Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Menapaki Jalan Cahaya : Tujuh Kemuliaan Penuntut Ilmu Menurut Syeikh Nawawi Al-Bantani.

    Mei 12 2025117 Dilihat

    Menapaki Jalan Cahaya: Tujuh Kemuliaan Penuntut Ilmu menurut Syeikh Nawawi al-Bantani

    Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.

     

    “Ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan diberikan kepada hati yang gelap karena maksiat.”
    – Syeikh Nawawi al-Bantani

     

    Pendahuluan: Menuntut Ilmu Adalah Ibadah Sepanjang Hayat

    Di tengah zaman yang penuh distraksi dan hiruk-pikuk duniawi, sering kali manusia lupa bahwa belajar adalah ibadah yang tak pernah selesai. Menuntut ilmu bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi sarana untuk mendekat kepada Allah, memperbaiki diri, dan mencerahkan umat.

    Dalam kitab Nashoihul ‘Ibad, karya fenomenal ulama besar asal Nusantara, Syeikh Nawawi al-Bantani, disebutkan bahwa ada tujuh kemuliaan agung yang diberikan kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Tujuh kemuliaan ini bukan hanya penghormatan, tetapi juga tanda bahwa penuntut ilmu adalah pilar peradaban dan penerus cahaya kenabian.

     

    1. Didoakan oleh Para Malaikat yang Mulia

    “Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu.”
    (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)

    Bayangkanlah: malaikat, makhluk suci yang tidak pernah berdosa, merendahkan sayapnya sebagai bentuk penghormatan kepada para pencari ilmu. Ini bukan sekadar simbol. Ia merupakan pengakuan langit atas kemuliaan ilmu, dan sekaligus tanda bahwa penuntut ilmu berjalan di atas jalan para nabi.

    Jika malaikat saja mengagumi penuntut ilmu, mengapa kita masih enggan memuliakan proses belajar? Mengapa kita membiarkan anak-anak kita sibuk dengan hiburan, tetapi lalai dalam ilmu agama?

     

    1. Dimohonkan Ampunan oleh Makhluk di Langit dan Bumi

    Dalam Nashoihul ‘Ibad, Syeikh Nawawi menukil bahwa segala makhluk—bahkan ikan di lautan—memohon ampun untuk penuntut ilmu. Ini menggambarkan bagaimana kehadiran orang yang berilmu memberikan manfaat luas bagi seluruh ciptaan Allah.

    Ikan di laut, burung di udara, dan bahkan semut di sarangnya, semua mendoakan ampunan bagi orang yang belajar. Mengapa? Karena ilmu yang haq akan menuntun manusia pada keadilan, kasih sayang, dan pelestarian semesta.

    Menuntut ilmu berarti menghidupkan dunia. Maka, seluruh makhluk menyambut dengan rahmat.

     

    1. Warisan Para Nabi: Ilmu, Bukan Emas

    “Para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, ia mengambil bagian yang besar.”
    (HR. Abu Dawud)

    Para nabi tidak mewariskan kekayaan materi, tetapi mewariskan cahaya—yaitu ilmu. Maka penuntut ilmu bukanlah pengejar gelar, tetapi pewaris nubuwah (kenabian).

    Dalam pengertian ini, belajar agama, akhlak, dan ilmu-ilmu syar’i adalah bagian dari upaya meneruskan misi para Nabi. Bukan hal kecil, tetapi urusan besar yang menuntut ketekunan, keikhlasan, dan kesabaran.

     

    1. Dilingkupi oleh Sayap Para Malaikat

    Riwayat lain yang juga ditekankan oleh Syeikh Nawawi menyebutkan bahwa para malaikat menaungi penuntut ilmu dengan sayap-sayapnya sebagai bentuk penghormatan. Ini adalah simbol bahwa perlindungan dan rahmat senantiasa mengiringi proses belajar.

    Kadang kita lupa: menuntut ilmu itu berat, menuntut pengorbanan. Tapi jangan khawatir—langit ikut serta menjagamu.

     

    1. Jalan Ilmu Adalah Jalan Surga

    “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
    (HR. Muslim)

    Hadis ini menjadi kekuatan spiritual luar biasa bagi penuntut ilmu. Proses belajar itu tidak mudah: kadang harus begadang, melelahkan, penuh ujian. Tapi setiap langkahmu menuju majelis ilmu, adalah langkah menuju surga.

    Maka jangan pernah remehkan:

    • duduk di majelis ilmu,
    • membaca buku agama,
    • mendengarkan tausiyah,
    • atau bahkan menulis catatan keislaman.

    Setiap tinta yang kau tumpahkan demi ilmu bisa menjadi air penyejuk di akhirat kelak.

     

    1. Ilmu Menjadi Penentu antara Hak dan Batil

    Dalam dunia penuh opini, narasi palsu, dan kebingungan nilai, hanya dengan ilmu kita bisa membedakan mana yang benar dan salah. Syeikh Nawawi menekankan bahwa ilmu adalah cahaya yang menembus kegelapan zaman.

    Tanpa ilmu, seseorang bisa salah dalam ibadah, tergelincir dalam akidah, dan tersesat dalam hidup. Dengan ilmu, kita bisa menata hati, menjaga lisan, dan mengatur kehidupan sesuai ridha Allah.

     

    1. Derajat Tinggi di Dunia dan Akhirat

    “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kalian beberapa derajat.”
    (QS. Al-Mujadilah: 11)

    Kehormatan sejati bukan terletak pada pangkat atau jabatan, melainkan pada iman dan ilmu. Orang yang berilmu dijanjikan derajat tinggi oleh Allah, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.

    Syeikh Nawawi ingin umat sadar bahwa menuntut ilmu adalah salah satu jalan utama untuk diangkat derajatnya. Bahkan, dalam banyak tafsir, disebutkan bahwa di surga, tingkatannya pun bertingkat sesuai ilmu dan amal seseorang.

     

    Refleksi: Apakah Kita Sudah Menjadi Penuntut Ilmu Sejati?

    Menuntut ilmu dalam Islam bukan hanya kewajiban anak muda. Ia adalah ibadah seumur hidup. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal, di usia senjanya, masih tampak membawa tinta dan pena. Ketika ditanya, ia menjawab:

    “Aku akan terus belajar dari buaian hingga ke liang lahat.”

    Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memaknai proses belajar sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah? Ataukah kita hanya mengejarnya untuk nilai, gelar, dan pekerjaan?

     

    Penutup: Jadilah Cahaya di Tengah Kegelapan

    Syeikh Nawawi al-Bantani, ulama agung dari tanah Banten yang harum di Hijaz, meninggalkan warisan emas: memuliakan ilmu dan penuntut ilmu. Kitab Nashoihul ‘Ibad bukan hanya kitab nasihat, tetapi juga lentera kehidupan umat.

    Jika kita ingin membangun peradaban, mulai dari ilmu.
    Jika kita ingin melihat kebangkitan umat, bangkitkan semangat menuntut ilmu.
    Jika kita ingin generasi yang Rabbani, maka didik mereka dalam cahaya ilmu yang terhubung dengan langit.

    “Jadilah penuntut ilmu yang dirindukan langit, bukan hanya disanjung dunia.”

    (Dr. Nasrul Syarif, M.Si.)

    ( Penulis Buku dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    No comments yet.

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top