Ustadzfaqih • Mar 30 2026 • 31 Dilihat

RAHASIA MAKRIFAT: JALAN SUNYI MENUJU ALLAH
Telaah Ideologis–Sufistik atas Pemikiran Izzuddin bin Abdussalam
Gaya Reflektif: Dr. Nasrul Syarif, M.Si
Pendahuluan: Krisis Makna di Tengah Kelimpahan Informasi
Kita hidup di zaman di mana ilmu melimpah, tetapi hati terasa kering. Informasi bertebaran, namun makna semakin menjauh. Banyak yang mengenal agama, tetapi sedikit yang benar-benar mengenal Allah. Di sinilah makrifat menjadi sesuatu yang langka, bahkan asing.
Makrifat bukan sekadar tahu, tetapi menjadi sadar sepenuhnya akan kehadiran Allah dalam setiap detik kehidupan. Ia bukan teori, melainkan pengalaman batin. Ia bukan retorika, tetapi transformasi.
Dalam kerangka inilah pemikiran Izzuddin bin Abdussalam menjadi sangat relevan. Beliau tidak hanya membangun bangunan syariat yang kokoh, tetapi juga membuka jalan menuju hakikat yang dalam. Makrifat menurut beliau bukan jalan pelarian, tetapi jalan perjuangan ruhani yang penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Makrifat dimulai dari ilmu, tetapi tidak berhenti pada ilmu. Banyak orang berhenti pada hafalan, padahal makrifat menuntut penghayatan dan penyaksian.
Ilmu yang tidak diamalkan akan berubah menjadi beban. Ia tidak mengangkat derajat, justru menjadi hijab yang menghalangi cahaya. Dalam perspektif sufistik, ilmu sejati adalah ilmu yang:
Makrifat adalah transformasi dari pengetahuan rasional menuju kesadaran eksistensial. Dari “saya tahu Allah ada” menjadi “saya merasakan Allah hadir”.
Inilah pergeseran paradigma yang harus dibangun:
agama bukan hanya dipahami, tetapi dihidupkan.
Makrifat tidak akan pernah hadir dalam hati yang dipenuhi kotoran. Maka proyek terbesar dalam hidup seorang hamba adalah membersihkan jiwanya sendiri.
Tazkiyatun nafs bukan sekadar ritual, tetapi revolusi batin:
Dalam konteks ideologis, ini adalah perlawanan terhadap egoisme modern. Dunia hari ini membangun manusia yang haus pengakuan, sementara makrifat membangun manusia yang cukup dengan Allah.
Orang yang telah melakukan tazkiyah akan mengalami perubahan mendasar:
Makrifat bukan diturunkan kepada hati yang penuh, tetapi kepada hati yang telah dikosongkan dari selain-Nya.
Makrifat bukan menjauh dari dunia, tetapi melihat Allah dalam setiap realitas dunia.
Setiap kejadian adalah ayat.
Setiap peristiwa adalah tanda.
Setiap detik adalah panggilan menuju kesadaran.
Dalam pandangan Izzuddin bin Abdussalam, orang yang makrifat tidak lagi melihat dunia sebagai objek yang berdiri sendiri. Ia melihat dunia sebagai cermin yang memantulkan sifat-sifat Allah.
Maka hidupnya berubah:
Ia tidak lagi sekadar menjalani hidup, tetapi membaca pesan Ilahi dalam setiap episode kehidupan.
Ikhlas adalah inti dari segala amal. Ia adalah energi tersembunyi yang menentukan diterima atau tidaknya sebuah amal.
Makrifat tidak akan pernah dicapai oleh hati yang masih bergantung pada penilaian manusia. Sebab selama orientasi masih horizontal, maka pintu vertikal belum terbuka.
Ikhlas mengajarkan satu hal penting:
cukup Allah sebagai tujuan.
Orang yang ikhlas:
Ia beramal bukan untuk dilihat, tetapi untuk didekatkan.
Dan ketika ikhlas telah sempurna, maka Allah akan membuka:
Makrifat adalah hadiah bagi mereka yang kehilangan kepentingan selain Allah.
Tidak ada makrifat tanpa ujian. Sebab ujian adalah proses pemurnian.
Dalam logika dunia, ujian adalah penderitaan.
Dalam logika makrifat, ujian adalah pendidikan.
Orang yang makrifat tidak bertanya: “Mengapa ini terjadi?”
Tetapi bertanya: “Apa yang Allah ingin ajarkan melalui ini?”
Di sinilah kedalaman spiritual terbentuk.
Bukan dari kenyamanan, tetapi dari keteguhan dalam menghadapi ujian.
Makrifat melahirkan manusia yang merdeka. Bukan merdeka dari dunia, tetapi merdeka dari ketergantungan terhadap dunia.
Ciri-cirinya:
Ia tetap bekerja, tetapi tidak diperbudak oleh pekerjaan.
Ia tetap memiliki, tetapi tidak dimiliki oleh apa yang ia punya.
Makrifat menjadikan seseorang:
hidup di dunia dengan tubuhnya, tetapi bersama Allah dengan hatinya.
Makrifat bukan hanya urusan individu, tetapi bisa menjadi fondasi peradaban.
Bayangkan jika manusia:
Maka yang lahir bukan sekadar kemajuan material, tetapi peradaban yang berjiwa.
Makrifat adalah solusi atas krisis modern:
Ia menawarkan satu hal yang tidak bisa diberikan dunia:
kedekatan dengan Allah yang melahirkan ketenangan sejati.
Penutup: Jalan Pulang Menuju Allah
Makrifat bukan milik para wali saja. Ia adalah jalan terbuka bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh.
Namun jalan ini tidak mudah. Ia menuntut:
Dan yang paling penting:
kerinduan yang tulus kepada Allah.
Sebagaimana isyarat dalam jalan sufistik:
“Barangsiapa berjalan menuju Allah dengan hati yang jujur, maka Allah akan menyambutnya dengan rahmat-Nya.”
Renungan Akhir
Makrifat bukan tentang seberapa banyak kita tahu, tetapi seberapa dalam kita merasakan kehadiran Allah.
Bukan tentang seberapa tinggi kita berbicara, tetapi seberapa rendah kita di hadapan-Nya.
Dan pada akhirnya, makrifat adalah perjalanan pulang—
dari dunia yang fana menuju Allah Yang Maha Kekal.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
PENGUSAHA MUSLIM: ANTARA BISNIS DAN MISI ILAHIYAH “Bangun Bisnis yang Kuat untuk Bangkitkan Perada...
Akal, Dzikir, dan Tekad: Jalan Sufistik Membangun Peradaban Mukmin Dalam lanskap kehidupan mo...
Akhlak Ketika Dikenal Sebagai Orang Berilmu: Ujian Sunyi Para Pewaris Cahaya Dalam perjalanan...
Adab Duduk Bersama Orang Berilmu: Jalan Sunyi Menuju Cahaya Makrifat Dalam perjalanan panjang...
SILATURRAHIM DAN MAGNET REZEKI Jalan Ideologis–Sufistik Menuju Keberkahan Hidup dan Kemuliaan Umat...
Strategi Personal Branding Da’i Milenial: Jalan Dakwah dari Popularitas Menuju Keberkahan D...
sebenarnya membaca ini sedikit membuat saya pusing,dan mungkin harus diulangi untuk memahami maksud yang dimaksud tentang ma’rifat di sini.memang, meniju ma’rifat itu bukan hal yang mudah,tapi semoga semua yg telah membaca ini mendapatkan arahan,dan bisa mengamalkannya,dan yg perlu di perhatikan dari sini ,bahwa tujuan kita untuk adalh membersihkan jiwa,karena ma’rifat itu tidak bisa hadir pada hati yg kotor.
dan saya sangat terkesan dengan penjelasan”Orang yang makrifat tidak bertanya: “Mengapa ini terjadi?”
Tetapi bertanya: “Apa yang Allah ingin ajarkan melalui ini?”
mungkin bagi kalian atau saya sendiri yg masih mengeluh saat diberi ujian oleh allah,jangan lupa bersabar dan ikhlas,bahwa ini adalah ujian untuk melihat seberapa ada,allah itu di hati kamu.
dan stop tidak terima atau menyalahkan allah jika mendaptkan ujian ,dan berprasangkalah baik pada allah