Ustadzfaqih • Jun 04 2025 • 89 Dilihat

Tips Memulai Tulisan: Disenangi, Dikuasai, dan Dialami
Menulis dari Hati agar Sampai ke Hati
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Mukadimah: Jangan Tunggu Sempurna, Tapi Mulailah dari Yang Dekat dengan Jiwa
Banyak orang ingin menulis, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ada yang merasa tulisannya tidak layak. Ada yang takut dianggap tidak berilmu. Padahal, menulis bukan soal siapa paling pandai, tapi siapa yang paling jujur dalam menuangkan isi hati dan pikirannya.
Menulis tidak harus dimulai dari yang besar. Tidak perlu langsung menulis buku berjilid-jilid. Mulailah dari sesuatu yang disenangi, dikuasai, dan dialami. Tiga kunci ini adalah pintu masuk untuk membuka keran ide dan menjadikan tulisan lebih hidup dan bermakna.
“Hati itu akan hidup dengan apa yang dicintainya.” – (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah)
Menulis tentang sesuatu yang kita sukai akan membuat proses menulis menjadi menyenangkan. Tulisan akan mengalir dengan mudah, tanpa beban. Bahkan ketika belum sempurna, semangat kita tetap tinggi karena ada rasa cinta di balik kata-kata itu.
Apakah Anda menyukai kisah sejarah? Tafsir Qur’an? Catatan perjalanan? Motivasi spiritual? Pendidikan anak? Mulailah dari sana. Jangan paksakan diri menulis tema yang membuat hati mati.
Menulis tentang yang disenangi akan membuat Anda bertahan dalam proses, bukan cepat bosan dan menyerah.
Setelah menulis dari hal yang disenangi, pastikan juga Anda menguasainya. Ini bukan berarti harus menjadi pakar, tapi Anda memiliki pengetahuan yang cukup untuk membahas topik itu dengan percaya diri dan bertanggung jawab.
Menulis sesuatu yang tidak dikuasai akan membuat tulisan dangkal dan mudah goyah. Sebaliknya, ketika kita menulis berdasarkan ilmu, hasilnya akan bercahaya dan meyakinkan.
“Barangsiapa berkata tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka ia telah salah walau benar.”
(HR. Abu Dawud)
Menulis yang benar membutuhkan landasan ilmu agar tidak menyesatkan. Ilmu akan membuat tulisan bernilai, bukan hanya opini kosong.
Pengalaman pribadi memiliki daya sentuh luar biasa. Ia menjadikan tulisan otentik, menyentuh, dan menyapa jiwa pembaca. Tulisan yang dialami akan membuat pembaca berkata, “Ini real. Ini saya banget.”
Tulis pengalaman spiritualmu. Tulis perjuanganmu mengatasi masalah. Tulis kisahmu bangkit dari keterpurukan. Jadikan pengalaman itu sebagai cermin pembelajaran, bukan sekadar cerita.
“Sebaik-baik pengalaman adalah yang menghidupkan iman dan membuka jalan kembali kepada Allah.”
(Said al-Nursi)
Dengan menulis yang pernah dialami, kamu akan lebih mudah menghadirkan emosi, ketulusan, dan kekuatan dalam narasi.
Menulis Itu Ibadah Jika Niatnya Lillahi Ta’ala
Jangan takut memulai. Jangan tunda-tunda. Ingat, tulisanmu bisa menjadi saksi amal, pengingat diri, dan penyemangat orang lain. Bahkan tulisan sederhana bisa menjadi ladang pahala jika ditulis dengan niat yang benar.
“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.”
(HR. Muslim)
Tips Praktis: Memulai Tulisan Hari Ini
“Ya Allah, ilhamkan aku dengan kebaikan dan jauhkan dari kesesatan dalam menulis.”
Penutup: Tulis, Meski Satu Kalimat Sehari
Satu kalimat yang ditulis hari ini, bisa menjadi awal dari satu buku yang mencerahkan umat besok. Jangan tunda. Mulailah dari yang kamu senangi, kuasai, dan alami.
“Kata-kata yang ditulis dengan ikhlas akan terus hidup, meski penulisnya telah wafat.”
(Al-Hafidz as-Suyuthi)
Wallahu a’lam.
( Penulis Buku dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.