Ustadzfaqih • Agu 18 2025 • 114 Dilihat

Tradisi Pesantren dan Budaya Islam di Nusantara
Pendahuluan
Pesantren merupakan salah satu pilar peradaban Islam di Nusantara. Sejak abad ke-14 hingga kini, pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter, penyebaran dakwah, sekaligus penggerak kebudayaan Islam yang membumi. Tradisi pesantren menghadirkan wajah Islam yang ramah, penuh kebijaksanaan, serta mampu berbaur dengan budaya lokal tanpa kehilangan ruh syariat.
Dalam Al-Qur’an, Allah ﷻ berfirman:
فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
(QS. At-Taubah: 122)
Ayat ini menjadi dasar pentingnya lembaga seperti pesantren: melahirkan generasi yang mendalami ilmu agama untuk kemudian menyebarkannya ke masyarakat.
Pesantren: Warisan Ulama Nusantara
Sejarah mencatat, para Walisongo adalah pionir penyebaran Islam yang mengakar dalam budaya lokal. Mereka mengajarkan Islam dengan pendekatan budaya: wayang, gamelan, suluk, dan tembang Jawa, tanpa merusak adat, melainkan memperbaikinya sesuai syariat.
Pesantren tidak sekadar tempat belajar kitab kuning, melainkan juga kawah candradimuka pembentukan akhlak, kesederhanaan, kemandirian, serta kebersamaan.
Tradisi Pesantren: Harmoni Ilmu, Amal, dan Akhlak
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.”
(HR. Muslim)
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Pesantren dan Budaya Islam di Nusantara
Tradisi pesantren telah menyatu dengan budaya lokal Nusantara. Misalnya, wayang dijadikan media dakwah Sunan Kalijaga, suluk-suluk Jawa berisi pesan tauhid, dan tembang menjadi sarana pendidikan akhlak. Pesantren melahirkan wajah Islam Nusantara yang damai, tidak kaku, tapi tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Inilah yang membuat Islam bisa diterima luas di Nusantara: ia hadir sebagai agama rahmat, bukan ancaman. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah sebagai rahmat.”
(HR. Ahmad)
Refleksi: Pesantren di Era Modern
Di tengah arus globalisasi, pesantren menghadapi tantangan besar: digitalisasi, modernisasi pendidikan, dan penetrasi budaya asing. Namun, pesantren tetap relevan jika mampu menjaga ruh tradisinya: ilmu, amal, dan akhlak.
Pesantren harus tetap menjadi pusat peradaban Islam, tempat lahirnya ulama, cendekiawan, sekaligus tokoh bangsa yang berakhlak mulia. Dengan demikian, pesantren menjadi benteng moral yang menjaga budaya Nusantara agar tidak tercerabut dari akar Islam.
Penutup
Tradisi pesantren adalah salah satu rahmat Allah untuk Nusantara. Ia menyatukan ilmu, amal, dan budaya, melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan mencintai tanah air.
Mari kita renungkan sabda Rasulullah ﷺ:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)
Semoga pesantren tetap menjadi cahaya yang menerangi negeri, menyebarkan ilmu dan akhlak, serta menjaga budaya Islam di Nusantara dengan penuh hikmah.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.