Ustadzfaqih • Okt 22 2024 • 174 Dilihat

Tema Hari Santri 2024 Menyambung Juang dan Merengkuh Masa Depan.
Tema Hari Santri 2024: “Menyambung Juang dan Merengkuh Masa Depan” menekankan pentingnya kesinambungan perjuangan para santri dalam sejarah dengan tantangan masa depan. Tema ini mencerminkan dua hal penting:
Tema ini mencerminkan kesinambungan antara warisan perjuangan ulama dan santri dengan tantangan globalisasi serta perkembangan teknologi yang akan dihadapi di masa mendatang.
Meneruskan Perjuangan Wali sanga dan Para Ulama sebagai pewaris para Nabi Melawan Penjajahan. Dalam Konteks Saat ini Penjajahan Gaya baru yakni Penjajahan Hukum, Penjajahan Ekonomi dan Penjajahan Budaya.
Melanjutkan perjuangan Wali Sanga dan para ulama sebagai pewaris Nabi dalam konteks penjajahan modern menuntut pendekatan yang relevan dengan tantangan zaman. Pada masa lalu, Wali Sanga dan ulama terlibat aktif dalam penyebaran Islam serta melawan penjajahan fisik yang dilakukan oleh bangsa-bangsa kolonial. Mereka tidak hanya menyebarkan ajaran agama, tetapi juga menjaga kedaulatan bangsa dari pengaruh luar yang merusak.
Saat ini, bentuk penjajahan yang dihadapi lebih kompleks, sering disebut “penjajahan gaya baru” (neo-kolonialisme), yang meliputi:
Penjajahan hukum dapat terjadi ketika kebijakan atau regulasi negara dikuasai atau dipengaruhi oleh kepentingan luar yang menguntungkan segelintir pihak, terutama korporasi multinasional atau negara adidaya. Dalam hal ini, hukum digunakan sebagai alat untuk mempertahankan dominasi, sering kali mengabaikan keadilan bagi rakyat kecil. Salah satu cara melawan penjajahan hukum adalah dengan memperkuat sistem hukum yang adil, berdaulat, dan independen dari intervensi luar. Prinsip keadilan Islam, seperti syura (musyawarah) dan istihsan (kebijakan yang memperhatikan kepentingan umum), dapat menjadi landasan dalam mengatasi masalah ini.
Penjajahan ekonomi ditandai dengan dominasi negara-negara maju atau korporasi besar dalam menguasai sumber daya alam dan pasar di negara berkembang. Ini sering terjadi melalui utang luar negeri, kontrak eksploitasi sumber daya alam yang tidak adil, serta penguasaan pasar oleh produk asing yang meminggirkan industri lokal.
Sistem ekonomi Islam menekankan keadilan dalam distribusi kekayaan dan larangan praktik riba, yang menyebabkan ketergantungan ekonomi. Zakat, sedekah, dan wakaf dapat membantu menciptakan ekonomi yang lebih inklusif dan mengurangi ketimpangan. Selain itu, pemerintah harus berfokus pada kemandirian ekonomi dengan memperkuat sektor industri, pertanian, dan hilirisasi sumber daya alam​
Penjajahan budaya merujuk pada dominasi budaya asing yang mengikis identitas nasional dan lokal. Melalui media, hiburan, dan gaya hidup global, nilai-nilai asing sering kali menggantikan budaya tradisional. Ini menyebabkan generasi muda semakin jauh dari akar budaya dan agama mereka, dan lebih menerima nilai-nilai materialisme atau konsumerisme.
Peran pendidikan Islam sangat penting dalam melawan penjajahan budaya. Dengan memperkuat nilai-nilai agama dan budaya lokal, masyarakat dapat mempertahankan jati diri mereka. Di samping itu, teknologi dan media bisa digunakan untuk memperkuat narasi budaya lokal dan agama dalam format yang modern dan menarik.
Menyambung Juang Wali Sanga dan Para Ulama
Seperti Wali Sanga yang menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya dan dakwah yang damai, generasi saat ini harus melanjutkan perjuangan mereka dengan metode yang kontekstual. Dakwah bil hal (dakwah melalui tindakan) yang relevan dengan masalah modern, seperti pemberdayaan ekonomi umat, pembelaan hak-hak kaum lemah, dan penyebaran nilai-nilai akhlak dalam politik dan sosial, merupakan cara efektif untuk melawan penjajahan gaya baru ini.
Kesimpulan
Perjuangan melawan penjajahan modern membutuhkan kesadaran akan bentuk-bentuk penjajahan yang lebih halus tetapi berdampak besar. Dengan menerapkan ajaran Islam yang menyeluruh dan menekankan keadilan dalam hukum, ekonomi, dan budaya, kita dapat melanjutkan perjuangan para wali dan ulama dalam membebaskan negeri ini dari berbagai bentuk ketidakadilan.
SAntri yang Memiliki Aqidah Islam dan Tsaqofah Islam yang Mumpuni dan Menjadikan Dakwah sebagai Poros kehidupannya di tengah-tengah masyarakat.
Seorang santri yang memiliki aqidah Islam yang kuat dan tsaqofah Islam (pemahaman mendalam terhadap ilmu-ilmu Islam) yang mumpuni dapat memainkan peran sentral dalam masyarakat. Ketika dakwah menjadi poros kehidupan santri tersebut, ia tidak hanya menjadi pelaku keilmuan dan ibadah, tetapi juga menjadi agen perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat. Ada beberapa elemen kunci yang menjadikan santri dengan karakter ini unggul:
Aqidah yang benar dan kuat adalah pondasi utama kehidupan seorang Muslim, terutama santri. Seorang santri yang memiliki aqidah yang kokoh akan memiliki:
Tsaqofah Islam meliputi pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu Islam, seperti fikih, aqidah, hadits, tafsir, dan sejarah Islam. Santri yang memahami tsaqofah Islam secara mendalam memiliki keunggulan sebagai berikut:
Dakwah adalah misi penting bagi setiap Muslim, khususnya santri. Ketika dakwah menjadi poros kehidupan, seorang santri berperan aktif dalam:
Dalam masyarakat modern yang penuh tantangan globalisasi, sekularisme, dan liberalisme, peran santri yang berfokus pada dakwah sangat diperlukan. Seorang santri yang menjadi pelopor dakwah tidak hanya harus memiliki kecakapan agama, tetapi juga harus memahami perkembangan sosial, politik, dan teknologi. Hal ini penting agar dakwah yang disampaikan relevan dan efektif dalam merespons problematika masyarakat kontemporer.
Seorang santri yang berdakwah di tengah-tengah masyarakat bertujuan untuk:
Kesimpulan
Santri yang memiliki aqidah dan tsaqofah Islam yang kuat, serta menjadikan dakwah sebagai poros kehidupannya, memiliki potensi besar untuk menjadi motor perubahan dalam masyarakat. Dengan aqidah yang kokoh dan pemahaman Islam yang mendalam, mereka tidak hanya mampu menghadapi tantangan zaman tetapi juga menjadi pemimpin dalam perjuangan untuk mewujudkan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan sesuai dengan ajaran Islam.
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu â...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.