Ustadzfaqih • Jun 27 2025 • 55 Dilihat

Bulan Allah dan Hari yang Membuka Ampunan: Menyambut Keberkahan Muharram dan Asyura
“Awal tahun adalah momentum memulai kembali, dan bulan Muharram adalah kesempatan menanam kebaikan di ladang yang suci.”
Awal Baru di Bulan yang Dimuliakan
Ketika matahari hijrah dari tahun ke tahun dalam kalender Hijriyah, umat Islam kembali dipertemukan dengan Muharram, bulan pertama yang bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga simbol kehormatan, pengampunan, dan pembuka gerbang amal saleh. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah yaitu Muharram.”
(HR. Muslim)
Muharram adalah bulan Allah — gelar yang tak diberikan kepada bulan lain — yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan dan kesuciannya. Sebagai salah satu dari empat bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab), bulan ini mengajarkan umat untuk menahan diri, memperbanyak amal, dan menjauhi dosa, karena di bulan ini ganjaran dan hukuman dari setiap perbuatan dilipatgandakan.
Muharram: Bulan Hijrah Menuju Kedamaian Jiwa
Bulan ini bukan hanya sekadar permulaan kalender, tetapi juga pengingat akan perjalanan hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah — sebuah transformasi peradaban dari keterjajahan menuju kemuliaan. Maka, Muharram mengajak kita berhijrah secara ruhani: dari lalai menuju sadar, dari cinta dunia menuju cinta Allah, dari gelapnya dosa menuju cahaya taubat.
Setiap orang butuh hijrah. Bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah hati.
“Hijrah sejati adalah meninggalkan apa yang dilarang Allah.”
(HR. Bukhari & Muslim)
Muharram mengajarkan bahwa hijrah bukanlah pilihan, tetapi keharusan. Tanpa hijrah, jiwa akan terpenjara. Dengan hijrah, jiwa akan merdeka, bertemu kembali dengan fitrah.
Asyura: Hari Agung, Hari Ampunan
Puncak kemuliaan Muharram terdapat pada hari ke-10: Hari Asyura. Hari ini menyimpan sejarah besar: Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kejaran Fir’aun yang zalim. Hari Asyura adalah simbol kemenangan kebenaran atas kebatilan, kesabaran atas tekanan, dan keyakinan atas ketidakmungkinan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.”
(HR. Muslim)
Sungguh, betapa murahnya rahmat Allah. Hanya dengan satu hari berpuasa — tanpa perlu banyak biaya atau usaha berat — dosa setahun lalu diampuni. Namun bukan hanya itu yang kita cari. Lebih dalam dari itu, Asyura adalah hari muhasabah, hari kembali kepada Allah, hari menata niat, dan memperbaharui komitmen hidup dalam cahaya tauhid.
Belajar dari Musa, Meneladani Husain
Di hari Asyura pula, kita mengenang dua figur luar biasa dalam sejarah Islam:
Ia simbol keberanian dalam menghadapi ketidakadilan. Ia berdiri tegak di hadapan Fir’aun yang congkak, hanya bersenjatakan iman dan doa:
“Hasbunallahu wa ni’mal wakil.”
Dari Musa kita belajar bahwa iman bisa membelah lautan, dan pertolongan Allah selalu dekat bagi mereka yang sabar.
Syahidnya cucu Rasulullah ﷺ di Karbala pada hari Asyura menjadi simbol keteguhan dan ketulusan dalam mempertahankan kebenaran, meski harus dibayar dengan darah. Ia memilih mati mulia daripada hidup dalam kehinaan.
Dari Husain kita belajar bahwa kejujuran dalam prinsip lebih mahal daripada keselamatan jasad, dan bahwa keberanian bukan sekadar menghadapi pedang, tapi menolak tunduk pada kebatilan.
Refleksi Ruhani: Apa yang Harus Kita Lakukan?
Penutup: Sebuah Doa dan Harapan
Semoga Allah jadikan tahun baru Hijriyah ini tahun penuh keberkahan, dan semoga kita tidak hanya bertambah usia, tetapi juga bertambah iman, amal, dan akhlak.
اللّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا العَامَ خَيْرًا مِمَّا مَضَى، وَاجْعَلْ مَا بَقِيَ مِنْ أَعْمَارِنَا خَيْرًا مِمَّا مَضَى
“Ya Allah, jadikanlah tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dan jadikanlah sisa umur kami lebih baik dari yang telah lalu.”
Mari jadikan Muharram dan Asyura sebagai momentum hijrah spiritual dan sosial — menuju pribadi yang bertakwa, masyarakat yang bersatu, dan umat yang kembali hidup dalam naungan rahmat Allah.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.