Ustadzfaqih • Okt 21 2024 • 256 Dilihat

Inti Amal Sholeh adalah Keikhlasan Hamba karena Allah dalam niatnya.
“Inti Amal Sholeh adalah keikhlasan hamba karena Allah dalam niatnya” merupakan prinsip yang sangat mendasar dalam ajaran Islam. Dalam Islam, amal sholeh tidak hanya diukur dari bentuk luarnya atau hasilnya, tetapi yang lebih penting adalah niat yang mendasari perbuatan tersebut. Niat yang tulus, dilakukan semata-mata untuk mencari keridhaan Allah, adalah kunci utama agar amal itu diterima oleh Allah.
Hal ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:
“Innamal a’malu binniyat”, yang berarti “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Dengan demikian, seseorang yang melakukan amal sholeh harus memastikan bahwa hatinya bersih dari riya’ (pamer) atau motivasi duniawi lainnya. Amal yang dilakukan tanpa keikhlasan bisa jadi tidak memiliki nilai di hadapan Allah, meskipun tampak baik di mata manusia.
Syeikh Fudhail bin Iyadh menafsirkan firman Allah, ” Untuk menguji kalian siapa dari kalian yang paling bagus amalnya,” ( QS. Al-Mulk : 2 ), berarti sebagai yang paling Ikhlas dan benar amalnya.
Syeikh Fudhail bin Iyadh, seorang ulama besar, memberikan penafsiran yang mendalam terkait ayat dalam QS. Al-Mulk: 2, di mana Allah berfirman:
ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ
“ Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, ( QS. Al-Mulk : 2 )
Menurut penafsiran Fudhail bin Iyadh, “yang paling bagus amalnya” bukan hanya terkait dengan kualitas atau kuantitas amal, melainkan dilihat dari dua aspek utama, yaitu ikhlas dan benar.
Fudhail bin Iyadh menekankan bahwa amal yang baik adalah amal yang ikhlas dan sesuai sunnah (benar). Jika salah satu dari keduanya hilang, maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah. Beliau mengatakan:
“Sesungguhnya, apabila amal itu ikhlas tetapi tidak benar, maka amal itu tidak diterima. Dan apabila amal itu benar tetapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima, sampai amal itu ikhlas dan benar sekaligus.”
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memperhatikan niat yang tulus serta menjalankan amal sesuai dengan petunjuk yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Makna Niat yang tulus menurut Imam An-Nawawi al-Dimasyqi.
Imam An-Nawawi al-Dimasyqi, seorang ulama besar dalam mazhab Syafi’i, memberikan perhatian khusus terhadap pentingnya niat dalam setiap amal perbuatan. Menurut beliau, niat yang tulus memiliki peran fundamental dalam menentukan kualitas dan penerimaan amal di sisi Allah.
Dalam kitabnya yang terkenal, “Riyadhus Shalihin”, Imam An-Nawawi memulai dengan bab tentang niat, yang mengindikasikan bahwa niat adalah dasar dari seluruh amalan. Salah satu hadits yang sering beliau rujuk dalam membahas niat adalah hadits dari Rasulullah ﷺ yang berbunyi:
“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai makna niat yang tulus menurut Imam An-Nawawi:
Menurut Imam An-Nawawi, niat membedakan apakah suatu perbuatan dianggap sebagai ibadah atau hanya sekadar aktivitas biasa. Sebagai contoh, makan untuk mengisi tenaga adalah aktivitas yang umum, tetapi jika niatnya untuk memperkuat diri dalam beribadah kepada Allah, maka makan tersebut menjadi amal yang bernilai ibadah.
Niat yang tulus, menurut Imam An-Nawawi, adalah dorongan batin seseorang yang benar-benar ingin mendekatkan diri kepada Allah. Amal perbuatan tersebut dilakukan tanpa mengharapkan pujian dari makhluk, melainkan semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah.
Imam An-Nawawi menekankan bahwa amal tanpa niat yang ikhlas kepada Allah bisa jadi tidak akan diterima. Beliau menyatakan bahwa amal yang dilakukan untuk mencari pengakuan dari manusia atau untuk motif duniawi tidak memiliki nilai di sisi Allah, walaupun amal itu terlihat besar.
Satu poin penting yang juga diangkat oleh Imam An-Nawawi adalah bahwa niat yang tulus dapat mengubah amal yang kelihatannya kecil menjadi besar di sisi Allah. Misalnya, sekadar tersenyum kepada orang lain atau menyingkirkan duri di jalan dengan niat ikhlas mencari keridhaan Allah bisa menjadi amal yang sangat bernilai.
Dari penjelasan Imam An-Nawawi, niat yang tulus adalah niat yang:
Dengan niat yang benar, amal seseorang akan memiliki bobot yang besar, meskipun dari sudut pandang duniawi mungkin terlihat kecil atau sepele.
وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ
“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” ( QS. Al-Bayyinah (98) : 5 )
Tafsir ayat ini, Karena adanya perpecahan di kalangan mereka, maka pada ayat ini dengan nada mencerca Allah menegaskan bahwa mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah-Nya. Perintah yang ditujukan kepada mereka adalah untuk kebaikan dunia dan agama mereka, dan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka juga diperintahkan untuk mengikhlaskan diri lahir dan batin dalam beribadah kepada Allah dan membersihkan amal perbuatan dari syirik sebagaimana agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim yang menjauhkan dirinya dari kekufuran kaumnya kepada agama tauhid dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah. Ikhlas adalah salah satu dari dua syarat diterimanya amal, dan itu merupakan pekerjaan hati. Sedang yang kedua adalah mengikuti sunah Rasulullah. Allah berfirman:
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus.” (an-Nahl/16: 123)
Firman-Nya yang lain:
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus dan muslim. (Ali ‘Imran/3: 67)
Mendirikan salat dalam ayat ini maksudnya adalah mengerjakannya terus-menerus setiap waktu dengan memusatkan jiwa kepada kebesaran Allah, untuk membiasakan diri tunduk kepada-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan mengeluarkan zakat yaitu membagi-bagikannya kepada yang berhak menerimanya sebagaimana yang telah ditentukan oleh Al-Qur’anul Karim.
Keterangan ayat di atas tentang keikhlasan beribadah, menjauhkan diri dari syirik, mendirikan salat, dan mengeluarkan zakat, adalah maksud dari agama yang lurus yang tersebut dalam kitab-kitab suci lainnya.
Imam al-Qusyayri berkata, Ikhlas itu berarti sungguh-sungguh mengesakan Allah dalam ketaatan, yakni hanya berharap ketaatan itu mendekatkannya pada Allah, bukan sebagai hal lain seperti kepura-puraan di hadapan Makhluk, upaya mendapatkan kemuliaan di tengah manusia, cinta pujian dari makhluk atau hal lain selain taqarub kepada Allah SWT.
Imam al-Qusyayri, seorang ulama besar tasawuf, memberikan definisi ikhlas yang sangat mendalam. Menurut beliau, ikhlas berarti benar-benar mengesakan Allah dalam ketaatan, yaitu menjadikan Allah satu-satunya tujuan dalam setiap perbuatan. Ikhlas dalam pandangan Imam al-Qusyayri adalah membersihkan niat dari segala bentuk kepentingan selain Allah.
Berikut adalah beberapa poin penting dari penjelasan Imam al-Qusyayri tentang ikhlas:
Penekanan al-Qusyayri terhadap keikhlasan ini sangat relevan dalam konteks tasawuf, di mana pembersihan hati dari segala macam penyakit batin (seperti riya’, ujub, dan cinta dunia) merupakan inti dari perjalanan spiritual seorang hamba. Ikhlas menjadi landasan utama dalam setiap ibadah, yang tanpa itu, amal yang tampak besar sekalipun tidak memiliki nilai di sisi Allah.
Dengan demikian, ikhlas menurut Imam al-Qusyayri adalah menyucikan niat dalam setiap ketaatan, memastikan bahwa segala perbuatan dilakukan hanya untuk Allah, demi mendekatkan diri kepada-Nya, dan tidak tercampur dengan motif-motif duniawi atau keinginan mendapatkan perhatian dari makhluk.
Dzunnun al-Mishri berkata , tiga tanda ikhlas adalah : Pujian dan hinaan orang dirasa sama saja, Lupa akan penglihatan orang pada saat berbuat, dan berharap pahala amal diberikan di akherat.
Dzunnun al-Mishri, seorang sufi besar, memberikan tiga tanda utama tentang ikhlas yang mencerminkan kondisi hati seseorang dalam beramal hanya karena Allah. Berikut adalah penjelasan dari tiga tanda ikhlas yang beliau sebutkan:
Dengan ketiga tanda ini, Dzunnun al-Mishri menekankan bahwa ikhlas adalah tentang pembersihan hati dari segala bentuk keterikatan duniawi dan pengakuan manusia. Hanya Allah yang menjadi tujuan dan sumber harapan dalam setiap perbuatan. Orang yang memiliki ketiga tanda ini telah mencapai tingkat ikhlas yang sangat tinggi, di mana amalnya murni hanya untuk Allah dan tidak terkontaminasi oleh tujuan-tujuan selain-Nya.
( DR Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.