Ustadzfaqih • Agu 17 2025 • 84 Dilihat

Siapa Hamba Allah yang Paling Dicintai Allah?
Kebahagiaan terbesar seorang mukmin bukanlah harta, jabatan, atau kedudukan di mata manusia, melainkan menjadi hamba yang dicintai oleh Allah SWT. Sebab, jika Allah mencintai seorang hamba, maka seluruh kebaikan dunia dan akhirat akan menyertainya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka penduduk langit pun mencintainya, lalu diletakkanlah penerimaan baginya di bumi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan berulang kali bahwa orang bertakwa adalah yang paling dicintai-Nya.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.”
(QS. At-Taubah: 4, 7)
Takwa adalah kunci semua kebaikan: menjaga diri dari maksiat, melaksanakan perintah Allah, dan hidup dengan hati yang takut kepada-Nya.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”
(QS. Al-Baqarah: 195, QS. Al-Maidah: 13)
Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika tidak mampu, yakinlah bahwa Allah selalu melihat kita. Ihsan juga berarti memperlakukan orang lain dengan sebaik mungkin, meskipun mereka berbuat buruk kepada kita.
Allah sangat mencintai orang yang tidak putus asa dari rahmat-Nya.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Hamba yang dicintai Allah bukanlah yang tidak pernah berdosa, melainkan yang segera bertaubat setiap kali tergelincir.
Ketergantungan kepada Allah adalah tanda cinta seorang hamba, dan Allah pun mencintai hamba yang tawakal.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
(QS. Ali Imran: 159)
Mereka menyerahkan hasil usahanya kepada Allah setelah berusaha maksimal, dengan hati yang yakin pada takdir-Nya.
Keadilan adalah nilai agung dalam Islam.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”
(QS. Al-Mumtahanah: 8, QS. Al-Maidah: 42)
Adil dalam keluarga, dalam kepemimpinan, dalam ucapan, bahkan dalam menilai musuh sekalipun.
Kesabaran adalah jalan menuju cinta Allah.
“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
(QS. Ali Imran: 146)
Sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar menghadapi ujian hidup.
Allah menyebutkan dengan jelas:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang kokoh.”
(QS. Ash-Shaff: 4)
Perjuangan di jalan Allah bukan hanya fisik, tetapi juga dakwah, ilmu, amal, dan pengorbanan demi meninggikan kalimat Allah.
Selain spiritual, Allah juga mencintai hamba yang menjaga kebersihan lahiriah.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang mensucikan diri.”
(QS. At-Taubah: 108)
Islam adalah agama fitrah: suci dalam hati, ibadah, dan penampilan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang Muslim, atau engkau hilangkan satu kesusahannya, atau engkau lunasi hutangnya, atau engkau hilangkan rasa laparnya.”
(HR. Thabrani, hasan)
Mereka yang peduli pada sesama, ringan tangan, dan memberi tanpa pamrih termasuk hamba Allah yang paling dicintai.
Penutup: Cinta Allah, Puncak Segala Nikmat
Dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, jelaslah bahwa hamba yang paling dicintai Allah adalah:
Cinta Allah adalah puncak segala kenikmatan. Jika Allah mencintai kita, maka dunia dan akhirat akan berpihak. Jika Allah membenci, maka sebesar apapun pencapaian dunia akan menjadi sia-sia.
Maka mari kita berdoa:
“Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai. Anugerahkan kepada kami akhlak yang mulia, hati yang bersih, kesabaran, keikhlasan, serta keberanian untuk berjuang di jalan-Mu. Jangan biarkan hati kami berpaling dari cinta-Mu.”
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.