    Karena pada fase ini, ilmu tidak lagi sekadar cahaya…
    tetapi bisa berubah menjadi fitnah yang tersembunyi.

    Artikel ini mengajak kita menyelami dimensi ideologis-sufistik dari akhlak seorang alim—agar ilmu tidak sekadar menambah pengetahuan, tetapi benar-benar mengantarkan pada ma’rifatullah.

     

    1. Dari Pencari Ilmu Menjadi “Simbol Ilmu”: Perubahan yang Berbahaya

    Ketika seseorang dikenal sebagai orang berilmu, ia telah berpindah dari:

    • Subjek yang belajar, menjadi
    • Objek yang dilihat dan dinilai

    Ia bukan lagi hanya bertanggung jawab atas dirinya, tetapi juga menjadi cermin umat.

    Dalam perspektif sufistik, ini adalah fase:

    “Peralihan dari perjalanan menuju Allah, menjadi ujian dalam perjalanan bersama manusia.”

    Di sinilah banyak orang tergelincir.
    Bukan karena kurang ilmu… tetapi karena tertipu oleh citra dirinya sendiri.

     

    1. Ilmu dan Penyakit Hati yang Paling Halus

    Imam Al-Ghazali dalam banyak karyanya mengingatkan bahwa penyakit hati paling berbahaya justru sering menyerang orang berilmu:

    • Riya’ (ingin dilihat)
    • ‘Ujub (bangga diri)
    • Sum’ah (ingin didengar)
    • Hubbul jah (cinta kedudukan)

    Ketika seseorang dikenal sebagai alim, penyakit ini datang bukan secara kasar…
    tetapi dalam bentuk yang sangat halus:

    • Ia berbicara benar, tapi ingin dipuji
    • Ia berdakwah, tapi ingin dikenal
    • Ia menulis, tapi ingin diakui

    Inilah yang disebut para sufi:

    “Syirik khafi (tersembunyi) dalam amal-amal kebaikan.”

     

    1. Keikhlasan: Nafas yang Harus Terus Dijaga

    Imam Al-Jurri menekankan bahwa keikhlasan bukan hanya di awal, tetapi harus terus diperbarui.

    Karena semakin tinggi posisi seseorang di mata manusia, semakin besar godaan untuk:

    • Menjaga reputasi
    • Menghindari kritik
    • Mengejar validasi

    Padahal, jalan para wali adalah:

    “Tidak peduli bagaimana manusia melihatnya, selama Allah ridha kepadanya.”

    Keikhlasan sejati adalah ketika:

    • Dipuji tidak membuatnya bertambah semangat
    • Dicela tidak membuatnya berhenti berbuat baik

     

    1. Tawadhu’: Mahkota yang Tidak Terlihat

    Orang berilmu sejati justru semakin merasa kecil di hadapan Allah.

    Semakin luas ilmunya, semakin ia sadar bahwa:

    “Apa yang belum aku ketahui jauh lebih banyak daripada yang aku ketahui.”

    Para ulama salaf menunjukkan akhlak ini:

    • Mereka tidak suka disebut alim
    • Mereka tidak merasa layak memberi fatwa
    • Mereka lebih cepat mengatakan “tidak tahu” daripada berbicara tanpa ilmu

    Dalam kacamata sufistik, tawadhu’ bukan sekadar sikap…
    tetapi kesadaran eksistensial bahwa diri ini tidak memiliki apa-apa.

     

    1. Ilmu yang Tidak Diamalkan: Hijab yang Menggelapkan

    Salah satu peringatan keras dari Imam Al-Jurri adalah:

    “Ilmu tanpa amal akan menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya di hadapan Allah.”

    Dalam dunia tasawuf, ilmu terbagi menjadi dua:

    • Ilmu lisan (di kepala)
    • Ilmu hal (di hati dan perbuatan)

    Jika ilmu hanya berhenti di lisan, ia menjadi:

    • Bahan debat
    • Alat pamer
    • Sumber kesombongan

    Namun jika ilmu turun ke hati, ia menjadi:

    • Cahaya
    • Hikmah
    • Jalan menuju Allah

     

    1. Popularitas: Ujian yang Tidak Pernah Diinginkan Para Ulama

    Para ulama terdahulu justru lari dari popularitas.

    Mereka khawatir dikenal… karena:

    • Takut amalnya rusak
    • Takut niatnya berubah
    • Takut hatinya condong pada dunia

    Namun hari ini, banyak orang justru menjadikan ilmu sebagai:

    • Konten
    • Branding
    • Jalan menuju ketenaran

    Padahal, dalam logika sufistik:

    “Semakin engkau dikenal manusia, semakin engkau harus menghilang di hadapan Allah.”

    Artinya:

    • Perbanyak khalwat (menyendiri dengan Allah)
    • Perbanyak muhasabah
    • Kurangi ketergantungan pada pujian

     

    1. Menjaga Lisan: Antara Hikmah dan Fitnah

    Orang berilmu memiliki kekuatan besar dalam lisannya.

    Satu kalimat bisa:

    • Menghidupkan hati
    • Mengubah hidup seseorang
    • Atau justru menyesatkan banyak orang

    Karena itu, Imam Al-Jurri menekankan:

    • Jangan berbicara tanpa ilmu
    • Jangan menjawab semua pertanyaan
    • Jangan mencari panggung dalam setiap kesempatan

    Dalam tasawuf, diam yang benar lebih tinggi daripada bicara yang tidak perlu.

     

    1. Ujian Terdalam: Ketika Ilmu Tidak Lagi Membuat Menangis

    Tanda ilmu yang hidup adalah:

    • Membuat hati lembut
    • Membuat mata mudah menangis
    • Membuat jiwa semakin takut kepada Allah

    Namun ketika seseorang dikenal sebagai alim, sering terjadi:

    • Ilmu bertambah… tapi hati mengeras
    • Pengetahuan luas… tapi rasa takut berkurang

    Inilah tanda bahwa ilmu telah kehilangan ruhnya.

     

    1. Kembali Menjadi Hamba, Bukan “Tokoh”

    Jalan keselamatan bagi orang berilmu adalah:

    Kembali menjadi hamba.

    Bukan sibuk menjadi:

    • Tokoh
    • Figur
    • Simbol

    Tetapi menjadi:

    • Hamba yang shalatnya khusyuk
    • Hamba yang menangis di sepertiga malam
    • Hamba yang merasa hina di hadapan Allah

    Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan:

    “Berapa banyak yang mengenalmu?”

    Tetapi:

    “Seberapa dalam engkau mengenal Allah?”

     

    Penutup: Ilmu yang Menyelamatkan atau Menghancurkan

    Wahai para penuntut ilmu…
    Wahai yang telah dikenal sebagai orang berilmu…

    Renungkanlah pesan Imam Al-Jurri:

    “Jangan sampai engkau dikenal di bumi sebagai orang alim, tetapi di langit sebagai orang yang tertipu.”

    Ilmu bisa menjadi:

    • Cahaya yang mengangkat derajatmu ke surga, atau
    • Api yang menyeretmu ke dalam kehinaan

    Semua tergantung pada:

    • Keikhlasanmu
    • Kerendahan hatimu
    • Kesungguhanmu mengamalkan ilmu

     

    Doa Penutup

    Ya Allah…
    Jangan Engkau jadikan ilmu kami sebagai jalan menuju kesombongan…
    Tetapi jadikan ia tangga menuju kerendahan hati di hadapan-Mu…

    Ya Allah…
    Selamatkan kami dari fitnah dikenal manusia…
    Dan jadikan kami dikenal oleh-Mu sebagai hamba yang Engkau cintai…

    Aamiin.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Pengusaha Muslim : Antara Bisnis dan Mis...

    by Apr 02 2026

    PENGUSAHA MUSLIM: ANTARA BISNIS DAN MISI ILAHIYAH “Bangun Bisnis yang Kuat untuk Bangkitkan Perada...

    Akal, Dzikir, dan Tekad : Jalan Sufistik...

    by Apr 02 2026

    Akal, Dzikir, dan Tekad: Jalan Sufistik Membangun Peradaban Mukmin   Dalam lanskap kehidupan mo...

    Adab Duduk Bersama Orang Berilmu : Jalan...

    by Mar 30 2026

    Adab Duduk Bersama Orang Berilmu: Jalan Sunyi Menuju Cahaya Makrifat   Dalam perjalanan panjang...

    Rahasia Makrifat : Jalan Sunyi Menuju Al...

    by Mar 30 2026

    RAHASIA MAKRIFAT: JALAN SUNYI MENUJU ALLAH Telaah Ideologis–Sufistik atas Pemikiran Izzuddin bin A...

    Silaturarrahim dan Magnet Rezeki.

    by Mar 30 2026

    SILATURRAHIM DAN MAGNET REZEKI Jalan Ideologis–Sufistik Menuju Keberkahan Hidup dan Kemuliaan Umat...

    Strategi Personal Branding Daí Milenial...

    by Mar 25 2026

    Strategi Personal Branding Da’i Milenial: Jalan Dakwah dari Popularitas Menuju Keberkahan   D...

    • elsye felisia amelia berkata:

      kita sebagai orang yg menuntut ilmu yang akan menjadi orang yg berilmu juga ,semoga kita menjadi orang yg bermanfaat bukan orang yg mendapat ilmu tapi kehilangan ruhnya,dan semoga kita dapat mencerminkan akhlak” sebagai orang yg berilmu.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top