Ustadzfaqih • Jun 14 2025 • 110 Dilihat

Lima Tipe Manusia dalam Kehidupan: Dari Bejat hingga Cemerlang
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Di sepanjang jalan kehidupan, manusia terbagi menjadi berbagai tipe. Pembagian ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengajak setiap jiwa merenung: aku termasuk tipe manusia yang mana?
Ada lima tipe manusia. Mari kita telusuri satu per satu secara mendalam:
Ini adalah tipe manusia terendah secara moral. Ia hidup tanpa nilai, tanpa malu berbuat dosa. Ia menghalalkan segala cara demi nafsunya, bahkan jika harus merugikan sesama. Dalam Islam, tipe ini termasuk yang disebut sebagai “nafsu ammarah bis-su’” — jiwa yang selalu memerintahkan kepada kejahatan.
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.”
(QS. Yusuf: 53)
Mereka hidup dalam gelap, karena menjauhi cahaya hidayah. Namun bukan berarti tidak bisa berubah. Selama masih bernyawa, taubat dan perubahan selalu terbuka.
Tipe ini tidak bejat secara moral, tetapi terjebak dalam keakuan. Semua hal dinilai dari keuntungan pribadi. Mereka tidak peduli perasaan orang lain, apalagi kepentingan bersama. Bahkan kebaikan yang ia lakukan pun hanya agar dianggap baik, bukan karena ketulusan.
“Celakalah orang-orang yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4-6)
Manusia egois sering tampak sukses di luar, tetapi miskin empati dan rapuh secara batin. Ia belum menemukan makna hidup yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Inilah tipe yang mulai menemukan jati diri sejati. Ia memiliki prinsip, etika, dan nilai. Ia berkata jujur meski menyakitkan. Ia bisa dipercaya. Ia tidak terombang-ambing oleh kepentingan sesaat. Karakter adalah fondasi dari segala pencapaian yang bermakna.
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Abu Dawud)
Tipe ini menjadi penopang kebaikan dalam masyarakat. Mereka tidak hanya berbicara, tapi memberi contoh.
Berkarakter saja tidak cukup, harus ada aksi. Manusia pejuang adalah mereka yang berani melangkah, yang siap berkeringat dan terluka demi cita-cita mulia. Mereka menghadapi tantangan dengan keteguhan dan menyerahkan hasil pada Allah SWT.
“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan tujuannya.”
(HR. Bukhari)
Pejuang sejati adalah mereka yang beramal dalam sunyi, bekerja tanpa pamrih, dan berdoa dalam tangis. Mereka tidak menyerah karena tahu: hasil akhir milik Allah.
Ini adalah puncak dari tangga kemanusiaan. Mereka tidak hanya baik untuk diri sendiri, tapi memberi cahaya untuk orang lain. Mereka menjadi inspirasi, tempat bertanya, dan suluh bagi yang tersesat. Cemerlang bukan karena harta, tapi karena hikmah, keikhlasan, dan kontribusi.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.”
(HR. Ahmad)
Cahaya manusia cemerlang bukan berasal dari lampu sorot dunia, tapi dari nur iman dan ikhlas. Mereka hidup untuk memberi, dan kelak dikenang karena kebermanfaatannya.
Penutup: Kita Mau Jadi Tipe yang Mana?
Kelima tipe ini bukan takdir tetap, tetapi pilihan hidup. Hari ini kita bisa jatuh dalam keegoisan, tapi esok bisa bangkit menjadi pejuang. Hari ini kita mungkin tersesat, tapi besok bisa menjadi cahaya bagi orang lain.
Refleksikanlah:
Hiduplah untuk menjadi manusia cemerlang.
Karena dunia ini terlalu singkat untuk dihabiskan sebagai manusia bejat atau egois.
Jadilah cahaya di tengah gelap. Jadilah manfaat bagi semesta.
Manusia yang Seluruh hidupnya akan diinfaqkan untuk perjuangan dalam rangka mewujudkan keyakinannya kepada Allah dan Rasul-Nya dan benar memahami hakikat kehidupan ini dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup ini dan kemana kita akan kembali.
Dalam kehidupan ini, setiap manusia pada akhirnya akan dihadapkan pada tiga pertanyaan paling mendasar—tiga poros eksistensial yang akan menentukan makna hidupnya:
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar kontemplasi filsafat, tetapi inti dari aqidah Islam. Siapa yang bisa menjawabnya dengan benar, maka ia akan menjalani hidup dengan arah yang jelas, penuh semangat, dan penuh keberkahan.
Manusia yang Menginfaqkan Hidupnya
“Seluruh hidupnya akan diinfaqkan untuk perjuangan dalam rangka mewujudkan keyakinannya tersebut.”
Inilah tipe manusia unggul dalam Islam: mereka yang hidupnya dipersembahkan untuk Allah. Mereka tidak hidup untuk dunia, tapi menjadikan dunia sebagai alat menuju akhirat.
Menginfaqkan hidup bukan hanya soal harta. Ia berarti:
Mereka inilah manusia pejuang sekaligus manusia cemerlang. Mereka menjadikan seluruh hidupnya ladang amal.
Mewujudkan Keyakinan: Iman yang Hidup
Iman bukan sekadar kata di lisan. Ia adalah daya gerak yang mengubah hidup, yang menggerakkan langkah, menuntun keputusan, bahkan mengarahkan seluruh pengorbanan.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka: Janganlah kamu takut dan jangan bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
(QS. Fussilat: 30)
Manusia seperti inilah yang layak disebut sebagai:
Menjawab Tiga Pertanyaan Besar
Kita berasal dari Allah. Diciptakan dengan maksud dan tujuan luhur. Tidak ada yang tercipta sia-sia.
“Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakanmu dengan main-main (tanpa tujuan), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
(QS. Al-Mu’minun: 115)
Kesadaran asal-usul ini akan mencegah manusia dari menjadi “makhluk bejat” atau “manusia egois”.
Hidup ini untuk menyembah Allah, bukan menyembah dunia. Tujuannya adalah pengabdian, perjuangan, dan kebermanfaatan.
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Maka setiap waktu harus menjadi ibadah yang bernilai, bukan hanya ritual.
Kita akan kembali kepada Allah, mempertanggungjawabkan seluruh hidup ini. Semua amal akan ditimbang. Dan hanya mereka yang menginfakkan hidupnya untuk iman yang akan selamat.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27-28)
Penutup: Hidup Sebagai Jalan Infaq dan Perjuangan
Manusia yang paham makna hidupnya tidak akan menyia-nyiakan satu detik pun. Ia sadar bahwa dunia ini hanya jembatan menuju keabadian. Maka seluruh hidupnya ia niatkan untuk mewujudkan keyakinannya: bahwa hidup ini hanya untuk Allah, dan mati adalah kepulangan mulia.
Jadilah manusia yang seluruh hidupnya menjadi infaq perjuangan.
Bukan hanya hartamu yang menjadi sedekah, tapi juga waktumu, suaramu, dan jejak kakimu di jalan Allah.
“Hidup bukan untuk mengoleksi dunia, tapi untuk menanam amal menuju akhirat.”
– Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
( Penulis, Pendidik, Pemerhati Masalah Sosial dan Pendidikan. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.