Ustadzfaqih • Jun 25 2025 • 58 Dilihat

Makna Tauhid: Abaikan Apa pun Selain Dia
Renungan Bersama Sayyid Abdul Qadir al-Jailani
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sebagian orang mengira tauhid hanya sebatas mengenal Allah secara rasional: meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah. Namun menurut para wali dan arifin seperti Sayyid Abdul Qadir al-Jailani, tauhid sejati adalah pengosongan hati dari segala sesuatu selain Allah.
“Kamu tidak disebut orang yang bertauhid selama masih bergantung pada makhluk, mengharap selain Allah, dan takut kepada selain Dia.”
— Futuhul Ghaib
Dalam bahasa lain, beliau mengatakan:
“Tauhid itu mencabut akar ketergantungan pada makhluk dari hatimu, sampai hanya tersisa Allah.”
Tauhid bukan hanya “mengucapkan” la ilaha illallah — tetapi membenamkan makna “tiada selain Allah” ke dalam setiap detak hati.
Ketika al-Jailani berkata:
“Abaikan apa pun selain Dia.”
Beliau mengajak kita kepada inti tauhid, yaitu:
Ini bukan berarti menjadi manusia yang pasif atau antisosial. Justru ini adalah puncak kebebasan spiritual — ketika hati hanya tunduk kepada Allah, bukan kepada tekanan dunia, opini manusia, atau bujukan nafsu.
“Orang yang bertauhid sejati akan tegar di hadapan musuh, tenang di tengah kesulitan, dan teguh di atas kebenaran, karena ia hanya melihat Allah.”
— Sayyid Abdul Qadir al-Jailani
Apa yang dimaksud dengan “selain Dia” yang harus diabaikan?
Al-Jailani mengingatkan:
“Siapa yang bergantung kepada makhluk, dia akan dikecewakan. Tapi siapa yang bergantung kepada Allah, dia akan dimuliakan.”
Al-Jailani juga menekankan bahwa tauhid sejati tidak cukup dengan meninggalkan yang haram, tapi juga meninggalkan kehendak diri jika bertentangan dengan kehendak Allah.
“Kamu belum bertauhid sampai kehendakmu tidak mengalahkan kehendak Allah.”
Ini adalah maqam yang tinggi — disebut sebagai fana’ fi al-tauhid — meleburnya kehendak pribadi dalam kehendak Ilahi. Orang seperti ini tidak marah ketika gagal, tidak sombong ketika berhasil, dan tidak gelisah ketika diuji. Ia hanya memikirkan: “Apa yang Allah inginkan dariku sekarang?”
Jika seseorang mengabaikan segala selain Allah, dan hatinya lurus menuju-Nya, maka ia akan mendapat:
“Hamba yang sempurna adalah yang tidak melihat apa pun selain Allah, tidak berharap dari selain Allah, dan tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah.”
— Al-Jailani
Penutup: Jalan Panjang Menuju Tauhid Hakiki
Tauhid bukan hanya kalimat, tapi jalan hidup. Ia adalah latihan harian: melawan ego, menolak kesyirikan tersembunyi, dan terus membersihkan hati.
Sayyid Abdul Qadir al-Jailani mengajak kita untuk:
“Jadilah orang yang jika semua makhluk menentangmu, kamu tetap tenang — karena hatimu hanya melihat Allah.”
— Futuhul Ghaib
Doa Penutup
“Ya Allah, ajarkan kami makna tauhid sejati. Jauhkan kami dari ketergantungan kepada selain Engkau. Bersihkan hati kami dari syirik tersembunyi. Jadikan Engkau satu-satunya Tujuan, Harapan, dan Sandaran hidup kami.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
( Penulis, Pendidik dan Konsultan SDM. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.