Ustadzfaqih • Nov 20 2025 • 65 Dilihat

Menjadi Pembelajar Seumur Hidup
Meniti Jalan Ilmu, Menyuburkan Jiwa, dan Mengokohkan Martabat Kehidupan
Dalam perjalanan hidup yang singkat ini, manusia sering terjebak dalam rutinitas yang menguras perhatian: pekerjaan yang tak ada habisnya, tuntutan keluarga, ujian kehidupan, serta perubahan zaman yang datang tanpa permisi. Di tengah arus deras itu, ada satu kompas abadi yang mampu menuntun manusia menuju kebaikan dan kemuliaan: menjadi pembelajar seumur hidup.
Belajar bukan sekadar aktivitas akademik atau proses memperoleh gelar. Ia adalah sikap batin, kesadaran spiritual, dan jalan menuju kematangan diri. Dalam Islam, belajar adalah ibadah; menuntut ilmu adalah cahaya; dan menjadi pembelajar adalah jalan yang tidak pernah berakhir hingga malaikat maut menjemput.
Ayat pertama yang turun dalam Al-Qur’an bukan tentang shalat, zakat, atau jihad; tetapi tentang membaca:
“Iqra’ bismi rabbik…” – Bacalah dengan nama Tuhanmu.
Ini menunjukkan bahwa fondasi perubahan manusia dimulai dari pengetahuan. Allah memuliakan orang berilmu dan mengangkat derajat mereka beberapa tingkat.
Ketika seseorang berkomitmen menjadi pembelajar sepanjang hayat, ia sedang menjalankan salah satu sunnatullah terbesar dalam kehidupan: menyempurnakan akal, memperluas wawasan, dan memperhalus adab.
Zaman berubah. Teknologi berkembang cepat. Ide baru muncul setiap hari. Yang mampu bertahan bukanlah yang paling kuat, melainkan yang paling adaptif.
Menjadi pembelajar seumur hidup berarti:
Orang yang berhenti belajar sesungguhnya telah berhenti tumbuh. Ia hidup, tetapi tidak bertumbuh; bergerak, tetapi tidak maju.
Ulama mengatakan:
“Ilmu itu kehidupan hati.”
Membaca bukan sekadar mengumpulkan informasi, tetapi menyuburkan jiwa. Membaca:
Buku adalah teman terbaik: tidak berkhianat, tidak menuntut, tetapi selalu memberi.
Ilmu tidak hanya datang dari buku, guru, atau kelas. Kadang ilmu terbesar justru lahir dari:
Seorang pembelajar seumur hidup tidak menghabiskan tenaganya untuk menyesali masa lalu. Ia bertanya:
“Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui peristiwa ini?”
Setiap kejadian adalah sekolah. Setiap masalah adalah kurikulum. Setiap takdir adalah guru.
Para salafush shalih mengajarkan bahwa adab lebih utama daripada ilmu. Sebab ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan, sementara adab tanpa ilmu akan rapuh.
Pembelajar sejati:
Adab menjadikan ilmu itu berkah, masuk ke hati, dan membentuk kepribadian.
Bukan banyaknya informasi yang membuat seseorang hebat, tetapi konsistensi.
Allah mencintai amal yang sedikit tetapi istiqamah. Begitu pula dengan belajar: sedikit demi sedikit, tetapi terus berlanjut.
Pembelajar seumur hidup memahami bahwa setiap langkah kecil berarti.
Ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon tanpa buah. Indah, tetapi tak memberi manfaat.
Tujuan belajar adalah:
Sejatinya, keberkahan ilmu terlihat dari dampak yang ia lahirkan, bukan dari banyaknya pengetahuan yang kita hafal.
Ketika belajar diniatkan untuk mencari ridha Allah, maka:
Belajar adalah bagian dari perjalanan menuju Allah. Ia membersihkan hati, menguatkan akal, dan menuntun langkah.
Setiap hari adalah halaman baru untuk dibaca. Setiap tahun adalah bab baru untuk ditulis. Dan hidup secara keseluruhan adalah kitab besar yang akan kita bawa pulang menghadap Allah.
Menjadi pembelajar seumur hidup bukan pilihan, tetapi kebutuhan. Karena dengan belajar, kita:
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang terus belajar, memperbaiki diri, dan menebarkan cahaya ilmu hingga akhir hayat.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
Artikel dengan judul MENJADI PEMBELAJARAN SEUMUR HIDUP ini benar-benar menginspirasi. Penulis mampu menyampaikan gagasan besar tentang pentingnya belajar sepanjang hayat dengan bahasa yang begitu sederhana namun kuat.
Saya sangat mengagumi bagaimana artikel ini tidak hanya memotivasi, tetapi juga menyentuh sisi spiritual dan kemanusiaan, sehingga pembaca merasa bahwa proses belajar bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga perjalanan jiwa.
Kesimpulan bahwa hidup adalah madrasah dan setiap manusia adalah muridnya merupakan gagasan yang sangat puitis sekaligus filosofis menurut saya. Ia menegaskan bahwa belajar bukan kewajiban akademik, tetapi kebutuhan hidup yang memuliakan manusia.
Secara keseluruhan, tulisan ini tidak hanya memberi nasihat, tetapi juga menanamkan cara pandang—bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan cahaya yang membimbing perjalanan menuju Allah.
Artikel ini menunjukkan kedalaman pemikiran dan kepekaan penulis terhadap dinamika kehidupan manusia di era yang serba digital. Sebuah tulisan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mencerdaskan dan menguatkan. Sangat layak diapresiasi. Good Job bapak Dosenku
Jos jis bapak