Ustadzfaqih • Des 31 2025 • 38 Dilihat

Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si
Pendahuluan: Di Zaman Terang yang Gelap
Kita hidup di zaman yang disebut-sebut sebagai era pencerahan: teknologi maju, informasi melimpah, akses ilmu terbuka lebar. Namun anehnya, semakin terang dunia ini, semakin banyak manusia yang kehilangan arah. Kegelisahan jiwa, kegersangan makna, kekosongan batin, dan krisis moral justru semakin nyata.
Ini pertanda bahwa terang yang kita miliki bukanlah cahaya kebenaran, melainkan kilau semu. Sebab cahaya sejati tidak sekadar menerangi mata, tetapi menenteramkan hati dan menuntun ruh menuju Allah.
Hakikat Cahaya Kebenaran
Dalam Islam, cahaya bukan metafora kosong. Allah sendiri menegaskan:
> “Allah adalah Cahaya langit dan bumi.” (QS. An-Nur: 35)
Cahaya kebenaran (nur al-haq) adalah pancaran hidayah Ilahi yang menghidupkan hati, meluruskan akal, dan membersihkan jiwa. Ia bukan hasil kecerdasan semata, bukan pula buah popularitas, melainkan anugerah bagi hati yang bersih dan tunduk.
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa kebenaran tidak akan menetap di hati yang dikuasai nafsu. Sebab hati yang kotor ibarat lampu yang tertutup debu: cahaya ada, tetapi tak mampu menembus keluar.
Langkah Pertama: Niat yang Ikhlas
Setiap perjalanan ruhani menuju cahaya harus dimulai dari niat yang lurus. Tanpa niat yang ikhlas, ibadah menjadi rutinitas, ilmu berubah menjadi kesombongan, dan dakwah menjadi panggung ego.
Dalam tasawuf, niat adalah poros kehidupan. Amal sebesar apa pun akan kehilangan cahaya jika diniatkan untuk selain Allah.
> “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan amal kalian, tetapi melihat hati dan niat kalian.” (HR. Muslim)
Ikhlas adalah pintu cahaya. Ketika pintu itu tertutup, nur tidak akan masuk.
Ilmu sebagai Lentera, Bukan Tujuan
Ilmu adalah jalan, bukan tujuan akhir. Ia lentera yang menuntun, bukan cahaya itu sendiri. Banyak orang berilmu tetapi tersesat, karena ilmunya tidak menundukkan hati kepada Allah.
Ibnu Athaillah berkata:
> “Ilmu yang tidak membawamu semakin dekat kepada Allah, maka ia adalah hujjah atasmu, bukan penolongmu.”
Ilmu yang benar melahirkan:
Kerendahan hati, bukan keangkuhan
Ketakwaan, bukan perdebatan kosong
Ketaatan, bukan pembenaran hawa nafsu
Ketika ilmu bersatu dengan adab dan amal, maka ia menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup.
Penyucian Hati: Jalan yang Tak Bisa Ditinggalkan
Tidak ada jalan menuju cahaya tanpa tazkiyatun nafs. Inilah inti dakwah sufistik: membersihkan hati dari segala penghalang cahaya—riak, hasad, cinta dunia, dan ketergantungan kepada makhluk.
Hati adalah singgasana cahaya. Namun singgasana itu tidak bisa ditempati dua cinta sekaligus. Jika cinta dunia menguasai hati, maka cahaya kebenaran akan tersingkir.
Ibnu Athaillah berkata dengan tajam:
> “Bagaimana mungkin hati akan bersinar, sementara gambaran dunia masih terlukis di dalamnya?”
Taubat yang jujur, dzikir yang istiqamah, dan muhasabah yang mendalam adalah jalan pembersihan itu.
Ujian di Jalan Cahaya
Jalan menuju kebenaran bukan jalan yang ramai. Ia sepi, sunyi, dan sering membuat lelah. Banyak yang mundur bukan karena tidak tahu kebenaran, tetapi karena tak sanggup membayar harga istiqamah.
Cahaya kebenaran sering diuji dengan:
Kesendirian
Fitnah dan penolakan
Kehilangan kenyamanan dunia
Namun justru di situlah kualitas iman diuji. Kesabaran adalah bukti bahwa seseorang mencintai kebenaran lebih dari dirinya sendiri.
Menghidupkan Cahaya dalam Amal dan Akhlak
Cahaya sejati akan tampak dalam akhlak. Kebenaran yang tidak melahirkan keadilan, kejujuran, kasih sayang, dan keberanian membela yang haq adalah cahaya palsu.
Rasulullah ﷺ tidak hanya membawa kebenaran melalui wahyu, tetapi menjelmakannya dalam kehidupan nyata. Beliau adalah Al-Qur’an yang berjalan.
Cahaya dakwah hari ini bukan terletak pada kerasnya suara, tetapi pada:
Keteladanan
Kejujuran
Konsistensi antara kata dan perbuatan
Tawakal: Menyerahkan Hasil kepada Allah
Puncak perjalanan menuju cahaya adalah tawakal. Setelah ikhtiar, mujahadah, dan kesungguhan, seorang hamba menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah.
Hidayah bukan milik kita. Tugas kita hanyalah berjalan, mengetuk, dan bersabar di depan pintu-Nya.
> “Bukan tugasmu memastikan sampai, tetapi tugasmu berjalan dengan benar.”
Penutup: Cahaya yang Menyelamatkan
Jalan menuju cahaya kebenaran adalah jalan yang memanusiakan manusia. Ia membebaskan jiwa dari perbudakan dunia, menenangkan hati dari kegelisahan zaman, dan mengantarkan manusia kembali kepada fitrahnya.
Di saat dunia semakin bising, jadilah pencari cahaya.
Di saat kebenaran diperdagangkan, jadilah penjaganya.
Dan di saat banyak hati gelap, jadilah lentera—meski kecil, tetapi setia menyala.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diberi cahaya, berjalan dalam kebenaran, dan wafat dalam husnul khatimah.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
( Penulis Buku, Akademisi , Konsultan Pendidikan dan SDM )
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
Filsafat Pendidikan Islam Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas: Membangun Kembali Peradaban yang Hi...
No comments yet.