Ustadzfaqih • Agu 08 2025 • 96 Dilihat

Tanda-tanda Orang yang Berada di Jalan yang Benar dan Diridhai Allah SWT
Pendahuluan
Setiap manusia menginginkan hidup yang tenang, hati yang damai, dan akhir yang bahagia. Namun, tidak semua orang mengetahui arah jalan yang benar dan bagaimana menjaga diri agar tetap di dalamnya. Allah SWT telah membimbing kita melalui wahyu dan teladan para Nabi, menunjukkan bahwa keselamatan dunia dan akhirat hanya akan diraih oleh mereka yang menapaki ash-shirath al-mustaqim — jalan yang lurus.
Allah berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Pertanyaannya: bagaimana kita tahu bahwa kita berada di jalan itu? Berikut tanda-tanda yang Allah dan Rasul-Nya tunjukkan.
Tanda pertama dan paling utama adalah kemurnian tauhid — mengesakan Allah dalam ibadah, cinta, harapan, dan rasa takut.
Dalil:
قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا
“Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Orang yang berada di jalan yang benar menjaga shalat lima waktu tepat waktu, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berusaha memperbanyak ibadah sunnah. Konsistensi ini adalah tanda kedekatan dengan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits Qudsi:
“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya…”
(HR. Bukhari)
Jalan yang benar melahirkan budi pekerti yang luhur: jujur, sabar, rendah hati, santun, dan dermawan. Ia menahan diri dari ghibah, iri hati, sombong, dan marah yang berlebihan.
Dalil:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Tanda lain adalah hati yang terbuka terhadap nasihat dan kebenaran, meskipun datang dari orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya. Ia tidak keras kepala atau membela kesalahan diri.
Dalil:
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar dan kami taat’.”
(QS. An-Nur: 51)
Orang yang berada di jalan yang benar bukan hanya taat secara pribadi, tetapi juga peduli terhadap orang lain: membantu yang lemah, menolong yang kesusahan, dan mendoakan kebaikan bagi sesama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jalan yang benar tidak selalu mudah; penuh ujian, godaan, dan rintangan. Tanda seorang mukmin sejati adalah kesabarannya dalam menghadapi cobaan, serta keyakinannya bahwa pertolongan Allah pasti datang.
Dalil:
“Dan bersabarlah; sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Hud: 115)
Tidak ada manusia yang bebas dari dosa. Namun, orang yang diridhai Allah selalu segera kembali dan memperbaiki kesalahannya. Taubatnya bukan sekadar lisan, tapi disertai perubahan perilaku.
Dalil:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Waktu adalah modal hidup. Orang yang berada di jalan yang benar tidak menyia-nyiakannya untuk perkara yang sia-sia. Ia memanfaatkan waktunya untuk ilmu, amal, keluarga, dan ibadah.
Dalil:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
(QS. Al-‘Asr: 1-3)
Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan. Orang yang diridhai Allah belajar agama dari sumber yang benar, mengamalkannya, dan menyebarkannya. Ia tidak mau beramal tanpa ilmu atau ikut-ikutan buta.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah pahamkan dia dalam agama.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tanda terakhir: hati yang selalu hidup dengan dzikir. Tidak ada hari tanpa mengingat Allah, baik di waktu lapang maupun sempit. Dzikir menjaga hati tetap jernih, kuat, dan terarah.
Dalil:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Langkah Menjaga Diri agar Tetap di Jalan yang Benar
Penutup
Berada di jalan yang benar adalah nikmat terbesar yang hanya diberikan kepada hamba yang Allah kehendaki. Tanda-tanda yang telah disebutkan bukan sekadar daftar untuk dihafal, melainkan cermin untuk mengoreksi diri. Jika kita mendapati tanda-tanda itu mulai tumbuh dalam diri, syukurilah dan mintalah kepada Allah agar tetap istiqamah. Jika belum, jangan putus asa; pintu hidayah selalu terbuka selama nyawa belum sampai di kerongkongan.
Allah berfirman:
وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ زَادَهُمۡ هُدٗى وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.”
(QS. Muhammad: 17)
Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk orang yang selalu berada di jalan yang benar dan diridhai-Nya hingga akhir hayat. Aamiin.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.