Ustadzfaqih • Jun 04 2025 • 68 Dilihat

Produktif dengan Waktu: Jangan Suka Menunda-Nunda!
Refleksi Ruhani tentang Nilai Waktu dan Amal yang Tidak Ditunda
Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Mukadimah: Waktu Adalah Kehidupan
Pernahkah kita menyadari bahwa setiap detik yang berlalu adalah bagian dari kehidupan yang tidak akan pernah kembali? Waktu bukan sekadar angka di jam dinding, tapi nafas kehidupan yang terus menipis. Dalam Islam, waktu bukan hanya amanah, tapi juga ladang pahala yang luar biasa jika dikelola dengan bijak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)
Betapa banyak orang yang sadar setelah kehilangan. Mereka menyesal karena telah menunda taubat, menunda kebaikan, menunda belajar, dan menunda ibadah. Sayangnya, penyesalan tidak bisa memutar waktu.
Menunda Adalah Ciri Orang Lalai
Sikap suka menunda-nunda (procrastination) seringkali lahir dari rasa malas, takut gagal, atau kurangnya kesadaran akan urgensi amal. Padahal, menunda kebaikan adalah bentuk pemborosan spiritual. Allah mengingatkan:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi…”
(QS. Ali Imran: 133)
Orang yang suka menunda bukan hanya kehilangan waktu, tapi juga kehilangan momentum keberkahan. Sebab, hidayah itu seperti cahaya pagi—datang perlahan, tapi bisa pergi seketika jika tidak ditangkap dengan segera.
Mengapa Kita Harus Segera Bertindak?
Kita tidak tahu apakah esok masih ada. Amal terbaik adalah yang dilakukan hari ini. Nabi ﷺ bersabda:
“Jika engkau berada di waktu sore, jangan tunggu pagi; dan jika engkau berada di waktu pagi, jangan tunggu sore. Gunakan waktu sehatmu sebelum sakit, dan hidupmu sebelum mati.”
(HR. Bukhari)
Semangat tidak akan selalu tinggi. Maka, saat hati kita tergerak untuk shalat, sedekah, membaca Qur’an, atau menolong sesama—lakukan saat itu juga. Iman naik turun, dan amal baik seringkali hanya muncul dalam “momen langka” yang harus segera direspons.
Iblis membisikkan, “Nanti saja, nanti ada waktu.” Tapi hakikatnya, penundaan hari ini adalah jalan menuju pelupaan esok hari. Maka, siapa yang tidak mulai hari ini, kemungkinan besar tidak akan mulai selamanya.
Waktu dan Amal: Dua Hal yang Tak Bisa Dipisahkan
Imam Hasan al-Bashri pernah berkata:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah hilang.”
Lihatlah para ulama salaf. Mereka mengisi waktu dengan amal, membaca, menulis, mengajar, beribadah, dan berdakwah. Mereka sadar bahwa setiap detik adalah peluang untuk mendekat kepada Allah. Kita pun bisa demikian—asal mau memulai dan menghentikan kebiasaan menunda.
Tips Mengatasi Kebiasaan Menunda Amal Kebaikan
Penutup: Mulai Sekarang, Jangan Nanti!
Waktu adalah makhluk Allah yang paling setia berjalan. Ia tidak bisa dihentikan, tidak bisa dikembalikan, dan tidak bisa ditawar. Maka, siapa yang bijak adalah mereka yang mengisi waktunya dengan amal. Jangan tunggu tua untuk taat. Jangan tunggu kaya untuk bersedekah. Jangan tunggu tenang untuk mengingat Allah.
Mulailah dari langkah kecil, hari ini. Saat ini. Karena kita tidak pernah dijanjikan akan sampai besok.
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ
“ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.(QS. Fussilat: 30)
Semoga kita menjadi orang-orang yang menghargai waktu, mempercepat kebaikan, dan meninggalkan warisan amal yang tak terputus.
Wallahu a’lam.
( Dr Nasrul Syarif M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo )
Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman Oleh: Dr. Nasrul Sy...
Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...
Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...
Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...
Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...
Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit Di setiap hati manusi...
No comments yet.