Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Membersihkan Hati yang Berkarat: Jalan Menuju Cahaya Ilahi.

    Jul 03 202597 Dilihat

    Membersihkan Hati yang Berkarat: Jalan Menuju Cahaya Ilahi

    Oleh: Dr.Nasrul Syarif M.Si

    “Sesungguhnya hati ini benar-benar dapat berkarat, dan sesungguhnya penjernihnya adalah membaca Al-Qur’an, mengingat mati, dan menghadiri majelis-majelis dzikir.”
    (HR. Al-Baihaqi)

     

    Pendahuluan: Sebuah Pertanyaan Untuk Jiwa

    Mengapa kadang kita merasa kosong dalam ibadah? Mengapa doa terasa hambar, dan dzikir tak menggetarkan dada? Mengapa meskipun tubuh sujud, hati tetap terikat pada dunia?
    Mungkin, tanpa kita sadari, hati kita sedang berkarat.

    Seperti besi yang terpapar angin dan air, lama-lama menjadi kusam dan rapuh, demikian pula hati manusia. Ia bisa menjadi keras, kering, dan gelap—jika tidak dibersihkan dan dipoles dengan cahaya Ilahi.

     

    1. Hati: Inti Kehidupan Ruhani

    Dalam Islam, hati bukan sekadar organ biologis, tapi pusat ruhani, sumber kebenaran, tempat makrifat, tempat turun rahmat dan hidayah Allah. Rasulullah SAW bersabda:

    “Ketahuilah! Sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah, ia adalah hati.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hati adalah penentu keselamatan dunia dan akhirat. Namun, sebagaimana tubuh bisa sakit, hati juga bisa sakit, bahkan mati. Penyebabnya bukan bakteri atau virus, melainkan dosa, kelalaian, cinta dunia, dan jauh dari dzikrullah.

     

    1. Tanda-Tanda Hati yang Berkarat

    Apa yang dimaksud “berkarat” dalam hadits tersebut? Dalam bahasa ruhani, karat hati muncul ketika:

    • Lalai dari Allah, jarang mengingat-Nya.
    • Tidak tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an.
    • Menunda-nunda taubat dan merasa aman dari siksa Allah.
    • Tidak merasa sedih saat melakukan dosa.
    • Beribadah hanya sebagai rutinitas tanpa ruh.
    • Lebih mencintai dunia daripada akhirat.

    Karat hati menutup cahaya hidayah. Ia membuat seseorang tuli terhadap nasihat, bisu dalam dzikir, dan buta terhadap hakikat kehidupan.

     

    1. Tiga Penjernih Hati Menurut Rasulullah SAW
    2. Membaca dan Merenungi Al-Qur’an

    Al-Qur’an adalah kalam Allah yang suci, penawar bagi hati yang sakit.
    Bukan hanya dibaca, tapi ditadabburi, direnungi, dan diamalkan.

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ

    1. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

     

    “Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi apa yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
    (QS. Yunus: 57)

    Al-Qur’an membersihkan hati dari:

    • Keraguan, karena ia membawa kebenaran.
    • Syahwat, karena ia menanamkan taqwa.
    • Kelalaian, karena ia menggugah kesadaran.

    Al-Qur’an adalah cermin ruhani, tempat kita melihat wajah sejati diri kita. Bila dibaca dengan khusyuk, ia bisa membuat kita menangis, bertobat, dan berubah.

    1. Mengingat Kematian

    Kematian adalah pelajaran hidup terbesar.
    Tak ada yang lebih pasti dari kematian, dan tak ada yang lebih kita lalaikan darinya.

    “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (kematian).”
    (HR. Tirmidzi)

    Mengingat mati bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menyadarkan dan mengembalikan tujuan hidup. Ia mengikis kesombongan, menyentuh hati yang keras, dan mengembalikan orientasi ruhani kepada Allah SWT.

    Dengan mengingat mati:

    • Kita sadar bahwa waktu terbatas, dan amal sangat menentukan.
    • Kita akan lebih menjaga hati, lisan, dan perbuatan.
    • Kita akan lebih sering memohon ampunan, karena kita tahu akhir bisa datang tiba-tiba.
    1. Menghadiri Majelis Dzikir dan Ilmu

    Majelis dzikir adalah taman surga di dunia.
    Ia bukan hanya tempat membaca tasbih dan tahmid, tapi juga tempat ilmu disampaikan, ruhani disirami, dan hati dibersihkan.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir kepada Allah, kecuali mereka dikelilingi oleh para malaikat, diliputi oleh rahmat, dan diturunkan kepada mereka ketenangan. Allah pun menyebut mereka di hadapan makhluk-makhluk-Nya (para malaikat).”
    (HR. Muslim)

    Majelis dzikir adalah tempat kesadaran ruhani ditanamkan, niat diluruskan, dan iman diperbarui. Hati yang gersang akan kembali sejuk ketika sering hadir di tempat-tempat suci tersebut.

     

    1. Hati yang Bersih: Sumber Kebaikan Dunia-Akhirat

    Hati yang bersih akan:

    • Mudah menerima kebenaran.
    • Tunduk kepada kehendak Allah.
    • Peka terhadap dosa dan kelalaian.
    • Lembut kepada sesama.
    • Tenang dalam ujian, syukur dalam nikmat.

    Allah SWT berfirman:

    “(Yaitu) pada hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
    (QS. Asy-Syu’ara: 88–89)

    Hati yang bersih adalah modal utama menuju Allah. Amal tanpa hati yang ikhlas dan bersih hanyalah seperti tubuh tanpa ruh.

     

    Penutup: Mari Kita Bersihkan Hati Kita

    Wahai saudaraku yang dirahmati Allah,
    Bila selama ini hati terasa berat untuk beribadah, itu bukan karena dunia yang terlalu kuat, tapi karena kita terlalu lama menjauh dari cahaya Allah.

    Mari kita mulai langkah kecil:

    • Buka mushaf setiap hari, meski hanya 10 ayat.
    • Luangkan waktu beberapa menit merenungkan mati.
    • Hadiri majelis ilmu dan dzikir, walau seminggu sekali.

    Karena hidup yang paling tenang adalah hidup bersama Allah,
    dan jiwa yang paling damai adalah jiwa yang dekat dengan-Nya.

    “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan menjadikannya paham terhadap agama.”
    (HR. Bukhari)

     

    Jika artikel ini bermanfaat, jangan simpan sendiri. Bagikan kepada saudaramu. Karena membersihkan hati adalah tanggung jawab setiap mukmin. Hanya hati yang bersih yang akan memancarkan cahaya cinta Ilahi, dan membawa pemiliknya menuju surga yang abadi.

     

    Semoga Allah menjadikan hati kita bersih, lembut, penuh cahaya, dan selalu rindu kepada-Nya.

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top