Ustadzfaqih • Nov 30 2025 • 58 Dilihat

Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit
Di setiap hati manusia ada satu ruang kecil yang penuh harapan — ruang yang berisi keinginan untuk menjadi lebih baik, lebih bernilai, lebih bermanfaat, dan lebih bermartabat.
Itulah fitrah kemenangan.
Namun, banyak manusia mengira kemenangan itu hanya tentang prestasi, posisi, jabatan, kekayaan, atau popularitas. Padahal, dalam pandangan Islam, kemenangan memiliki makna yang jauh lebih tinggi dan luas daripada sekadar apa yang terlihat.
Juara menurut manusia adalah siapa yang terlihat sukses.
Juara menurut Allah adalah siapa yang berhasil menyempurnakan dirinya.
Sebelum seseorang mengalahkan musuh, tantangan, atau sistem — ia harus menaklukkan dirinya sendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda setelah Perang Badar:
“Kita pulang dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar.”
Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang lebih besar, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Jihad melawan hawa nafsu.”
Hari ini banyak orang memenangkan lomba, kompetisi, bisnis, jabatan — tapi kalah dari:
Maka langkah pertama menjadi sang juara adalah menundukkan diri sebelum menundukkan dunia.
Orang biasa hidup dengan rutinitas.
Juara hidup dengan misi.
Allah tidak menciptakan manusia tanpa tujuan. Allah berfirman:
“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ibadah bukan hanya shalat dan puasa — tetapi menjalani kehidupan dengan tujuan: membawa manfaat, kebaikan, serta nilai langit di bumi.
Juara sejati bangun setiap pagi dengan kalimat:
“Hari ini saya harus lebih baik daripada kemarin.”
Banyak orang hanya disiplin ketika diawasi.
Padahal kualitas tertinggi seorang juara adalah istiqamah — komitmen diam-diam yang hanya Allah yang tahu.
Imam Nawawi belajar setiap hari selama 20 tahun tanpa satu hari pun absen.
Imam Al-Bukhari menghafal ribuan hadis melalui perjalanan panjang penuh sabar.
Sahabat Abu Bakar menjadi yang terbaik bukan karena retorika — tetapi karena konsisten dalam amal.
Juara bukan karena melakukan hal besar sesekali — tetapi karena melakukan hal kecil tanpa berhenti.
Pepatah Arab berkata:
“Barang siapa terbiasa jatuh, dialah yang paling kuat berjalan.”
Hidup tidak pernah memberikan jalan mulus bagi pemenang. Justru jalan para juara penuh luka, air mata, penolakan, dan kegagalan.
Namun perbedaan besar antara orang biasa dan juara adalah:
Allah mengajarkan dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَهِنُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ
“Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, kamu pasti lebih unggul jika kamu beriman.”
(QS. Al-Imran: 139)
Kemenangan bukan milik orang yang tidak pernah gagal — melainkan milik orang yang tidak pernah menyerah.
Tidak ada kemenangan tanpa akhlak.
Betapa banyak orang yang menang di dunia — namun kalah di hadapan Allah karena kesombongan.
Nabi ﷺ adalah manusia paling sukses dalam sejarah, tetapi beliau berkata:
“Aku hanyalah hamba Allah.”
Beliau makan bersama orang miskin, membantu pekerjaan rumah, memperbaiki sandal sendiri, bahkan menundukkan kepala ketika lewat di depan anak kecil.
Juara sejati tidak membutuhkan pengakuan — karena ia tahu bahwa nilai dirinya bukan ditentukan manusia, tetapi ditentukan Allah.
Semua usaha akan berlaku, semua perjuangan akan bermakna — ketika disempurnakan dengan doa dan diserahkan kepada takdir Allah.
Karena kemenangan bukan hanya hasil dari kerja keras, tetapi juga karunia Allah.
“Jika Allah menolongmu, tidak ada yang dapat mengalahkanmu.”
(QS. Ali Imran: 160)
Di saat manusia telah berusaha maksimal — disitulah Allah menurunkan hal yang tidak bisa dicapai dengan logika: pertolongan-Nya.
Penutup: Jalan Hidup Para Pemenang
Menjadi sang juara bukan sebuah moment—tetapi sebuah perjalanan panjang.
Dan perjalanan ini hanya dimenangkan oleh mereka yang:
Karena kemenangan tertinggi bukan saat manusia berkata: “Engkau hebat.”
Tetapi ketika Allah mengatakan:
“Inilah hamba-Ku yang beriman, sabar, dan tetap dalam kebaikan.”
Maka mulai hari ini katakan dalam hatimu:
“Saya bukan hanya ingin menang.
Saya diciptakan untuk menjadi pemenang.
Dan dengan izin Allah — saya akan sampai.”
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Filsafat Pendidikan Islam Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas: Membangun Kembali Peradaban yang Hi...
No comments yet.