Ustadzfaqih • Des 03 2025 • 35 Dilihat

Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba
Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari
Dalam perjalanan menuju Allah, manusia tidak selalu tegak lurus berjalan di atas garis lurus ketaatan. Ada masa ia kuat, ada masa ia lemah. Ada saat ia merasa dekat dengan Allah, dan ada waktu ia merasa jauh, asing bahkan dari dirinya sendiri.
Maka datanglah kalimat hikmah dari Ibnu ‘Athaillah—sebuah cahaya bagi hati yang tersesat dan sebuah peringatan bagi hati yang terlena:
“Tidaklah mengkhawatirkan jika engkau tersesat di jalan, tetapi yang dikhawatirkan hanyalah ketika hawa nafsu mengalahkanmu.”
Hikmah ini sederhana, namun dalam. Lembut, namun menusuk. Ia bukan sekadar kalimat, tetapi sebuah peta perjalanan ruhani.
Banyak orang hancur bukan karena dosa, tetapi karena putus asa setelah dosa.
Padahal Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Wahai hamba-Ku yang melampaui batas atas dirinya, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Kesalahan dalam perjalanan menuju Allah adalah bagian dari proses pendewasaan iman. Ia adalah:
Selama engkau masih meneteskan air mata, masih merasa bersalah, masih ingin kembali — maka jalan belum tertutup.
Yang mengkhawatirkan bukan jatuhnya seseorang.
Yang mengkhawatirkan adalah ketika ia menikmati jatuhnya.
Karena dosa tidak berbahaya ketika masih terasa pahit — tetapi sangat berbahaya ketika mulai terasa manis.
Ibnul Qayyim berkata:
“Tidak ada dosa yang lebih berat daripada dosa yang tidak lagi dianggap dosa.”
Ketika hawa nafsu menguasai hati:
Pada titik ini, bukan amal yang hilang—namun rasa malu kepada Allah yang padam.
Dan ketika hati sudah tidak malu lagi, maka ia telah mati sebelum badan dikuburkan.
Banyak orang memusuhi setan, tetapi lupa bahwa musuh paling besar tinggal di dalam diri.
Ali bin Abi Thalib berkata:
“Aku heran kepada orang yang mampu memerangi musuhnya, tetapi tidak mampu memerangi hawa nafsunya.”
Setan menggoda, dunia menghias, tetapi yang memilih adalah nafsu.
Di sinilah jihad terbesar dilakukan:
bukan melawan orang lain, tetapi melawan diri sendiri.
Dalam perjalanan hidup ini, manusia sering tersesat bukan karena ia tidak mengenal jalan, tetapi karena ia melupakan tujuan.
Jika tujuan hidup adalah Allah:
Namun jika tujuan hidup adalah hawa nafsu:
Allah tidak meminta kita menjadi sempurna.
Allah hanya meminta:
ketulusan dalam mencari-Nya,
dan kesungguhan dalam meninggalkan apa yang menjauhkan dari-Nya.
Selama hati masih merasa:
maka itu tanda Allah belum mencabutmu dari perhatian-Nya.
Orang yang benar-benar celaka adalah yang:
Semoga Allah melindungi kita dari keadaan seperti itu.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ نُفُوسَنَا مَلِكَةً عَلَيْنَا،
وَلَا تَجْعَلْ أَهْوَاءَنَا قَائِدَةً لِحَيَاتِنَا،
وَأَعِنَّا عَلَىٰ جِهَادِهَا، وَقَهْرِهَا، وَتَسْخِيرِهَا لِطَاعَتِكَ.
وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا زَلُّوا تَابُوا، وَإِذَا بَعُدُوا رَجَعُوا، وَإِذَا ضَعِفُوا اسْتَعَانُوا بِكَ.
Aamiin, ya Rabbal ‘alamin.
Penutup
Hikmah Ibnu Athaillah ini mengajarkan bahwa:
selama ia tidak menyerahkan hatinya kepada hawa nafsu.
Karena yang tersesat masih mungkin kembali — tetapi yang diperbudak hawa nafsu tidak lagi ingin kembali.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang terus berjalan, walaupun lambat…
karena yang penting kita bergerak menuju-Nya, bukan menjauh dari-Nya.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
Filsafat Pendidikan Islam Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas: Membangun Kembali Peradaban yang Hi...
No comments yet.