Ustadzfaqih • Jun 25 2025 • 62 Dilihat

“Menjadi Anak Dunia atau Anak Akhirat?” — Renungan dari Futuhul Ghaib
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
“Jadilah kamu anak akhirat, jangan menjadi anak dunia. Karena anak dunia akan celaka, sedangkan anak akhirat akan bahagia dan mulia.”
— Sayyid Abdul Qadir al-Jailani, Futuhul Ghaib
Dalam kitab Futuhul Ghaib, Sayyid Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan bahwa manusia hidup di antara dua alam: alam dunia yang sementara, dan alam akhirat yang kekal. Beliau menyebut, manusia akan menjadi anak dari apa yang ia cintai, ia tuju, dan ia usahakan.
Al-Jailani menggambarkan anak dunia sebagai sosok yang tertipu oleh gemerlap dunia, hingga hatinya terikat pada yang fana. Ia memandang dunia sebagai tempat tujuan, bukan tempat singgah. Ia sibuk membangun istana dunia, namun lupa menyiapkan rumah di akhirat.
“Hatinya dipenuhi oleh syahwat dan nafsu, amalnya untuk dirinya sendiri, lisannya memuji dunia, dan matanya buta terhadap akhirat.” — (Futuhul Ghaib)
Mereka ini:
Sayyid al-Jailani memperingatkan: anak dunia akan kehilangan segalanya, karena ketika mati, seluruh hartanya ditinggal, dan ia hanya membawa penyesalan.
Sebaliknya, anak akhirat adalah mereka yang menjadikan dunia sebagai ladang amal, bukan tempat berpesta. Mereka bekerja, berusaha, bahkan mungkin kaya — tetapi hati mereka selalu terpaut kepada Allah. Dunia hanya di tangan, bukan di hati.
Ciri-ciri anak akhirat menurut al-Jailani:
“Jadikan dunia di tanganmu, jangan di hatimu. Gunakan dunia sebagai alat menuju Allah, bukan sebagai tujuan yang melalaikan.”
— Futuhul Ghaib
Anak akhirat adalah mereka yang tahu bahwa:
Sayyid Abdul Qadir al-Jailani bukan berarti memerintahkan umat untuk meninggalkan dunia sepenuhnya. Beliau justru menyeru agar kita hidup di dunia, namun berhati akhirat. Kita tetap bekerja, berumah tangga, bersosialisasi — tapi semua itu dilakukan dalam bingkai takwa dan kesadaran akan akhirat.
“Carilah dunia dengan tanganmu, tapi jangan sampai hatimu tercemari oleh cinta dunia.”
— Futuhul Ghaib
Ini adalah jalan para wali Allah — mereka menapaki dunia, tapi langkah mereka menuju surga. Mereka mengambil dunia seperlunya, dan menyedekahkan sisanya. Mereka tidak bergantung pada makhluk, karena hanya Allah tempat mereka berharap.
Sayyid Abdul Qadir al-Jailani mengakhiri nasihatnya dengan panggilan yang menggugah:
“Wahai manusia, sadarlah! Dunia hanya bayangan yang menipu, sedangkan akhirat adalah hakikat. Jangan tertipu oleh yang sementara dan melalaikan yang abadi.”
Kini saatnya kita bertanya pada diri sendiri:
Penutup
Menjadi anak dunia atau anak akhirat bukan soal status sosial atau seberapa banyak harta yang dimiliki. Itu soal hati — kepada siapa ia bergantung, kepada apa ia condong. Dunia hanya tempat ujian, dan waktu kita di sini sangat singkat. Maka, mari kita gunakan sisa umur ini untuk menjadi anak akhirat — agar saat dunia ditinggal, kita tak menyesal.
“Beruntunglah orang yang hidupnya sederhana, tapi hatinya bercahaya karena Allah.”
— Sayyid Abdul Qadir al-Jailani
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.