Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • “Meminta Hanya Kepada-Nya, dan Jangan Beramal Karena Dorongan Nafsu”

    Jun 25 202553 Dilihat

    “Meminta Hanya Kepada-Nya, dan Jangan Beramal Karena Dorongan Nafsu”

    Renungan Sufi Bersama Sayyid Abdul Qadir al-Jailani

    Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.

    “Mintalah hanya kepada Allah, dan jangan engkau beramal karena dorongan nafsumu. Karena amal yang lahir dari nafsu tidak akan membawamu mendekat, justru menjauhkanmu dari Tuhanmu.”
    — Sayyid Abdul Qadir al-Jailani, Futuhul Ghaib

    1. Jalan Tauhid: Meminta Hanya kepada Allah

    Salah satu fondasi utama dalam ajaran tasawuf adalah kebergantungan total hanya kepada Allah. Sayyid Abdul Qadir al-Jailani dengan tegas melarang kita bergantung pada makhluk, sekalipun mereka tampak mampu memberi bantuan.

    “Siapa yang menggantungkan hatinya kepada makhluk, maka hatinya akan tercabik dan jiwanya akan gundah. Tapi siapa yang hanya meminta kepada Allah, ia akan tenang dan cukup.”

    Meminta hanya kepada-Nya adalah:

    • Menyadari bahwa hanya Allah yang memberi manfaat dan mudarat.
    • Mengosongkan hati dari harapan kepada makhluk.
    • Meyakini bahwa semua rezeki, keselamatan, pertolongan, dan keberkahan berasal dari Allah semata.

    Al-Jailani menegaskan, ketika seorang hamba telah benar-benar bertauhid, maka ia akan:

    • Tidak panik dalam kesulitan, karena ia tahu Allah Mahakuasa.
    • Tidak terlalu bergembira pada pemberian makhluk, karena ia tahu siapa Pengutusnya.
    • Tidak kecewa pada manusia, karena ia tidak berharap dari mereka.

     

    1. Bahaya Amal yang Didorong Nafsu

    Al-Jailani juga memperingatkan agar kita tidak beramal karena dorongan nafsu. Ini adalah nasihat yang sangat penting dan dalam, karena nafsu sangat pandai menyusup ke dalam ibadah — membuat kita shalat untuk dipuji, sedekah untuk dihormati, berdakwah untuk popularitas, atau bahkan berzikir untuk merasakan kelezatan spiritual duniawi.

    “Amal yang dibangun atas dorongan nafsu akan melahirkan kesombongan, riya’, dan pengharapan kepada makhluk.”
    Futuhul Ghaib

    Ciri-ciri amal karena nafsu:

    • Dilakukan agar terlihat saleh di mata orang.
    • Dipamerkan di media sosial tanpa keikhlasan.
    • Ditinggalkan ketika tidak dilihat orang.
    • Menjadi marah atau kecewa ketika tidak dihargai.
    1. Amal yang Lahir dari Keikhlasan

    Sebaliknya, amal yang lahir karena dorongan iman dan keikhlasan akan bersih, tenang, dan berkah. Orang yang beramal karena Allah:

    • Tidak peduli dilihat atau tidak.
    • Tidak mencari balasan dunia.
    • Tidak silau oleh pujian dan tidak goyah oleh celaan.

    “Amal orang yang ikhlas tidak akan pernah sia-sia. Walaupun tak diketahui manusia, ia dikenal oleh para malaikat dan diterima oleh Tuhan semesta alam.”
    — Al-Jailani

    1. Dua Prinsip Hidup Seorang Wali

    Sayyid Abdul Qadir al-Jailani mengajarkan bahwa orang yang ingin dekat kepada Allah harus menegakkan dua prinsip:

    1. Jangan meminta kepada selain Allah.
      Bukan hanya soal permintaan lisan, tetapi juga harapan dan ketergantungan hati. Bahkan sekadar rasa lebih tenang saat dibantu manusia pun bisa menjadi bentuk syirik khafi (tersembunyi) jika tidak disertai kesadaran bahwa hakikatnya itu dari Allah.
    2. Jangan beramal karena nafsu.
      Semua amal harus dimurnikan niatnya, bukan demi kepuasan diri, status sosial, atau pencapaian spiritual semata, tapi semata-mata mencari ridha Allah.

     

    1. Cara Membersihkan Amal dari Nafsu

    Al-Jailani memberikan bimbingan untuk menyucikan amal:

    • Periksa niat sebelum beramal. Tanya diri sendiri: “Apakah ini karena Allah, atau karena ingin dikagumi?”
    • Latih diri untuk beramal dalam kesunyian. Agar terbiasa hanya berhubungan dengan Allah, bukan dengan makhluk.
    • Jangan berharap balasan langsung. Biarkan Allah yang menilai dan memberi ganjaran, kapan pun Dia kehendaki.
    • Perbanyak istighfar setelah beramal. Karena kita tidak pernah tahu seberapa banyak niat yang telah tercemari.

     

    1. Penutup: Menjadi Kekasih Allah

    “Siapa yang membersihkan niat dan hanya bergantung kepada Allah, maka dia akan menjadi wali Allah yang sejati. Ia tidak dikendalikan oleh dunia, dan dunia pun tunduk kepadanya.”
    — Sayyid Abdul Qadir al-Jailani

    Mintalah hanya kepada-Nya. Jangan beramal karena egomu. Bersihkan hati. Luruskan niat. Tinggalkan riya’. Lupakan dunia. Hanya Allah — hanya Dia.

    Inilah jalan para wali, jalan orang-orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya. Jalan yang sepi, tapi terang. Jalan yang penuh ujian, tapi penuh cahaya.

     

    Doa Penutup

    “Ya Allah, ajarkan kami untuk hanya bergantung kepada-Mu. Bersihkan niat kami dari kotoran nafsu. Jadikan setiap amal kami semata-mata karena Engkau, dan terimalah amal kami meski penuh kekurangan.”
    Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top