Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Menjadi Pembelajar Seumur Hidup

    Nov 20 202565 Dilihat

    Menjadi Pembelajar Seumur Hidup

    Meniti Jalan Ilmu, Menyuburkan Jiwa, dan Mengokohkan Martabat Kehidupan

     

    Dalam perjalanan hidup yang singkat ini, manusia sering terjebak dalam rutinitas yang menguras perhatian: pekerjaan yang tak ada habisnya, tuntutan keluarga, ujian kehidupan, serta perubahan zaman yang datang tanpa permisi. Di tengah arus deras itu, ada satu kompas abadi yang mampu menuntun manusia menuju kebaikan dan kemuliaan: menjadi pembelajar seumur hidup.

    Belajar bukan sekadar aktivitas akademik atau proses memperoleh gelar. Ia adalah sikap batin, kesadaran spiritual, dan jalan menuju kematangan diri. Dalam Islam, belajar adalah ibadah; menuntut ilmu adalah cahaya; dan menjadi pembelajar adalah jalan yang tidak pernah berakhir hingga malaikat maut menjemput.

     

    1. Belajar adalah Perintah Ilahi

    Ayat pertama yang turun dalam Al-Qur’an bukan tentang shalat, zakat, atau jihad; tetapi tentang membaca:

    “Iqra’ bismi rabbik…”Bacalah dengan nama Tuhanmu.

    Ini menunjukkan bahwa fondasi perubahan manusia dimulai dari pengetahuan. Allah memuliakan orang berilmu dan mengangkat derajat mereka beberapa tingkat.

    Ketika seseorang berkomitmen menjadi pembelajar sepanjang hayat, ia sedang menjalankan salah satu sunnatullah terbesar dalam kehidupan: menyempurnakan akal, memperluas wawasan, dan memperhalus adab.

     

    1. Pembelajar Seumur Hidup: Bukan Hanya Cerdas, tetapi Luwes

    Zaman berubah. Teknologi berkembang cepat. Ide baru muncul setiap hari. Yang mampu bertahan bukanlah yang paling kuat, melainkan yang paling adaptif.

    Menjadi pembelajar seumur hidup berarti:

    • Siap menerima ilmu baru, meski harus mengubah pola lama.
    • Mau mengakui bahwa diri ini belum tahu banyak.
    • Tidak malu belajar dari siapa pun—anak kecil, orang biasa, bahkan lawan sekalipun.
    • Memandang kritikan sebagai jalan perbaikan, bukan penghinaan.

    Orang yang berhenti belajar sesungguhnya telah berhenti tumbuh. Ia hidup, tetapi tidak bertumbuh; bergerak, tetapi tidak maju.

     

    1. Membaca: Jendela yang Tak Pernah Tertutup

    Ulama mengatakan:

    “Ilmu itu kehidupan hati.”

    Membaca bukan sekadar mengumpulkan informasi, tetapi menyuburkan jiwa. Membaca:

    • Membuka wawasan yang sebelumnya tertutup.
    • Menghancurkan tembok ketidaktahuan.
    • Membentuk pandangan hidup yang matang.
    • Menjadikan kita manusia yang lembut dan bijaksana.

    Buku adalah teman terbaik: tidak berkhianat, tidak menuntut, tetapi selalu memberi.

     

    1. Belajar dari Ujian dan Pengalaman

    Ilmu tidak hanya datang dari buku, guru, atau kelas. Kadang ilmu terbesar justru lahir dari:

    • Cobaan hidup,
    • Kegagalan yang memukul,
    • Kesalahan yang memalukan,
    • Kecewaan yang meninggalkan luka.

    Seorang pembelajar seumur hidup tidak menghabiskan tenaganya untuk menyesali masa lalu. Ia bertanya:

    “Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui peristiwa ini?”

    Setiap kejadian adalah sekolah. Setiap masalah adalah kurikulum. Setiap takdir adalah guru.

     

    1. Adab Sebelum Ilmu

    Para salafush shalih mengajarkan bahwa adab lebih utama daripada ilmu. Sebab ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan, sementara adab tanpa ilmu akan rapuh.

    Pembelajar sejati:

    • Rendah hati.
    • Tidak mudah merasa paling benar.
    • Tidak sombong ketika mengetahui sesuatu yang orang lain belum tahu.
    • Menghargai guru dan sesama penuntut ilmu.

    Adab menjadikan ilmu itu berkah, masuk ke hati, dan membentuk kepribadian.

     

    1. Konsistensi: Kunci Kejayaan Ilmu

    Bukan banyaknya informasi yang membuat seseorang hebat, tetapi konsistensi.

    Allah mencintai amal yang sedikit tetapi istiqamah. Begitu pula dengan belajar: sedikit demi sedikit, tetapi terus berlanjut.

    • 10 halaman per hari akan menjadi 300 halaman sebulan.
    • 30 menit belajar sehari akan menjadi 180 jam setahun.
    • Satu perbaikan diri setiap pekan akan menjadi 52 perubahan besar setiap tahun.

    Pembelajar seumur hidup memahami bahwa setiap langkah kecil berarti.

     

    1. Belajar untuk Menghidupkan, Bukan Menumpuk

    Ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon tanpa buah. Indah, tetapi tak memberi manfaat.

    Tujuan belajar adalah:

    • Meningkatkan kualitas ibadah,
    • Memperbaiki akhlak,
    • Menguatkan jiwa dalam menghadapi keadaan,
    • Menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

    Sejatinya, keberkahan ilmu terlihat dari dampak yang ia lahirkan, bukan dari banyaknya pengetahuan yang kita hafal.

     

    1. Menjadikan Belajar sebagai Ibadah

    Ketika belajar diniatkan untuk mencari ridha Allah, maka:

    • Menjadi ringan ketika menghadapi kesulitan.
    • Menjadi ikhlas ketika ilmu belum dihargai orang.
    • Menjadi sabar ketika hasil tidak langsung terlihat.
    • Menjadi tenang karena setiap langkah menjadi pahala.

    Belajar adalah bagian dari perjalanan menuju Allah. Ia membersihkan hati, menguatkan akal, dan menuntun langkah.

     

    1. Kesimpulan: Hidup Adalah Madrasah, Kita Adalah Muridnya

    Setiap hari adalah halaman baru untuk dibaca. Setiap tahun adalah bab baru untuk ditulis. Dan hidup secara keseluruhan adalah kitab besar yang akan kita bawa pulang menghadap Allah.

    Menjadi pembelajar seumur hidup bukan pilihan, tetapi kebutuhan. Karena dengan belajar, kita:

    • Menjadi lebih bijaksana.
    • Lebih kuat menghadapi ujian.
    • Lebih bermanfaat bagi umat.
    • Lebih dekat kepada Allah.

    Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang terus belajar, memperbaiki diri, dan menebarkan cahaya ilmu hingga akhir hayat.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    • Fuad Hasim berkata:

      Artikel dengan judul MENJADI PEMBELAJARAN SEUMUR HIDUP ini benar-benar menginspirasi. Penulis mampu menyampaikan gagasan besar tentang pentingnya belajar sepanjang hayat dengan bahasa yang begitu sederhana namun kuat.
      Saya sangat mengagumi bagaimana artikel ini tidak hanya memotivasi, tetapi juga menyentuh sisi spiritual dan kemanusiaan, sehingga pembaca merasa bahwa proses belajar bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga perjalanan jiwa.
      Kesimpulan bahwa hidup adalah madrasah dan setiap manusia adalah muridnya merupakan gagasan yang sangat puitis sekaligus filosofis menurut saya. Ia menegaskan bahwa belajar bukan kewajiban akademik, tetapi kebutuhan hidup yang memuliakan manusia.

      Secara keseluruhan, tulisan ini tidak hanya memberi nasihat, tetapi juga menanamkan cara pandang—bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan cahaya yang membimbing perjalanan menuju Allah.

      Artikel ini menunjukkan kedalaman pemikiran dan kepekaan penulis terhadap dinamika kehidupan manusia di era yang serba digital. Sebuah tulisan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mencerdaskan dan menguatkan. Sangat layak diapresiasi. Good Job bapak Dosenku

    • Markuwat berkata:

      Jos jis bapak

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top