Categories
  • Artikel
  • Penerbitan dan Cetak Buku
  • Profil Penulis
  • Program Umrah
  • Test Bakat dan Potensi ASKHA
  • Tundukkan Hasrat, Tinggalkan Keraguan – Agar Kau Dilimpahi Rahmat.

    Mei 12 2025127 Dilihat

    Tundukkan Hasrat, Tinggalkan Keraguan — Agar Kau Dilimpahi Rahmat

    Oleh: Dr. Nasrul Syarif, M.Si.

     

    وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ

     “Dan adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”
    (QS. An-Nazi’at: 40–41)

    “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.”
    (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)

     

    Menyingkap Dua Gerbang Keselamatan: Hasrat dan Keyakinan

    Dalam kehidupan ini, setiap manusia diberi dua ujian besar yang menentukan jalan keselamatannya: ujian syahwat (hasrat) dan ujian syubhat (keraguan). Hasrat menyeret manusia pada kerakusan terhadap dunia, sedang syubhat menjerumuskannya dalam kebimbangan dan penyimpangan.

    Rasulullah ﷺ memberikan dua kunci emas dalam dua sabdanya yang mulia:

    1. Tundukkanlah syahwatmu.
    2. Campakkanlah yang meragukanmu.

    Kedua nasihat ini, bila dipahami dengan jernih dan diamalkan dengan tulus, akan mengantar jiwa pada ketenangan, keberkahan, dan akhirnya… dilimpahi rahmat dari langit.

     

    Hasrat: Anugerah yang Harus Dikendalikan

    Allah menciptakan manusia dengan hasrat: ingin makan, ingin dihargai, ingin dicintai, ingin memiliki. Semua itu bukanlah dosa. Bahkan, ia bisa menjadi jalan kebaikan bila dikendalikan.

    Namun, bila hasrat menjadi penguasa hati, ia akan menjelma menjadi syahwat yang menyesatkan. Itulah mengapa Islam menempatkan pengendalian hasrat sebagai pintu utama ketakwaan. Tanpa itu, ibadah hanya formalitas, dan amal hanya topeng dunia.

    Hasrat Tanpa Kendali: Jalan Menuju Kerusakan

    Dalam masyarakat modern, hasrat didorong secara masif—melalui iklan, media sosial, budaya konsumtif, hingga narasi populer. Kita diajak terus ingin lebih, lebih, dan lebih. Dan di sinilah ruhani manusia mulai terkikis: tenang berganti cemas, cukup berubah rakus, ridha menjadi iri.

    Padahal, ketenangan bukan hadir saat semua keinginan terpenuhi, tapi saat keinginan itu tunduk di bawah kendali iman.

    “Orang yang paling kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika sedang marah dan mengendalikan hawa nafsunya.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

     

    Keraguan: Kabut yang Menutupi Jalan Kebenaran

    Jika hasrat adalah dorongan dari dalam, maka keraguan adalah kabut yang datang dari luar. Ia muncul dari ketidakjelasan, dari berita yang tidak pasti, dari pilihan hidup yang tidak punya dasar iman. Ia menjebak hati dalam kebingungan.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Tinggalkanlah yang meragukanmu dan ambillah yang tidak meragukanmu.”
    (HR. At-Tirmidzi, hasan sahih)

    Hadits ini adalah prinsip hidup. Ia bukan hanya berlaku dalam hukum halal-haram, tapi dalam seluruh aspek kehidupan: pekerjaan, relasi, keputusan besar, hingga perkara ibadah. Apa pun yang membuat hatimu gelisah, tinggalkan. Apa yang membuat hatimu tenang karena selaras dengan cahaya iman, ambil dan jalani.

     

    Gabungan Kedua Jalan: Hati yang Bersih dari Nafsu dan Kabut

    Bila hati berhasil menundukkan hasrat, maka ia menjadi ringan. Bila ia mampu meninggalkan yang meragukan, maka ia menjadi jernih. Dan ketika ringan dan jernih itu bersatu, maka rahmat Allah turun dengan deras, tanpa penghalang.

    Inilah mengapa orang-orang saleh dahulu sangat menjaga kebersihan hati dari dua hal ini: syahwat dan syubhat. Mereka rela meninggalkan yang “dibolehkan tapi meragukan” demi mengejar yang “pasti dan menenangkan.”

     

    Tanda Orang yang Dilimpahi Rahmat

    • Ia tidak hidup mengikuti gelombang dunia, tetapi mengikuti cahaya petunjuk.
    • Ia tidak tergoda oleh apa yang berkilau, tetapi memilih yang berkah dan tenang.
    • Ia tidak silau oleh pujian, tidak gentar oleh celaan, karena hatinya tunduk hanya pada Allah.
    • Ia tidak menuruti semua keinginannya, tetapi menundukkannya agar selamat di akhirat.
    • Ia tidak melangkah dalam keraguan, tetapi menegaskan langkah hanya jika hatinya tenteram.

     

    Penutup: Jalan Keselamatan Jiwa

    Wahai jiwa yang rindu ketenangan, wahai hati yang haus akan cahaya…

    Tundukkanlah hasratmu—karena itulah jalan keselamatanmu dari rakusnya dunia.
    Tinggalkanlah yang meragukanmu—karena itulah cahaya yang akan menuntunmu di tengah kabut zaman.

    Di sanalah rahmat Allah akan turun: pada jiwa yang sabar, hati yang yakin, dan langkah yang jernih.
    Karena sejatinya, rahmat-Nya bukan untuk mereka yang memiliki segalanya, tapi untuk mereka yang mampu meninggalkan segala yang menjauhkan dari-Nya.

    “Tundukkan hasrat agar kau dilimpahi rahmat. Campakkan keraguan agar kau berjalan dalam cahaya.”

    ( Dr Nasrul Syarif M.Si.  Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo )

    Share to

    Related News

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti N...

    by Des 31 2025

    Jalan Menuju Cahaya Kebenaran : Meniti Nur Ilahi di Tengah Gelapnya Zaman   Oleh: Dr. Nasrul Sy...

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya...

    by Des 03 2025

    Ketika Nafsu Menang: Bahaya Sesungguhnya dalam Perjalanan Hamba Refleksi Mendalam atas Petuah Ibnu ...

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta

    by Des 03 2025

    Kita Adalah Tamu yang Dititipi Harta Sebuah Renungan Tentang Amanah, Kehidupan, dan Perjalanan Pulan...

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segal...

    by Des 03 2025

    Ridha Allah: Hadiah Tertinggi dari Segala Ketaatan Refleksi Mendalam atas Hikmah Ibnu ‘Athaillah a...

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari A...

    by Des 03 2025

    Kenali Cara Meraih Surga dan Lari dari Api Neraka Sebuah Renungan untuk Jiwa yang Ingin Selamat &nbs...

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memen...

    by Nov 30 2025

    Menjadi Sang Juara — The Winner: Memenangkan Hidup dengan Cara Langit   Di setiap hati manusi...

    • azka chusnayaina berkata:

      Artikel ini menyentuh inti perjuangan spiritual yang sangat penting: mengendalikan hawa nafsu dan menjernihkan hati dari keraguan. Tundukkan hasrat berarti mengontrol keinginan yang berlebihan agar tidak menjerumuskan pada perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Sementara itu, meninggalkan keraguan adalah langkah untuk memperkuat keimanan dan tawakal kepada Allah. Ketika seseorang berhasil menjalani kedua hal ini, rahmat Allah akan melimpah dalam kehidupannya—memberikan ketenangan, keberkahan, dan petunjuk. Artikel ini mengajak pembaca untuk introspeksi diri dan memperbaiki hubungan dengan Allah agar hidup penuh berkah dan damai.”

    • Tika Dayanti berkata:

      Hasrat yang tinggi akan menghepas keraguan yang ad didalam diri

    • Mutiara Ayu Ningtyas berkata:

      Hasrat dan syubhat merupakan hal yang terkadang kurang diperhatikan oleh segelintir orang karena kedua hal tersebut terkadang datang dalam bentuk yang seakan sepele dan sah” saja untuk dilakukan… Artikel yg sangat menarik karena terkadang edukasi mengenai hal seperti ini sering kali tidak terlalu diperhatikan padahal berkaitan dengan kehidupan sehari hari.

    • Tasya aida hafizah berkata:

      Artikelnya membuat saya sadar bahwa sesungguhnya musuh paling nyata adalah diri kita sendiri,dan beberapa perkara yang mengikutinya seperti hawa nafsu,dan lain lain.

    • afifatul faiza berkata:

      melawan hawa nafsu adalah peperangan yg sesungguhnya,semakin di turuti semakin menjadi jadi semakin tidak di turuti semakin bljr untuk tidak melakukannya

    • Diana Alfa Zahra Rahma berkata:

      Tulisan bpk sangat menyentuh dan membuka wawasan. Menundukkan hasrat dan mengikis keraguan memang bukan hal mudah, tapi dengan kesadaran spiritual, insyaAllah kita lebih dekat pada rahmat-Nya. Terima kasih atas inspirasinya, bapak.

    • Fiftina berkata:

      Menundukkan nafsu dan meninggalkan keraguan membuka jalan menuju rahmat Allah dan ketenangan hidup.

    • Rindang Rinjani berkata:

      Artikel yang sangat bermanfaat

    • Fadillah nurul ikhsani berkata:

      Terima kasih pak menambah pemahaman sekali

    • Ma'arif efendi berkata:

      Jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu supaya tidak maksiat

    Please write your comment.

    Your email will not be published. Fields marked with an asterisk (*) must be filled.

    *

    *

    back to top